Select Language: Bahasa Indonesia | English
© Halallifestyle.id

Budaya

Bakar Tongkang

  74      Simpan ke kalender 2018-06-28 09:00:00 2018-06-30 21:00:00 Asia/Jakarta Bakar Tongkang Bakar Tongkang adalah ritual tahunan untuk memperingati kedatangan warga Tionghoa ke tanah Bagansiapiapi dengan membakar tongkang (kapal). Dalam upacara yang dikenal dengan nama Go Gek Cap Lak dalam bahasa Hokian tersebut, tongkang yang dibakar menjadi simbol tekad warga Tionghoa di Bagansiapiapi untuk menetap dan mengembangkan diri di kota yang mendapat julukan Hong Kong van Andalas tersebut. Ritual tersebut dilestarikan oleh warga setempat sebagai upaya mengenang dan memperingati sejarah kedatangan nenek moyang mereka ke Bagansiapiapi.

Festival Bakar Tongkang diawali dengan sembahyang di klenteng Ing Hok Kiong yang merupakan klenteng tertua di kawasan Pekong Besar. Dengan membawa hio di tangan, warga menjalani ritual sembahyang, berdoa dan bernazar. Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan pawai atau arak-arakan ke tempat pembakaran, penetapan posisi haluan tongkang sesuai petunjuk Dewa Kie Ong Ya atau Dewa Laut, sang dewa penyelamat yang telah memberi petunjuk kepada nenek moyang mereka yang sempat tersesat di laut. Setelah peletakan tongkang pada posisi pembakaran serta peletakan kertas-kertas sembahyang di lambung kapal yang siap dibakar, tongkang yang memiliki tiang layar yang tinggi tersebut kemudian dibakar sampai tumbang. Arah tumbangnya tongkang diyakini masyarakat setempat sebagai arah datangnya rezeki dari laut. Selama ritual berlangsung, berbagai klenteng di Bagansiapiapi melakukan upacara pemanggilan roh. Beberapa warga setempat secara sukarela bersedia menjadi medium untuk dimasuki roh tersebut.

Acara adat Tionghoa yang sudah menyatu dengan masyarakat Bagansiapiapi ini menarik minat wisatawan nusantara dan mancanegara yang umumnya keturunan Tionghoa dan memiliki keluarga di Rokanhilir. Selama acara Bakar Tongkang, pemerintah daerah setempat menggelar bazar yang berpusat di Pujasera Bagansiapi-api. Bakar Tongkang is an annual ritual to commemorate the arrival of Chinese citizens to Bagansiapiapi land by burning tongkang (ships). In the ceremony known as Go Gek Cap Lak in the Hokian language, the burned barge became a symbol of determination of Chinese comunity in Bagansiapiapi to settle and develop themselves in the city also known as Hong Kong van Andalas.

The ritual is preserved by local residents as an effort to commemorate the history of the arrival of their ancestors to Bagansiapiapi. Barong Tongkang Festival begins with the prayer in Ing Hok Kiong temple which is the oldest temple in the Great Pekong area. The hio in their hand the residents undergo ritual prayer, praying and vowing. Furthermore, the event continues with a parade or procession to the kiln and the positioning of the bow lane according to the instructions of Kie Ong Ya or the God of the Sea, the god of salvation who had given instructions to their ancestors who got lost in the sea. After the barge is laid on the burning position and the prayer papers on the hull of a ready-to- burn vessel, the barge with its high mast was then burned to tumble.

The direction of the collapsed barge is believed by the local communities as the direction of the coming of sustenance from the sea. During the rituals, various pagodas in Bagansiapiapi perform a spiritual summoning ceremony. Some locals volunteer to be the medium for the spirit to enter their body.

