© FB Padepokan Gagak Karancang

Tradisi

Gagak Karancang: Napak Tilas di Hutan Sacang

  16      Simpan ke kalender 2018-09-08 01:00:00 2018-09-09 24:00:00 Asia/Jakarta Gagak Karancang: Napak Tilas di Hutan Sacang Padepokan Gagak Karancang dididirikan pada tahun 2003 di Sumedang, Jawa Barat oleh R. Sigma Martanagara yang dikenal dengan panggilan Ki Raga Sukma. Masih asli trah keturunan Raja Sumedanglarang, pendiri Padepokan Gagak Karancang ini menggemari seni spiritual dan seni bela diri warisan leluhurnya, di samping ingin melestarikan budaya lokal yang semakin tergerus zaman.

Para murid di Padepokan Gagak Karancang selain diajarkan pencak silat, diajarkan pula seni spiritual, ilmu gaib dan kebatinan warisan leluhur, dengan teknik pembelajaran tradisional juga modern, seperti meditasi, wirid, puasa, olah jurus tenaga dalam dibarengi dengan olah pernapasan.

Padepokan Gagak Karancang rutin membuka pendaftaran bagi mereka yang ingin bergabung. Kali ini, padepokan ini mengadakan Penggemblengan Akbar dan Napak Tilas di Hutan Larangan Sancang, Garut, Jawa Barat. Menurut mitos, di hutan inilah Prabu Siliwangi melakukan tapa brata, membersihkan diri dari segala karma, dan memanunggalkan diri dengan alam semesta dan Sang Pencipta. Di hutan ini juga, ia menghabiskan sisa hidupnya. Autentik atau tidak mitos tersebut, Hutan Sacang saat ini menjadi cagar alam yang dilindungi negara. Padepokan (traditional and old-fashioned silat community) Gagak Karancang was founded in 2003 in Sumedang, West Java by R. Sigma Martanagara known as Ki Raga Sukma. In addition to preserving the increasingly eroded local culture, as a true descendant of King Sumedanglarang, this founder of Padepokan Gagak Karancang is fond of spiritual and martial arts inherited by his ancestors.

Apart from being taught silat, students in this community also learn spiritual arts - magic and mysticism from ancestors, with traditional and modern learning techniques such as meditation, wirid (recitation of some verses of Quran), fasting, and inner energy along with breathing control.

Padepokan Gagak Karancang frequently opens registration for those who wish to join. This time, they hold a big procession and trace history in the Forbidden Forest of Sacang, Garut, West Java. According to the myth, it is in this forest that King Siliwangi meditated, karma cleansed, and unfolded himself to the universe and the Creator. In this jungle too that he spent the rest of his life. Trustworthy or not the myth is, Sacang Forest is now a nationally-protected nature reserve.
Hutan Sacang, Cagar Alam Leuweung Sacang Sancang, Cibalong, Kabupaten Garut, Jawa Barat 44176 Padepokan Gagak Karacang
     213 views

8 - 9 September 2018 | 01:00 - Selesai

berbayar

Garut, JAWA BARAT

Hutan Sacang, Cagar Alam Leuweung Sacang, Sancang, Cibalong, Kabupaten Garut, Jawa Barat 44176.
Lihat peta

Dikelola Oleh : Padepokan Gagak Karacang

Hubungi :  Kang Tha | 081395303504

Tautan :       

Padepokan Gagak Karancang dididirikan pada tahun 2003 di Sumedang, Jawa Barat oleh R. Sigma Martanagara yang dikenal dengan panggilan Ki Raga Sukma. Masih asli trah keturunan Raja Sumedanglarang, pendiri Padepokan Gagak Karancang ini menggemari seni spiritual dan seni bela diri warisan leluhurnya, di samping ingin melestarikan budaya lokal yang semakin tergerus zaman.

Para murid di Padepokan Gagak Karancang selain diajarkan pencak silat, diajarkan pula seni spiritual, ilmu gaib dan kebatinan warisan leluhur, dengan teknik pembelajaran tradisional juga modern, seperti meditasi, wirid, puasa, olah jurus tenaga dalam dibarengi dengan olah pernapasan.

Padepokan Gagak Karancang rutin membuka pendaftaran bagi mereka yang ingin bergabung. Kali ini, padepokan ini mengadakan Penggemblengan Akbar dan Napak Tilas di Hutan Larangan Sancang, Garut, Jawa Barat. Menurut mitos, di hutan inilah Prabu Siliwangi melakukan tapa brata, membersihkan diri dari segala karma, dan memanunggalkan diri dengan alam semesta dan Sang Pencipta. Di hutan ini juga, ia menghabiskan sisa hidupnya. Autentik atau tidak mitos tersebut, Hutan Sacang saat ini menjadi cagar alam yang dilindungi negara.

Biaya pendaftaran: Rp500.000
Pendaftaran hubungi narahubung, Kang Tha.

Acara ini diposting oleh: Spektakel

diposting pada 10 Juli 2018



 
Disclaimer: Perubahan tanggal, pembatalan acara dapat terjadi dan bukan tanggung jawab dari Spektakel.id
 

Posting Terkait

Bekudo Bono

12 - 15 Nov 2018
Pelalawan

 

 

Top