© Facebook Page Marjinalblaut

Seni Rupa

Visual Exhibition: Pang! No Border, No Class

  51      Simpan ke kalender 2018-04-18 09:00:00 2018-04-30 21:00:00 Asia/Jakarta Visual Exhibition: Pang! No Border, No Class Band punk Marjinal diakui sebagai pionir gerakan punk Indonesia. Pada tahun 1996 di mana penggemar musik punk Indonesia berkiblat pada band-band punk Barat dengan lagu-lagu bertema kebebasan dalam cinta-cintaan, Marjinal mendobrak dengan membuat lagu-lagu sendiri dalam bahasa Indonesia dan menyuarakan pesan-pesan ketidakadilan sosial. Namun, musik hanyalah medium, seperti juga karya-karya visual yang banyak mereka kerjakan. Mereka kemudian mendirikan Komunitas Taring Babi yang memayungi segala aktivitas mereka.

Nama Taring Babi mereka pilih sebagai pengingat agar tidak menjadi makhluk rakus pemakan segala termasuk yang bukan haknya. Tak hanya bermusik, komunitas yang berbasis di Jakarta ini pun banyak melakukan aktivitas seni, seperti mendesain, menggambar, melukis dan membuat merchandise. Karya-karya seni grafis yang umumnya mereka buat dengan teknik cukil kayu, diaplikasikan dalam bentuk kaos, poster, baliho, emblem, pin, dlsb. Sumber inspirasi karya grafis mereka adalah lirik-lirik lagu Marjinal.

Komunitas Taring Babi menggunakan seni visual sebagai media untuk membangun kesadaran kaum muda. Mereka banyak menggunakan ruang publik sebagai tempat pameran. Sebagai pengusung gerakan antikonsumerisme yang selalu diiklankan di ruang publik, maka mereka bergerilya untuk merebutnya sebagai ruang kampanye mereka. Taring Babi tidak pernah kendor memperjuangkan apa yang mereka sebut “No Border, No Class”.

Untuk pameran mereka kali ini, Galeri Cipta III TIM membukakan pintunya. Gelaran musik dan puisi akan mewarnai pameran yang, tidak main-main, akan dibuka oleh kolektor seni kenamaan Indonesia, Dr. Hong Djien Oei. Pameran ini dikurasi oleh Tommy F. Awuy. The punk band Marjinal is recognised as the pioneer of the Indonesian punk movement. In 1996 when Indonesian punk music enthusiasts focused on Western punk bands with freedom and love-themed songs, Marjinal broke away from the pack by making their own songs in Indonesian and conveying messages of social injustice. However, music is only a medium, as are many visual works that they do. They then established Komunitas Taring Babi (Boar’s Fangs Community) which roofs their activities.

The name Taring Babi was chosen as a reminder of not becoming a greedy creature that gobbles everything up including things that are not its right. In addition to music, this Jakarta-based community also does many art activities, such as designing, drawing, painting, and making merchandise. The graphic artworks that they generally create using woodcutting techniques, are applied in the form of t-shirts, posters, billboards, emblems, badges, etc. The source of inspiration of their graphic artworks comes from the lyrics of Marjinal's song. This exhibition is curated by Tommy F. Awuy.

Komunitas Taring Babi uses visual art as their means of raising awareness among youths. They often use public space as exhibition site. As the consumerism persuasion is always advertised in public places, they as the pilot of the anti-consumerism movement are scattered to seize them as their campaign space. Taring Babi is never weary to champion what they call "No Border, No Class".

Gallery Cipta III TIM will host their exhibition this time. Music and poetry contests will enliven the exhibition that will be opened by Indonesia's leading collector, Dr. Hong Djien Oei.
Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki, Jl. Cikini Raya No.73, Jakarta Pusat Komunitas Taring Babi
     664 views

18 - 30 April 2018 | 09:00 - 21:00

gratis

Jakarta, DKI JAKARTA

Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Jl. Cikini Raya No.73, Jakarta Pusat .
Lihat peta

Dikelola Oleh : Komunitas Taring Babi

Hubungi :  Komunitas Taring Babi | 089635837171

Tautan :           

Band punk Marjinal diakui sebagai pionir gerakan punk Indonesia. Pada tahun 1996 di mana penggemar musik punk Indonesia berkiblat pada band-band punk Barat dengan lagu-lagu bertema kebebasan dalam cinta-cintaan, Marjinal mendobrak dengan membuat lagu-lagu sendiri dalam bahasa Indonesia dan menyuarakan pesan-pesan ketidakadilan sosial. Namun, musik hanyalah medium, seperti juga karya-karya visual yang banyak mereka kerjakan. Mereka kemudian mendirikan Komunitas Taring Babi yang memayungi segala aktivitas mereka.

Nama Taring Babi mereka pilih sebagai pengingat agar tidak menjadi makhluk rakus pemakan segala termasuk yang bukan haknya. Tak hanya bermusik, komunitas yang berbasis di Jakarta ini pun banyak melakukan aktivitas seni, seperti mendesain, menggambar, melukis dan membuat merchandise. Karya-karya seni grafis yang umumnya mereka buat dengan teknik cukil kayu, diaplikasikan dalam bentuk kaos, poster, baliho, emblem, pin, dlsb. Sumber inspirasi karya grafis mereka adalah lirik-lirik lagu Marjinal.

Komunitas Taring Babi menggunakan seni visual sebagai media untuk membangun kesadaran kaum muda. Mereka banyak menggunakan ruang publik sebagai tempat pameran. Sebagai pengusung gerakan antikonsumerisme yang selalu diiklankan di ruang publik, maka mereka bergerilya untuk merebutnya sebagai ruang kampanye mereka. Taring Babi tidak pernah kendor memperjuangkan apa yang mereka sebut “No Border, No Class”.

Untuk pameran mereka kali ini, Galeri Cipta III TIM membukakan pintunya. Gelaran musik dan puisi akan mewarnai pameran yang, tidak main-main, akan dibuka oleh kolektor seni kenamaan Indonesia, Dr. Hong Djien Oei. Pameran ini dikurasi oleh Tommy F. Awuy.

Acara ini diposting oleh: Spektakel

diposting pada 25 April 2018



 
Disclaimer: Perubahan tanggal, pembatalan acara dapat terjadi dan bukan tanggung jawab dari Spektakel.id
 

Posting Terkait

SIPFest 2018: Quasar Quarto de…

24 - 25 Agust 2018
Jakarta

Festival Kentongan Banyumas 2018

25 Agustus 2018
Purwokerto

SIPFest 2018: Space Age – Toccata…

29 - 30 Agust 2018
Jakarta

Bokor World Music Festival 2018

16 - 18 Nov 2018
Kepulauan Meranti

 

 

Top