Select Language: Bahasa Indonesia | English

Festival

Aceh International Rapai Festival 2018

  57      Simpan ke kalender 2018-07-12 09:00:00 2018-07-15 21:00:00 Asia/Jakarta Aceh International Rapai Festival 2018 Aceh International Rapa’i Festival memiliki daya tarik tersendiri yang bersifat unik dan spesifik karena seluruh peralatan musiknya bersifat tradisional yang merupakan warisan masa lalu. Rapa’i dibawa oleh seorang penyiar Islam dari Baghdad bernama Syeh Rifai dan dimainkan untuk pertama kali di Ibukota Kerajaan Aceh, Banda Khalifak (sekarang Gampong Pandee, Banda Aceh) sekitar abad ke-11.

Rapa’i adalah alat musik perkusi tradisional Aceh yang dimainkan dengan cara dipukul dengan telapak tangan. Rapa’i sering digunakan pada upacara-upacara adat di Aceh seperti upacara perkawinan, sunah rasul, pasar malam, pengiring tarian, hari peringatan, dan ulang tahun. Karenanya, rapa’i merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Aceh. Rapa’i berperan mengatur tempo, ritme, tingkatan, gemerincing serta membuat suasana menjadi lebih hidup dan meriah.

Rapa’i dimainkan dalam sebuah ensambel yang terdiri dari 8-12 orang dan disandingkan dengan instrumen lain, seperti serune kalee dan buloh merindu. Permainan rapa’i dapat terdengar hingga jarak yang sangat jauh, efek dari gema yang dipantulkannya. Tanpa mikrofon, suaranya dapat terdengar hingga jarak 5-10 km.

Dengan mengundang beberapa negara sahabat yang memiliki peralatan musik tradisional, International Rapa’i Festival akan menjadi acara yang menarik dalam mempromosikan Aceh melalui musik tradisi. Aceh International Rapa'i Festival has its own unique and specific charm as all used musical instruments are traditionally inherited from the past. Rapa'i was brought to Aceh by a Muslim poet from Baghdad named Sheikh Rifai, and played for the first time in the capital of the Sultanate of Aceh, Banda Khalifak (now called Gampong Pandee, Banda Aceh) around the 11th century.

Rapa'i is a traditional percussion instrument of Aceh which is played by beating it with hands. Rapa'i is often used in traditional ceremonies in Aceh such as marriage ceremony, sunnah rasul, night markets, dance accompaniment, anniversaries, and birthdays. Therefore, rapa'i is an integral part in the life of the people of Aceh. Rapa'i’s role is to regulate the tempo, rhythm, register, and jangling of music which makes the atmosphere become more lively and festive.  

Rapa'i is played bya group of 8-12 people and is juxtaposed with other instruments, such as serale kalee and buloh merindu. The sound of rapa'i can be heard over a great distance as the result of its reflected echoes. Without a microphone, its sound can be heard up to 5-10 km away.

By inviting some neighbouring countries that have traditional musical instruments, the International Rapa'i Festival will be an exciting event in promoting Aceh through traditional music.
Dinas Kebudayaan & Pariwisata Aceh disbudpar@acehprov.go.id
     182 views

12 - 15 Juli 2018 | 09:00 - 21:00

gratis

Lhokseumawe, ACEH

.
Lihat peta

Dikelola Oleh : Dinas Kebudayaan & Pariwisata Aceh

Hubungi :  Dinas Kebudayaan & Pariwisata Aceh ‑ disbudpar@acehprov.go.id | 0651-26206

Tautan :                   

Aceh International Rapa’i Festival memiliki daya tarik tersendiri yang bersifat unik dan spesifik karena seluruh peralatan musiknya bersifat tradisional yang merupakan warisan masa lalu. Rapa’i dibawa oleh seorang penyiar Islam dari Baghdad bernama Syeh Rifai dan dimainkan untuk pertama kali di Ibukota Kerajaan Aceh, Banda Khalifak (sekarang Gampong Pandee, Banda Aceh) sekitar abad ke-11.

Rapa’i adalah alat musik perkusi tradisional Aceh yang dimainkan dengan cara dipukul dengan telapak tangan. Rapa’i sering digunakan pada upacara-upacara adat di Aceh seperti upacara perkawinan, sunah rasul, pasar malam, pengiring tarian, hari peringatan, dan ulang tahun. Karenanya, rapa’i merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Aceh. Rapa’i berperan mengatur tempo, ritme, tingkatan, gemerincing serta membuat suasana menjadi lebih hidup dan meriah.

Rapa’i dimainkan dalam sebuah ensambel yang terdiri dari 8-12 orang dan disandingkan dengan instrumen lain, seperti serune kalee dan buloh merindu. Permainan rapa’i dapat terdengar hingga jarak yang sangat jauh, efek dari gema yang dipantulkannya. Tanpa mikrofon, suaranya dapat terdengar hingga jarak 5-10 km.

Dengan mengundang beberapa negara sahabat yang memiliki peralatan musik tradisional, International Rapa’i Festival akan menjadi acara yang menarik dalam mempromosikan Aceh melalui musik tradisi.

Acara ini diposting oleh: Spektakel

diposting pada 4 April 2018



 
Disclaimer: Perubahan tanggal, pembatalan acara dapat terjadi dan bukan tanggung jawab dari Spektakel.id
 

Posting Terkait

Panggong Aceh Angin Musim Timur:…

25 April 2018
Jakarta

Art Jog 11

4 Mei - 4 Juni 2018
Yogyakarta

Yogyakarta Gamelan Festival 2018

1 - 31 Juli 2018
Yogyakarta

Festival Film Purbalingga

7 Juli - 4 Agust 2018
Purbalingga

Hammersonic Festival 2018

8 Juli 2018
Jakarta

 

 

Top