Select Language: Bahasa Indonesia | English
© infopagarnusa.com

Olahraga

Tarung Bebas Pencak Dor

  23      Simpan ke kalender 2018-04-21 19:00:00 2018-04-21 22:00:00 Asia/Jakarta Tarung Bebas Pencak Dor Gemar nonton MMA, ajang tarung profesional dalam ring segi lima? Kediri dan Blitar punya versinya sendiri: versi santri yang tidak kalah seru, namun menawarkan sensasi tersendiri. Di atas panggung kayu 8 x 4 meter yang dibangun di tengah lapangan luas, beratap langit, dalam iringan musik tanjidor dan disaksikan ratusan warga kampung.

Pencak Dor sebagai budaya tarung sudah tumbuh di lingkungan pesantren Karesidenan Kediri sejak zaman penjajahan. Awalnya, ia digagas untuk mengakali perselisihan antarsantri. Pada tahun 1960, Pencak Dor akhirnya dilembagakan oleh Gus Ma’sum Jauhari, pengasuh Pesantren Lirboyo, sebagai seni tarung pencak silat yang digelar terbuka. Dengan iringan tabuhan musik tanjidor, ajang tarung ini sontak gandrung menjadi hiburan populer masyarakat.

"Di atas lawan, di bawah kawan". Demikianlah semangat yang melandasi gelanggang mereka. Pencak Dor tidak semata sebuah ajang pertarungan, melainkan juga ajang silaturahim bersama. Tidak ada kalah-menang. Selama ia di atas, ialah lawan. Namun ketika ia di bawah, ialah kawan. Uniknya, tidak hanya para santri yang memang berlatih untuk menjadi petarung yang boleh berpartisipasi. Semua boleh, bahkan warga yang sedang menonton. Kerap kali ajang ini juga dipakai sebagai sarana islah cekcok antarwarga. Selesai tarung, selesai pula masalah. Saat sudah di atas ring, niatnya sudah tidak mencari kemenangan lagi. Maka, jangan heran bila setiap pertarungan melahirkan sorak dan gelak tawa. Fond of watching MMA, the professional wrestling event in a rectangular ring? Kediri and Blitar have their own version of the event: the santri (students of Islamic schools) version which is no less exciting, but offers its own excitement. On a wooden sky-roofed stage of 8 x 4 meters built in the middle of a wide field, with the accompaniment of tanjidor music and witnessed by hundreds of villagers.

Pencak Dor as a culture of fighting has developed in the environment of pesantren (Islamic boarding school) Karesidenan Kediri since the colonial era. It was initiated to outsmart quarrels between students. In 1960, Pencak Dor was finally instituted by Gus Ma'sum Jauhari, the caretaker of Pesantren Lirboyo, as an openly held pencak silat fighting contest. It swiftly then became a popular community entertainment with the accompaniment of tanjidor music.

"Opponents atop, comrades under" is the eagerness that underlies their arena. Pencak Dor is not only a fighting event, but also a gathering means. There is no winning nor losing. As long as they are atop, they are opponents. But when they are under, they are friends. Santris who intentionally practice to be the fighters are uniquely not the only ones allowed to take part, everyone is, and even citizens who are watching. This event is often used as a truce to bickers between citizens. Once the fight is over, so is the problem. Once in the ring, seizing victory is no longer the intention. Do not therefore be surprised if every battle gives birth to cheers and laughter.
Lapangan Aula Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo Jl. KH. Abdul Karim RT. 02 / RW. 01, Lirboyo, Mojoroto, Lirboyo, Mojoroto, Kediri, Jawa Timur 64116 Paguyuban Pelestari Seni Budaya Pencak Dor
     321 views

21 April 2018 | 19:00 - 22:00

berbayar

Kediri, JAWA TIMUR

Lapangan Aula Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo, Jl. KH. Abdul Karim RT. 02 / RW. 01, Lirboyo, Mojoroto, Lirboyo, Mojoroto, Kediri, Jawa Timur 64116.
Lihat peta

Dikelola Oleh : Paguyuban Pelestari Seni Budaya Pencak Dor

Hubungi :  Paguyuban Pelestari Seni Budaya Pencak Dor

Tautan :       

Gemar nonton MMA, ajang tarung profesional dalam ring segi lima? Kediri dan Blitar punya versinya sendiri: versi santri yang tidak kalah seru, namun menawarkan sensasi tersendiri. Di atas panggung kayu 8 x 4 meter yang dibangun di tengah lapangan luas, beratap langit, dalam iringan musik tanjidor dan disaksikan ratusan warga kampung.

Pencak Dor sebagai budaya tarung sudah tumbuh di lingkungan pesantren Karesidenan Kediri sejak zaman penjajahan. Awalnya, ia digagas untuk mengakali perselisihan antarsantri. Pada tahun 1960, Pencak Dor akhirnya dilembagakan oleh Gus Ma’sum Jauhari, pengasuh Pesantren Lirboyo, sebagai seni tarung pencak silat yang digelar terbuka. Dengan iringan tabuhan musik tanjidor, ajang tarung ini sontak gandrung menjadi hiburan populer masyarakat.

"Di atas lawan, di bawah kawan". Demikianlah semangat yang melandasi gelanggang mereka. Pencak Dor tidak semata sebuah ajang pertarungan, melainkan juga ajang silaturahim bersama. Tidak ada kalah-menang. Selama ia di atas, ialah lawan. Namun ketika ia di bawah, ialah kawan. Uniknya, tidak hanya para santri yang memang berlatih untuk menjadi petarung yang boleh berpartisipasi. Semua boleh, bahkan warga yang sedang menonton. Kerap kali ajang ini juga dipakai sebagai sarana islah cekcok antarwarga. Selesai tarung, selesai pula masalah. Saat sudah di atas ring, niatnya sudah tidak mencari kemenangan lagi. Maka, jangan heran bila setiap pertarungan melahirkan sorak dan gelak tawa.

Acara ini diposting oleh: Spektakel

diposting pada 4 April 2018



 
Disclaimer: Perubahan tanggal, pembatalan acara dapat terjadi dan bukan tanggung jawab dari Spektakel.id
 

Posting Terkait

Jatiwangi Cup

11 Agustus 2018
Majalengka

 

 

Top