This Tionghoa traditional event that has been blended with Bagansiapiapi societies attracts the interest of domestic tourists and foreigners who are generally of Chinese descents who have families in Rokanhilir. During the event, local government organizes a bazaar centered at Pujasera Bagansiapi-api.
Kota Bagansiapiapi - Kabupaten Rokan Hilir Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Riau disparekraf@riau.go.id
     315 views

28 - 30 Juni 2018 | 09:00 - 21:00

gratis

Bagansiapiapi, RIAU

Kota Bagansiapiapi - Kabupaten Rokan Hilir.
Lihat peta

Dikelola Oleh : Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Riau

Hubungi :  Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Riau ‑ disparekraf@riau.go.id | 0761-40356

Tautan :       

Bakar Tongkang adalah ritual tahunan untuk memperingati kedatangan warga Tionghoa ke tanah Bagansiapiapi dengan membakar tongkang (kapal). Dalam upacara yang dikenal dengan nama Go Gek Cap Lak dalam bahasa Hokian tersebut, tongkang yang dibakar menjadi simbol tekad warga Tionghoa di Bagansiapiapi untuk menetap dan mengembangkan diri di kota yang mendapat julukan Hong Kong van Andalas tersebut. Ritual tersebut dilestarikan oleh warga setempat sebagai upaya mengenang dan memperingati sejarah kedatangan nenek moyang mereka ke Bagansiapiapi.

Festival Bakar Tongkang diawali dengan sembahyang di klenteng Ing Hok Kiong yang merupakan klenteng tertua di kawasan Pekong Besar. Dengan membawa hio di tangan, warga menjalani ritual sembahyang, berdoa dan bernazar. Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan pawai atau arak-arakan ke tempat pembakaran, penetapan posisi haluan tongkang sesuai petunjuk Dewa Kie Ong Ya atau Dewa Laut, sang dewa penyelamat yang telah memberi petunjuk kepada nenek moyang mereka yang sempat tersesat di laut. Setelah peletakan tongkang pada posisi pembakaran serta peletakan kertas-kertas sembahyang di lambung kapal yang siap dibakar, tongkang yang memiliki tiang layar yang tinggi tersebut kemudian dibakar sampai tumbang. Arah tumbangnya tongkang diyakini masyarakat setempat sebagai arah datangnya rezeki dari laut. Selama ritual berlangsung, berbagai klenteng di Bagansiapiapi melakukan upacara pemanggilan roh. Beberapa warga setempat secara sukarela bersedia menjadi medium untuk dimasuki roh tersebut.

Acara adat Tionghoa yang sudah menyatu dengan masyarakat Bagansiapiapi ini menarik minat wisatawan nusantara dan mancanegara yang umumnya keturunan Tionghoa dan memiliki keluarga di Rokanhilir. Selama acara Bakar Tongkang, pemerintah daerah setempat menggelar bazar yang berpusat di Pujasera Bagansiapi-api.

Dari Jakarta, Anda bisa memilih penerbangan dengan rute Jakarta-Pekanbaru atau Jakarta-Dumai. Dari Pekanbaru, Bagansiapiapi dapat ditempuh melalui jalan darat dengan selama 6-7 jam. Anda dapat memilih bus dengan beragam tarif dan jam keberangkatan, taksi atau sewa mobil. Dari kota Dumai, Bagansiapiapi dapat ditempuh dengan menumpang minibus. Melewati rute baru Sinaboi, dari Dumai menuju Bagan hanya membutuhkan satu jam perjalanan.

Acara ini diposting oleh: Spektakel

diposting pada 9 Maret 2018



 
Disclaimer: Perubahan tanggal, pembatalan acara dapat terjadi dan bukan tanggung jawab dari Spektakel.id
 

Posting Terkait

Yadnya Kasada

29 - 30 Juni 2018
Probolinggo

Festival Lima Gunung

20 - 22 Juli 2018
Kabupaten Magelang

Parade Sandelwood dan Festival…

2 - 9 Agust 2018
Kabupaten Sumba Barat Daya

Dieng Culture Festival

3 - 5 Agust 2018
Banjarnegara

PopCon Asia

22 - 23 Sept 2018
Tangerang

 

 

Top