© baligolive.com

Tradisi

Tradisi Mekare-kare

  77      Simpan ke kalender 2018-06-07 14:00:00 2018-06-08 24:00:00 Asia/Jakarta Tradisi Mekare-kare Tradisi Mekare-kare atau perang pandan hanya ada di Desa Tenganan, Karangasem, Bali. Desa ini merupakan desa tua di Bali atau dikenal juga dengan sebutan desa Bali Aga alias penduduk asli Bali yang tidak terpengaruh budaya luar, terutama saat pengaruh Kerajaan Majapahit masuk ke pulau ini.

Warga Desa Tenganan menganut kepercayaan Hindu seperti mayoritas warga Bali lainnya, namun mereka memiliki pemahaman yang sedikit berbeda dengan penganut Hindu Bali lainnya. Mereka tidak mengenal kasta dan meyakini Dewa Indra sebagai dewa tertinggi. Menurut legenda lokal, Desa Tenganan mereka yakini adalah hadiah dari dewa perang tersebut. Sementara umat Hindu Bali lainnya meyakini tiga dewa tertinggi, yaitu Brahma, Wisnu, dan Siwa.

Untuk menghormati sang dewa perang, warga Desa Tenganan mengadakan tradisi Mekare-kare. Para perempuan mengenakan pakaian khas Tenganan dengan kain tenun Pegringsingan, sedangkan para kaum prianya mengenakan pakaian adat madya (sarung, selendang, ikat kepala) dan bertelanjang dada.

Alat perang yang digunakan adalah seikat pandan berduri sebagai gada dan perisai rotan sebagai tameng. Perang ini diikuti semua pria desa yang telah menginjak remaja. Saat perang, mereka berhadapan satu lawan satu. Seusai prosesi, luka gores diobati dengan ramuan tradisional yang dikenal ampuh menyembuhkan luka. Selepas tanding, tidak ada dendam di antara mereka. Mekare-kare adalah sebuah upacara persembahan yang dilakukan dengan tulus ikhlas. Mekare-kare tradition or pandan leaves war only exists in Tenganan Village, Karangasem, Bali. This village is an ancient village in Bali or also known as Bali Aga village aka indigenous Balinese who are not influenced by outside cultures, especially when the influence of the Majapahit Kingdom came into the island.

The people of Tenganan embrace Hinduism like the majority of other Balinese, but they have a slightly different understanding compared to other Balinese Hindus. They do not know caste or social stratum and believe that God Indra is the supreme deity. According to local legend, the village of Tenganan is believed to be a gift from that god of war. Whereas the other Balinese Hindus believe in three supreme gods, namely Brahma, Vishnu, and Shiva.

In honour of the god of war, the villagers hold a tradition of Mekare-kare. The women wear typical Tenganan clothing with Pegringsingan woven fabric, while the men dress in traditional Madyan clothing (sarong, scarf, headband) and bare-chested.

The war tool used is a bunch of prickly pandan leaves as a mace and a rattan shield. This war is participated by all men in the village who have reached adolescence. During the war, they battle one on one. And after the procession, scratches are treated with traditional herbs that are known to heal wounds. There is no grudge between them after the match. Mekare-kare is an offering ceremony that is done sincerely.
Balai Pertemuan Desa Tenganan Desa Tenganan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, Bali Dinas Pariwisata Provinsi Bali infotourism@baliprov.go.id, info.disparda@baliprov.go.id, dispardabali@gmail.com
     384 views

7 - 8 Juni 2018 | 14:00 - Selesai

gratis

Karangasem, BALI

Balai Pertemuan Desa Tenganan, Desa Tenganan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, Bali.
Lihat peta

Dikelola Oleh : Dinas Pariwisata Provinsi Bali

Hubungi :  Dinas Pariwisata Provinsi Bali  ‑ infotourism@baliprov.go.id, info.disparda@baliprov.go.id, dispardabali@gmail.com | 0361-222387, 03

Tautan :       

Tradisi Mekare-kare atau perang pandan hanya ada di Desa Tenganan, Karangasem, Bali. Desa ini merupakan desa tua di Bali atau dikenal juga dengan sebutan desa Bali Aga alias penduduk asli Bali yang tidak terpengaruh budaya luar, terutama saat pengaruh Kerajaan Majapahit masuk ke pulau ini.

Warga Desa Tenganan menganut kepercayaan Hindu seperti mayoritas warga Bali lainnya, namun mereka memiliki pemahaman yang sedikit berbeda dengan penganut Hindu Bali lainnya. Mereka tidak mengenal kasta dan meyakini Dewa Indra sebagai dewa tertinggi. Menurut legenda lokal, Desa Tenganan mereka yakini adalah hadiah dari dewa perang tersebut. Sementara umat Hindu Bali lainnya meyakini tiga dewa tertinggi, yaitu Brahma, Wisnu, dan Siwa.

Untuk menghormati sang dewa perang, warga Desa Tenganan mengadakan tradisi Mekare-kare. Para perempuan mengenakan pakaian khas Tenganan dengan kain tenun Pegringsingan, sedangkan para kaum prianya mengenakan pakaian adat madya (sarung, selendang, ikat kepala) dan bertelanjang dada.

Alat perang yang digunakan adalah seikat pandan berduri sebagai gada dan perisai rotan sebagai tameng. Perang ini diikuti semua pria desa yang telah menginjak remaja. Saat perang, mereka berhadapan satu lawan satu. Seusai prosesi, luka gores diobati dengan ramuan tradisional yang dikenal ampuh menyembuhkan luka. Selepas tanding, tidak ada dendam di antara mereka. Mekare-kare adalah sebuah upacara persembahan yang dilakukan dengan tulus ikhlas.

Upacara Mekare-kare dilangsungkan selama 2 hari dan dimulai sekitar jam 2 siang.

Acara ini diposting oleh: Spektakel

diposting pada 4 April 2018



 
Disclaimer: Perubahan tanggal, pembatalan acara dapat terjadi dan bukan tanggung jawab dari Spektakel.id
 

Posting Terkait

Bekudo Bono

12 - 15 Nov 2018
Pelalawan

 

 

Top