Select Language: Bahasa Indonesia | English
© Suryo Sumarahadi

Festival

Festival Lembah Baliem

  52      Simpan ke kalender 2018-08-08 09:00:00 2018-08-10 18:00:00 Asia/Jakarta Festival Lembah Baliem Festival Budaya Lembah Baliem adalah ajang penampilan seni dan budaya masyarakat Pegunungan Tengah dengan pertunjukan utama “Atraksi Perang Suku” yang diangkat dari tradisi adu kekuatan antar klan dan sub-klan Dani, Lani dan Yali. Tradisi ini awalnya merupakan upaya menjaga kelincahan dan kesiapan pasukan perang untuk mempertahankan desa mereka. Pada festival ini kita bisa melihat simulasi perang serta pertunjukan tari dan musik tradisional serta panahan dan lempar tombak. Festival dimulai dengan skenario pemicu perang seperti penculikan warga, pembunuhan anak suku atau penyerbuan ladang yang baru dibuka.

Suku Dani terbiasa berperang untuk mempertahankan desa mereka atau untuk membalas dendam bagi anggota suku yang tewas. Menurut antropolog, perang suku di Lembah Baliem lebih merupakan tampilan kehebatan dan kemewahan pakaian dengan dekorasinya daripada perang untuk membunuh musuh, lebih menampilkan kompetensi dan antusiasme daripada keinginan untuk membunuh. Senjata yang digunakan adalah tombak panjang berukuran 4,5 meter, busur dan anak panah. Dalam peperangan, orang yang terluka segera dibawa keluar arena perang.

Festival dimeriahkan dengan ritual Bakar Batu, yaitu teknik memasak daging dan sayur mayur dengan batu-batu yang telah dipanaskan dengan cara dibakar dan dimasukkan ke dalam tanah, aksi teatrikal, karapan babi, permainan tradisional sikoko dan puradaan serta kuliner khas Lembah Baliem. Digelar selama 3 hari setiap bulan Agustus sebelum perayaan hari kemerdekaan RI, Festival Lembah Baliem juga menjadi ajang pameran produk ekonomi kreatif daerah seperti sali, rok dari rumput atau serat pakis yang dikenakan oleh kaum perempuan, noken atau tas tali anyaman, juga kopi Wamena yang telah mendunia. The Baliem Valley Cultural Festival is the artistic and cultural event of the Central Highlands communities with the main show of "Attraction of the Tribal Wars" adapted from the clan and sub-clan traditions of Dani, Lani and Yali. This tradition was originally an effort to maintain the agility and readiness of the war troops to defend their village. At this festival we can see the simulation of war as well as traditional dance and music performances and archery and throwing spears. The festival begins with war-triggering scenarios such as citizen abductions, killing of tribal children or invading newly opened fields.

Dani tribes used to fight to defend their village or to seek revenge for killed members of the tribe. According to anthropologists, tribal wars in the Baliem Valley are more of a display of greatness and luxury of clothing with decorations other than the war to kill enemies, which feature more of competences and enthusiasm other than a desire to kill. The weapon used is a long spear measuring 4.5 meters, bow and arrow. In battle, the wounded immediately brought out the battle field.

The festival is enlivened with Bakar Batu ritual –cooking techniques of meat and vegetables with stones that have been heated by burning it and put it into the soil– theatrical actions, pig racing, traditional game of Sikoko and puradaan as well as culinary typical of Baliem Valley. Held for 3 days every August before the celebration of Indonesian Independence Day, the Baliem Valley Festival is also an exhibition of regional creative economy products such as Sali, skirt from grass or fern fiber worn by women, Noken or woven rope bags, as well as Wamena, coffee that has been known worldwide.
Distrik Walesi - Kabupaten Jayawijaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jayawijaya infofblb@gmail.com
     239 views

8 - 10 Agustus 2018 | 09:00 - 18:00

gratis

Jayawijaya, PAPUA

, Distrik Walesi - Kabupaten Jayawijaya.
Lihat peta

Dikelola Oleh : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jayawijaya

Hubungi :  Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jayawijaya ‑ infofblb@gmail.com | +628974264916

Tautan :                   

Festival Budaya Lembah Baliem adalah ajang penampilan seni dan budaya masyarakat Pegunungan Tengah dengan pertunjukan utama “Atraksi Perang Suku” yang diangkat dari tradisi adu kekuatan antar klan dan sub-klan Dani, Lani dan Yali. Tradisi ini awalnya merupakan upaya menjaga kelincahan dan kesiapan pasukan perang untuk mempertahankan desa mereka. Pada festival ini kita bisa melihat simulasi perang serta pertunjukan tari dan musik tradisional serta panahan dan lempar tombak. Festival dimulai dengan skenario pemicu perang seperti penculikan warga, pembunuhan anak suku atau penyerbuan ladang yang baru dibuka.

Suku Dani terbiasa berperang untuk mempertahankan desa mereka atau untuk membalas dendam bagi anggota suku yang tewas. Menurut antropolog, perang suku di Lembah Baliem lebih merupakan tampilan kehebatan dan kemewahan pakaian dengan dekorasinya daripada perang untuk membunuh musuh, lebih menampilkan kompetensi dan antusiasme daripada keinginan untuk membunuh. Senjata yang digunakan adalah tombak panjang berukuran 4,5 meter, busur dan anak panah. Dalam peperangan, orang yang terluka segera dibawa keluar arena perang.

Festival dimeriahkan dengan ritual Bakar Batu, yaitu teknik memasak daging dan sayur mayur dengan batu-batu yang telah dipanaskan dengan cara dibakar dan dimasukkan ke dalam tanah, aksi teatrikal, karapan babi, permainan tradisional sikoko dan puradaan serta kuliner khas Lembah Baliem. Digelar selama 3 hari setiap bulan Agustus sebelum perayaan hari kemerdekaan RI, Festival Lembah Baliem juga menjadi ajang pameran produk ekonomi kreatif daerah seperti sali, rok dari rumput atau serat pakis yang dikenakan oleh kaum perempuan, noken atau tas tali anyaman, juga kopi Wamena yang telah mendunia.

Menuju Lembah Baliem, Anda dapat menggunakan pesawat dari Jakarta, Surabaya atau Manado ke Bandara Sentani. Setiba di sana, teruskan perjalanan dengan pesawat menuju Wamena. Di Wamena, hotel dan kendaraan sangat terbatas, terlebih saat festival berlangsung. Sebaiknya Anda memesan hotel jauh-jauh hari atau mengikuti trip yang diorganisasi secara kolektif. Hadirlah saat pembukaan di hari pertama karena di saat itulah suasana paling meriah.

Acara ini diposting oleh: Spektakel

diposting pada 9 Maret 2018



 
Disclaimer: Perubahan tanggal, pembatalan acara dapat terjadi dan bukan tanggung jawab dari Spektakel.id
 

Posting Terkait

Hammersonic Festival 2018

22 Juli 2018
Jakarta

Dieng Culture Festival

3 - 5 Agust 2018
Banjarnegara

Festival Kesenian dan Budaya…

3 - 5 Agust 2018
CILACAP

Ubud Village Jazz Festival 2018

10 - 11 Agust 2018
Gianyar

Festival Lima Gunung

10 - 12 Agust 2018
Kabupaten Magelang

 

 

Top