Budaya

Yadnya Kasada

  58      Simpan ke kalender 2018-06-29 19:00:00 2018-06-30 24:00:00 Asia/Jakarta Yadnya Kasada Untuk memohon keselamatan, kemakmuran dan tolak bala kepada Sang Hyang Widhi, Suku Tengger yang tersebar di 60 desa sekitar Gunung Bromo, meliputi Kabupaten Probolinggo, Lumajang, Pasuruan dan Malang, menggelar ritual Yadnya Kasada.

Di Pendapa Agung Desa Ngadisari, para tamu disuguhi musik gamelan dan pementasan tari Sembilan Dewa serta tari Roro Anteng dan Joko Seger. Tarian sakral tersebut mengisahkan legenda asal usul masyarakat Tengger. Urutan kisah dalam tarian dilakoni sesuai pakem. Masyarakat setempat meyakini bila tarian berubah maka akan mempengaruhi aktivitas Gunung Bromo.

Seusai malam resepsi, acara dilanjutkan dengan upacara Yadnya Kasada di Pura Agung, sejauh satu kilometer dari kawah Gunung Bromo. Ribuan umat Hindu Tengger mengenakan pakaian adat, berjalan kaki sejauh lima kilometer dari perkampungan menuju Pura Agung sejak pukul 24.00 WIB. Mereka berjalan beriringan sambil memanggul aneka hasil pertanian seperti sayur, buah dan kudapan khas dari tepung jagung yang disebut raka genep. Penganan yang memiliki simbol lelaki, perempuan dan anak tersebut adalah simbol kerukunan keluarga.

Selama semalaman, mereka berdoa di Pura Poten dipimpin oleh pimpinan umat Hindu Tengger. Guyuran hujan bahkan erupsi Gunung Bromo tidak menyurutkan umat Hindu Tengger menunaikan ritual persembahan mereka kepada Jaya Kusuma, putra sulung leluhur masyarakat Tengger yaitu Roro Anteng dan Joko Seger. Setelah berdoa, mereka berjalan menuju kawah Bromo dan melemparkan seluruh hasil bumi ke dalam kawah. Ritual Yadnya Kasada terus dilestarikan apa pun kondisinya, bahkan saat Bromo mengalami erupsi.

Sejak 2017 pemerintah daerah setempat menggelar festival seni budaya bertajuk Eksotika Bromo sebelum berlangsungnya ritual Yadnya Kasada. To pray for safety, prosperity and to repel misfortune to Sang Hyang Widhi, the Tenggerese people, whom spread in 60 villages around Mount Bromo, including Probolinggo, Lumajang, Pasuruan and Malang, hold the ritual of Yadnya Kasada.

In Pendapa Agung Ngadisari Village, guests are treated to gamelan music and dance performances of Sembilan Dewa (Nine Gods) and Roro Anteng dan Joko Seger dance. The sacred dance tells the legend of the origin of Tenggerese society. The order of the story in the dance is performed according to the standard. Local people believe that if the dance changes it will affect the activity of Mount Bromo.

After the reception night, the event continued with Yadnya Kasada ceremony in Pura Agung, one kilometer from the crater of Mount Bromo. Thousands of Tenggerese Hindus dressed in traditional clothing, walk five kilometers from the village to Pura Agung starting from midnight. They go hand in hand while carrying a variety of agricultural products such as vegetables, fruits and typical snacks made of corn flour called Raka Genep. These foods symbolize men, women and children, and are associated to harmony in the family.

During the night, they pray at Pura Poten led by the leader of Tenggerese Hindus. Rain bites or even eruption of Mount Bromo will not discourage Tenggerese Hindus from performing their ritual offerings to Jaya Kusuma, the eldest son of the Tenggerese ancestor, Roro Anteng and Joko Seger. After praying, they walk to the crater of Bromo and throw all the products into the crater. Yadnya Kasada ritual continues to be preserved no matter what, even when Bromo is erupted.

Since 2017, local government holds a cultural art festival called Exotika Bromo before the ritual Yadnya Kasada.
Pura Luhur Poten Bromo Probolinggo Ngadisari, Sukapura Probolinggo Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur info@disbudpar.jatimprov.go.id
     462 views

29 - 30 Juni 2018 | 19:00 - Selesai

gratis

Probolinggo, JAWA TIMUR

Pura Luhur Poten Bromo Probolinggo, Ngadisari, Sukapura Probolinggo.
Lihat peta

Dikelola Oleh : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur

Hubungi :  Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur ‑ info@disbudpar.jatimprov.go.id | 031- 8531816

Tautan :               

Untuk memohon keselamatan, kemakmuran dan tolak bala kepada Sang Hyang Widhi, Suku Tengger yang tersebar di 60 desa sekitar Gunung Bromo, meliputi Kabupaten Probolinggo, Lumajang, Pasuruan dan Malang, menggelar ritual Yadnya Kasada.

Di Pendapa Agung Desa Ngadisari, para tamu disuguhi musik gamelan dan pementasan tari Sembilan Dewa serta tari Roro Anteng dan Joko Seger. Tarian sakral tersebut mengisahkan legenda asal usul masyarakat Tengger. Urutan kisah dalam tarian dilakoni sesuai pakem. Masyarakat setempat meyakini bila tarian berubah maka akan mempengaruhi aktivitas Gunung Bromo.

Seusai malam resepsi, acara dilanjutkan dengan upacara Yadnya Kasada di Pura Agung, sejauh satu kilometer dari kawah Gunung Bromo. Ribuan umat Hindu Tengger mengenakan pakaian adat, berjalan kaki sejauh lima kilometer dari perkampungan menuju Pura Agung sejak pukul 24.00 WIB. Mereka berjalan beriringan sambil memanggul aneka hasil pertanian seperti sayur, buah dan kudapan khas dari tepung jagung yang disebut raka genep. Penganan yang memiliki simbol lelaki, perempuan dan anak tersebut adalah simbol kerukunan keluarga.

Selama semalaman, mereka berdoa di Pura Poten dipimpin oleh pimpinan umat Hindu Tengger. Guyuran hujan bahkan erupsi Gunung Bromo tidak menyurutkan umat Hindu Tengger menunaikan ritual persembahan mereka kepada Jaya Kusuma, putra sulung leluhur masyarakat Tengger yaitu Roro Anteng dan Joko Seger. Setelah berdoa, mereka berjalan menuju kawah Bromo dan melemparkan seluruh hasil bumi ke dalam kawah. Ritual Yadnya Kasada terus dilestarikan apa pun kondisinya, bahkan saat Bromo mengalami erupsi.

Sejak 2017 pemerintah daerah setempat menggelar festival seni budaya bertajuk Eksotika Bromo sebelum berlangsungnya ritual Yadnya Kasada.

Ritual digelar di Pura Luhur Poten, satu-satunya pura agung di kawasan pemukiman Suku Tengger. Anda bisa mencari penginapan terdekat dengan lokasi ritual di Desa Ngadisari. Banyak pilihan penginapan dan villa yang dapat disewa saat itu juga atau dipesan jauh-jauh hari. Pakailah sepatu khusus trekking dan pakaian hangat serta siapkan masker dan jas hujan.

Acara ini diposting oleh: Spektakel

diposting pada 4 April 2018



 
Disclaimer: Perubahan tanggal, pembatalan acara dapat terjadi dan bukan tanggung jawab dari Spektakel.id
 

Posting Terkait

PopCon Asia

22 - 23 Sept 2018
Tangerang

Festival Keraton Nusantara

13 - 18 Okt 2018
Kabupaten Sumenep

 

 

Top