Budaya

Pacu Jawi

  83      Simpan ke kalender 2018-01-01 10:00:00 2018-12-31 17:00:00 Asia/Jakarta Pacu Jawi Pacu Jawi atau Balap Sapi adalah hajatan para petani dan masyarakat Tanah Datar seusai musim panen sebagai hiburan atau pengisi waktu bagi warga setempat hingga sawah siap kembali ditanami. Kekhasan Pacu Jawi adalah area yang digunakan berupa sawah pasca panen yang sengaja diairi. Berbeda dengan Karapan Sapi di Madura di mana peserta saling berlomba memacu sapi, pemenang dalam Pacu Jawi adalah siapa yang bisa mengendalikan dua ekor sapi bersamaan hingga berjalan lurus dan tidak terlempar dari arena.

Sebelum Jawi diperlombakan, ada rangkaian tradisi yang dijalankan. Jawi biasanya terlebih dahulu didandani, dipakaikan baju dan suntiang. Jawi kemudian diarak ke arena, diiringi para ibu yang membawa berbagai makanan. Sebelum lomba dimulai, pemuka adat memimpin doa dan seluruh warga makan bersama. Diiringi alunan alat musik tradisional Minang; saluang, talempong dan gendang, Pacu Jawi menjadi atraksi yang memikat sekaligus menegangkan. Para joki dibekali alat bajak pacu dari bambu sebagai alat berpijak sewaktu perlombaan dimulai. Alat tersebut adalah peralatan petani untuk membajak sawah. Saat mengendalikan sapi, joki berusaha untuk menggigit ekor sapi agar semakin kencang larinya sambil terus mempertahankan keharmonisan laju kedua sapi.

Teknis penentuan pemenang dalam Pacu Jawi mengandung filosofi hidup manusia pun diibaratkan sebaik-baiknya adalah selurus jalan sapi tersebut dan bahwa pemimpin dan rakyat seharusnya bisa berjalan seiring seirama.

Pacu Jawi memiliki nilai ekonomis bagi petani setempat. Selain sapi-sapi pemenang akan ditawar dengan harga tinggi dan menjadi nafkah tambahan bagi para petani, warga setempat memanfaatkan tradisi ini untuk membuka pasar rakyat di mana tersedia beragam kuliner khas Minang. Pacu Jawi or Cow Racing is a celebration of the farmers and Tanah Datar communities after the harvest season as entertainment or leisure time for local inhabitants until the rice fields are ready to be replanted. Pacu Jawi distinctiveness is that the area used for the racing is the post-harvest fields that are deliberately watered. In contrast to Karapan Sapi in Madura where participants race each other to race cattle, the winner in Pacu Jawi is the one who can control two cows together to walk straight and is not thrown from the arena.  

Before the cow is presented, there is a series of traditions being run. Firstly, the cow is usually dressed in clothes and Suntiang (traditional accessories). It is then paraded into the arena, accompanied by women who bring various kind of food. Before the race begins, the ritual leader leads the prayer and all the people eat together. Accompanied by traditional Minang musical instruments: Saluang, Talempong and Gendang, Pacu Jawi becomes both fascinating and thrilling attraction. The jockeys are equipped with bamboo spur plows as a base tool when the race begins. The tool is the farmer's equipment to plow the fields. When controlling a cow, the jockey tries to catch the cow's tail so that the faster it runs, while continuing to maintain the harmony of the two cows.

The winner of Pacu Jawi is chosen by considering the philosophy of human life which shows that life has to be as good as the cattle road alignment and that the leader and the people should be able to walk together in harmony.

Pacu Jawi has economic value for local farmers. The winner’s cows will be bargained for a high price which allows to support the farmer livelihood. As an addition, local inhabitants profit this tradition to open the market where various kind of typical Minang culinary is available.
Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda Dan Olahraga Kabupaten Tanah Datar parpora@tanahdatar.go.id
     258 views

Sepanjang tahun, setiap musim panen. Jadwal dapat dilihat di website Pacu Jawi.

gratis

Kabupaten Tanah Datar, SUMATERA BARAT

.
Lihat peta

Dikelola Oleh : Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda Dan Olahraga Kabupaten Tanah Datar

Hubungi :  Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda Dan Olahraga Kabupaten Tanah Datar ‑ parpora@tanahdatar.go.id | 081363347386

Tautan :       

Pacu Jawi atau Balap Sapi adalah hajatan para petani dan masyarakat Tanah Datar seusai musim panen sebagai hiburan atau pengisi waktu bagi warga setempat hingga sawah siap kembali ditanami. Kekhasan Pacu Jawi adalah area yang digunakan berupa sawah pasca panen yang sengaja diairi. Berbeda dengan Karapan Sapi di Madura di mana peserta saling berlomba memacu sapi, pemenang dalam Pacu Jawi adalah siapa yang bisa mengendalikan dua ekor sapi bersamaan hingga berjalan lurus dan tidak terlempar dari arena.

Sebelum Jawi diperlombakan, ada rangkaian tradisi yang dijalankan. Jawi biasanya terlebih dahulu didandani, dipakaikan baju dan suntiang. Jawi kemudian diarak ke arena, diiringi para ibu yang membawa berbagai makanan. Sebelum lomba dimulai, pemuka adat memimpin doa dan seluruh warga makan bersama. Diiringi alunan alat musik tradisional Minang; saluang, talempong dan gendang, Pacu Jawi menjadi atraksi yang memikat sekaligus menegangkan. Para joki dibekali alat bajak pacu dari bambu sebagai alat berpijak sewaktu perlombaan dimulai. Alat tersebut adalah peralatan petani untuk membajak sawah. Saat mengendalikan sapi, joki berusaha untuk menggigit ekor sapi agar semakin kencang larinya sambil terus mempertahankan keharmonisan laju kedua sapi.

Teknis penentuan pemenang dalam Pacu Jawi mengandung filosofi hidup manusia pun diibaratkan sebaik-baiknya adalah selurus jalan sapi tersebut dan bahwa pemimpin dan rakyat seharusnya bisa berjalan seiring seirama.

Pacu Jawi memiliki nilai ekonomis bagi petani setempat. Selain sapi-sapi pemenang akan ditawar dengan harga tinggi dan menjadi nafkah tambahan bagi para petani, warga setempat memanfaatkan tradisi ini untuk membuka pasar rakyat di mana tersedia beragam kuliner khas Minang.

Tanah Datar dari Bandara Minangkabau dapat ditempuh dengan bus jurusan Padang-Solok atau Padang-Bukittinggi. Pacu Jawi digelar di empat kecamatan; Pariangan, Rambatan, Lima Kaum dan Sungai Tarab.

Acara ini diposting oleh: Spektakel

diposting pada 12 April 2018



 
Disclaimer: Perubahan tanggal, pembatalan acara dapat terjadi dan bukan tanggung jawab dari Spektakel.id
 

Posting Terkait

 

 

Top