Select Language: Bahasa Indonesia | English
© Jhon Atti

Festival

Menuju Fulan Fehan: Festival Foho Rai

  8      Simpan ke kalender 2018-07-03 09:00:00 2018-07-28 18:00:00 Asia/Jakarta Menuju Fulan Fehan: Festival Foho Rai Menuju puncak rangkaian acara pada Oktober nanti di Festival Fulan Fehan, masyarakat Kabupaten Belu, Pulau Timor, NTT, tengah mempersiapkan Festival Kampung Adat Foho Rai yang sepanjang Juli akan berkeliling di 5 kampung adat, yaitu Kampung Adat Matabesi, Raimanuk, Duarato-Nualain, dan Dirun.

“Foho Rai”, atau secara harfiah berarti gunung dan tanah dalam bahasa setempat, melambangkan kampung halaman atau tanah asal. Secara tradisional Foho Rai bisa berarti kerajaan, tempat tinggal, ulayat, kebun, dsb. Foho Rai juga bisa berarti tanah atau kampung leluhur, yakni tanah leluhur yang diperjuangkan dengan keringat dan darah. Pemaknaan tanah leluhur mengandung nilai adat yang sangat dalam yang mempengaruhi seluruh tata keyakinan tradisional dan praktek ritual masyarakat adat di Belu.

Di lima kampung adat yang akan menjadi tempat perhelatan acara, akan digelar berbagai ritual yang setiap upacaranya akan menekankan pentingnya peran seorang Mako’an, yaitu imam atau penutur adat masyarakat tradisional Belu yang memegang peran penting dalam kehidupan kampung adat.

Peran Mako’an tidak tergantikan ritual adat malah justru menguatkannya, karena sebagai ensiklopedia hidup masyarakat Belu, dalam bahasa tutur, sastra, mantra doa, dan ungkapan adatnya, Mako’an menyampaikan begitu banyak nilai, sejarah, tradisi, moral, dan etika yang sangat diperlukan bagi kehidupan masyarakat Belu. Sayangnya keberadaan Mako’an menjadi semakin langka di tengah tekanan modernitas.

Wacana "Kembali ke Kampung Adat" yang digaungkan sebagai tema festival ini menjadi pelesat pelestarian tradisi Mako’an itu sendiri. Heading toward the peak of a series of event in October at Fulan Fehan Festival, the people of Belu District, Timor Island, East Nusa Tenggara, are preparing Foho Rai Traditional Village Festival which will tour around 5 traditional villages, namely Matabesi Traditional Village, Raimanuk, Duarato-Nualain, and Dirun.

"Foho Rai", that literally means mountain and land in the local language, symbolises the hometown or the land of origin. Foho Rai can traditionally mean royalty, residence, territory, garden, etc. It can also mean land or ancestral village, the ancestral land that was defended with sweat and blood. The interpretation of ancestral land conceives profound traditional values that affect the whole ordinance of traditional beliefs and ritual practices in Belu.

In the five traditional villages hosting the event, various rituals will be held, each of which will stress the importance of Mako'an's role - priest or traditional speaker of Belu people who plays an essential role in the traditional village life.

Mako'an's role is not replaced by traditional rituals, rather strengthens them. They deliver so many values, histories, traditions, morals, and ethics as an encyclopedia of Belu people’s life through his speech, literature, prayers, and customary expressions. Unfortunately, Mako'an is becoming scarce amid the pressures of modernity.

The discourse "Kembali ke Kampung Adat" (Returning to the Traditional Village) that is adopted as the theme of this festival, has become a preservation of Mako'an tradition itself.
Kampung Adat Matabesi, Raimanuk, Duarato, Nualain, & Dirun Pemerintah Kabupaten Belu
     100 views

3 - 28 Juli 2018 | 09:00 - 18:00

gratis

Kabupaten Belu, NUSA TENGGARA TIMUR

Kampung Adat Matabesi, Raimanuk, Duarato, Nualain, & Dirun.
Lihat peta

Dikelola Oleh : Pemerintah Kabupaten Belu

Hubungi :  Pemerintah Kabupaten Belu

Tautan :               

Menuju puncak rangkaian acara pada Oktober nanti di Festival Fulan Fehan, masyarakat Kabupaten Belu, Pulau Timor, NTT, tengah mempersiapkan Festival Kampung Adat Foho Rai yang sepanjang Juli akan berkeliling di 5 kampung adat, yaitu Kampung Adat Matabesi, Raimanuk, Duarato-Nualain, dan Dirun.

“Foho Rai”, atau secara harfiah berarti gunung dan tanah dalam bahasa setempat, melambangkan kampung halaman atau tanah asal. Secara tradisional Foho Rai bisa berarti kerajaan, tempat tinggal, ulayat, kebun, dsb. Foho Rai juga bisa berarti tanah atau kampung leluhur, yakni tanah leluhur yang diperjuangkan dengan keringat dan darah. Pemaknaan tanah leluhur mengandung nilai adat yang sangat dalam yang mempengaruhi seluruh tata keyakinan tradisional dan praktek ritual masyarakat adat di Belu.

Di lima kampung adat yang akan menjadi tempat perhelatan acara, akan digelar berbagai ritual yang setiap upacaranya akan menekankan pentingnya peran seorang Mako’an, yaitu imam atau penutur adat masyarakat tradisional Belu yang memegang peran penting dalam kehidupan kampung adat.

Peran Mako’an tidak tergantikan ritual adat malah justru menguatkannya, karena sebagai ensiklopedia hidup masyarakat Belu, dalam bahasa tutur, sastra, mantra doa, dan ungkapan adatnya, Mako’an menyampaikan begitu banyak nilai, sejarah, tradisi, moral, dan etika yang sangat diperlukan bagi kehidupan masyarakat Belu. Sayangnya keberadaan Mako’an menjadi semakin langka di tengah tekanan modernitas.

Wacana "Kembali ke Kampung Adat" yang digaungkan sebagai tema festival ini menjadi pelesat pelestarian tradisi Mako’an itu sendiri.

Acara ini diposting oleh: Spektakel

diposting pada 9 Juli 2018



 
Disclaimer: Perubahan tanggal, pembatalan acara dapat terjadi dan bukan tanggung jawab dari Spektakel.id
 

Posting Terkait

Festival Kesenian dan Budaya…

3 - 5 Agust 2018
CILACAP

Festival Lembah Baliem

8 - 10 Agust 2018
Jayawijaya

International Gamelan festival 2018

9 - 17 Agust 2018
Surakarta

Ubud Village Jazz Festival 2018

10 - 11 Agust 2018
Gianyar

Gagak Karancang: Napak Tilas di…

8 - 9 Sept 2018
Garut

 

 

Top