© FB Teater Koma

Pertunjukan

Teater Koma: Gemintang

  39      Simpan ke kalender 2018-06-29 01:00:00 2018-07-08 01:00:00 Asia/Jakarta Teater Koma: Gemintang Masih konsisten menghadirkan lakon dari panggung ke panggung, Teater Koma yang tahun ini genap berusia 41 tahun dikenal rajin mengkritik kondisi sosial politik di Tanah Air dalam setiap pementasannya. Teater yang didirikan oleh sejumlah dedengkot teater ini memang mengusung semangat perubahan, baik terkait teater sebagai seni maupun sebagai medium penyampai kritik. Sebagai konsekuensi, pementasan mereka kerap kali dicekal pada masa Orde Baru.

Suksesi, Sampek Engtay, Opera Kecoa, dan Maaf. Maaf. Maaf. adalah beberapa lakon mereka yang pernah dilarang. Para pegiat kelompok teater yang nirlaba dan independen ini juga tak surut langkah saat kerap masalah pendanaan menerpa. Resistensi kemudian menjadi syarat mutlak bagi mereka yang telah dan ingin bergabung menjadi anggotanya. Kerja keras terbayar apresiasi, sebab setiap pentas Teater Koma belum pernah tidak dinanti.

Hingga saat ini, Teater Koma tercatat telah memanggungkan 152 pentas. Seluruh lakon Teater Koma dicipta dan digarap di rumah pasangan punggawanya, Ratna dan Nano Riantiarno. Nano, sang pimpinan sekaligus sutradara dan penulis skenario, menulis sendiri sebagian besar naskah lakon Teater Koma di perpustakaan rumahnya.

Tahun ini, Teater Koma bersiap mempersembahkan pentasnya yang ke-153. Berjudul “Gemintang”, lakon ini bercerita tentang sebuah kisah cinta antara seorang anak manusia, Arjuna, dan alien, Sumbadra. This year is the 41st anniversary of Teater Koma: a theatrical group that is known to be persistent in criticising the socio-political conditions of the homeland through its every performance from stage to stage. The club that was founded by many leading figures in the world of theatre carries indeed the spirit of change, both related to theatre as an art and a means to criticise. As a consequence, their performances were often banned during the New Order period.

Suksesi, Sampek Engtay, Opera Kecoa, and Maaf. Maaf. Maaf. are some of their plays which were banned. This non-profit and independent group have actors who have never given up while facing fund-raising issues. Resistance has therefore become a fundamental requirement for those who have or wish to join the group. Hard-work worth appreciation, because every play of Teater Koma has always been awaited.

The club has, until now, staged 152 performances. All plays by Teater Koma are produced in the house of its founding couple, Ratna and Nano Riantiarno. Nano, the president as well as the scriptwriter, wrote most of Teater Koma plays at his home library.

This year, Teater Koma is preparing to present its 153rd play entitled "Gemintang". The latter tells a love story between a man, Arjuna, and an alien named Sumbadra.
Graha Bhakti Budaya, TIM Jl. Cikini Raya No. 73, Jakarta Pusat Teater Koma info@teaterkoma.org
     452 views

29 Juni - 8 Juli 2018 | 01:00 - 01:00

berbayar

Jakarta, DKI JAKARTA

Graha Bhakti Budaya, TIM, Jl. Cikini Raya No. 73, Jakarta Pusat .
Lihat peta

Dikelola Oleh : Teater Koma

Hubungi :  Teater Koma ‑ info@teaterkoma.org | 0217350460

Tautan :                   

Masih konsisten menghadirkan lakon dari panggung ke panggung, Teater Koma yang tahun ini genap berusia 41 tahun dikenal rajin mengkritik kondisi sosial politik di Tanah Air dalam setiap pementasannya. Teater yang didirikan oleh sejumlah dedengkot teater ini memang mengusung semangat perubahan, baik terkait teater sebagai seni maupun sebagai medium penyampai kritik. Sebagai konsekuensi, pementasan mereka kerap kali dicekal pada masa Orde Baru.

Suksesi, Sampek Engtay, Opera Kecoa, dan Maaf. Maaf. Maaf. adalah beberapa lakon mereka yang pernah dilarang. Para pegiat kelompok teater yang nirlaba dan independen ini juga tak surut langkah saat kerap masalah pendanaan menerpa. Resistensi kemudian menjadi syarat mutlak bagi mereka yang telah dan ingin bergabung menjadi anggotanya. Kerja keras terbayar apresiasi, sebab setiap pentas Teater Koma belum pernah tidak dinanti.

Hingga saat ini, Teater Koma tercatat telah memanggungkan 152 pentas. Seluruh lakon Teater Koma dicipta dan digarap di rumah pasangan punggawanya, Ratna dan Nano Riantiarno. Nano, sang pimpinan sekaligus sutradara dan penulis skenario, menulis sendiri sebagian besar naskah lakon Teater Koma di perpustakaan rumahnya.

Tahun ini, Teater Koma bersiap mempersembahkan pentasnya yang ke-153. Berjudul “Gemintang”, lakon ini bercerita tentang sebuah kisah cinta antara seorang anak manusia, Arjuna, dan alien, Sumbadra.

HTM:
Hari kerja: Rp400.000, Rp300.000, Rp225.000, Rp150.000, Rp100.000 Akhir pekan: Rp500.000, Rp400.000, Rp300.000, Rp225.000, Rp150.000

Pembelian:
www.teaterkoma.org; www.bibli.com

Info tiket:
0217350460, 0217359540, 082122777709

Acara ini diposting oleh: Spektakel

diposting pada 23 Mei 2018



 
Disclaimer: Perubahan tanggal, pembatalan acara dapat terjadi dan bukan tanggung jawab dari Spektakel.id
 

Posting Terkait

Wayang Orang Bharata: Gatutkaca…

27 Oktober 2018
Jakarta

 

 

Top