© Salam Jogja

Seni Rupa

Pameran Ca.Ra.Ka #2: Tut Wuri Handayani

  0      Simpan ke kalender 2018-12-09 10:00:00 2018-12-23 24:00:00 Asia/Jakarta Pameran Ca.Ra.Ka #2: Tut Wuri Handayani Pada 1932, Kolonialisme Belanda melarang berdirinya sekolah-sekolah Bumiputera dengan alasan tumbuhnya sekolah-sekolah tersebut dikhawatirkan dapat menumbuhkan bibit pemikiran akan nasionalisme Indonesia. Di tahun yang sama, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, atau yang lebih dikenal dengaan Ki Hadjar Dewantara, menentang habis-habisan undang-undang sekolah liar yang dibuat oleh Belanda tersebut. Ia hanya ingin seluruh rakyat pribumi dapat mengenyam pendidikan.

Perjuangan cucu dari Pakualam III ini dalam menyelenggarakan pendidikan terbuka, menjadi roda penyemangat bagi Sanggar Anak Alam (Salam). “Sekolah Keluarga” menjadi salah satu konsep yang dibuat oleh Salam dengan mempertemukan pengelola Salam, siswa, orang tua, dan fasilitator serta menghadirkan beberapa seniman perupa.

Guna merefleksikan kembali kedekatan semangat Ki Hadjar Dewantara dengan Taman Siswa dan para seniman, di bulan Desember ini, Salam akan mengadakan pameran bertajuk CARAKA. Hal tersebut diambil dari gagasan Cipta Rasa Karsa mengenai kebudayaan dan pendidikan yang pernah dicetuskan oleh Sang Bapak Pendidikan Indonesia itu.

Di tahun ini, gagasan persandingan antara seni rupa dan pendidikan kembali dipanggungkan dengan membuka keterlibatan anak-anak dalam kerja kolaboratif seni tersebut. Beragam teknik dan medium diperkenalkan pada anak-anak. Mulai dari batik, graffiti, hingga daur ulang. Konsep “Tut Wuri Handayani” yang bermakna “guru sebagai pendidik berada di belakang anak-anak dalam mendorong dan mengarahkan mereka” dirasa sejalan dengan proses yang terjadi pada saat kolaborasi.

In 1932, Dutch Colonialism prohibited the establishment of Bumiputera schools on the grounds that the growth of these schools was feared to foster the seeds of thought for Indonesian nationalism. In the same year, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, or better known as Ki Hadjar Dewantara, vigorously opposed the illegal school laws made by the Dutch. He simply wanted all indigenous people to get an education.

The struggle of this Pakualam III’s grandson in holding open education became an encouraging wheel for Sanggar Anak Alam (Salam). "Family School" is one of the concepts made by Salam by bringing together Salam staff, students, parents, and facilitators as well as presenting several artists.

This December, in order to reflect back on the closeness between the spirit of Ki Hadjar Dewantara with Taman Siswa and artists, Salam is organising an exhibition called CARAKA. This was taken from the idea of Cipta Rasa Karsa in terms of culture and education which was once sparked by the Father of Indonesia’s Education.

This year, the collaborative ideas between art and education are again staged by involving children in this collaborative artwork. Various techniques and medias are introduced to children, from batik and graffiti, to recycling. The concept of "Tut Wuri Handayani" which means "teachers as educators are right behind children in encouraging and directing them" is felt to be in line with the processes occurring during the collaboration.

Warung Kopi DST Kasih, Tamantirto, Kasihan Sanggar Anak Alam Yogyakarta
     105 views

9 - 23 Desember 2018 | 10:00 - Selesai

gratis

Bantul, DI YOGYAKARTA

Warung Kopi DST, Kasih, Tamantirto, Kasihan.
Lihat peta

Dikelola Oleh : Sanggar Anak Alam Yogyakarta

Hubungi :  Sanggar Anak Alam Yogyakarta

Tautan :                   

Pada 1932, Kolonialisme Belanda melarang berdirinya sekolah-sekolah Bumiputera dengan alasan tumbuhnya sekolah-sekolah tersebut dikhawatirkan dapat menumbuhkan bibit pemikiran akan nasionalisme Indonesia. Di tahun yang sama, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, atau yang lebih dikenal dengaan Ki Hadjar Dewantara, menentang habis-habisan undang-undang sekolah liar yang dibuat oleh Belanda tersebut. Ia hanya ingin seluruh rakyat pribumi dapat mengenyam pendidikan.

Perjuangan cucu dari Pakualam III ini dalam menyelenggarakan pendidikan terbuka, menjadi roda penyemangat bagi Sanggar Anak Alam (Salam). “Sekolah Keluarga” menjadi salah satu konsep yang dibuat oleh Salam dengan mempertemukan pengelola Salam, siswa, orang tua, dan fasilitator serta menghadirkan beberapa seniman perupa.

Guna merefleksikan kembali kedekatan semangat Ki Hadjar Dewantara dengan Taman Siswa dan para seniman, di bulan Desember ini, Salam akan mengadakan pameran bertajuk CARAKA. Hal tersebut diambil dari gagasan Cipta Rasa Karsa mengenai kebudayaan dan pendidikan yang pernah dicetuskan oleh Sang Bapak Pendidikan Indonesia itu.

Di tahun ini, gagasan persandingan antara seni rupa dan pendidikan kembali dipanggungkan dengan membuka keterlibatan anak-anak dalam kerja kolaboratif seni tersebut. Beragam teknik dan medium diperkenalkan pada anak-anak. Mulai dari batik, graffiti, hingga daur ulang. Konsep “Tut Wuri Handayani” yang bermakna “guru sebagai pendidik berada di belakang anak-anak dalam mendorong dan mengarahkan mereka” dirasa sejalan dengan proses yang terjadi pada saat kolaborasi.

Acara ini diposting oleh: Spektakel

diposting pada 9 Desember 2018



 
Disclaimer: Perubahan tanggal, pembatalan acara dapat terjadi dan bukan tanggung jawab dari Spektakel.id
 

Posting Terkait

Surprise #12 Pameran Kriya…

31 Jan - 9 Feb 2019
Jakarta

 

 

Top