© Don Hasman

Tradisi

Seba Baduy 2019

  1      Simpan ke kalender 2019-03-24 08:00:00 2019-03-31 24:00:00 Asia/Jakarta Seba Baduy 2019 Dalam bahasa Baduy “Seba” berarti seserahan. Maka, Seba Baduy adalah ritual seserahan hasil bumi serta melaporkan berbagai kejadian yang telah berlangsung setahun terakhir di Suku Baduy kepada Ibu Gede dan Bapak Gede, yakni Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya dan Gubernur Banten Wahidin Halim. Inilah ungkapan rasa syukur masyarakat Baduy atas hasil panen yang telah mereka tuai dan keinginan untuk berbagi dengan sesama. Ritual ini ditengarai sudah berlangsung sejak sebelum zaman Kesultanan Banten.

Saat Seba Baduy berlangsung, biasanya ribuan masyarakat Baduy Dalam dan Baduy Luar berbondong-bondong datang ke Kota Serang. Masyarakat Baduy Dalam yang mengenakan pakaian serba putih datang dengan jalan berjalan kaki. Sementara, rombongan masyarakat Baduy Luar datang menggunakan truk.

Sebelumnya, masyarakat Baduy Dalam dan Baduy Luar sudah terlebih dahulu melakukan ritual adat Ngawalu dan Ngalaksa. Ngawalu ialah ritual yang diadakan tepat pascamusim panen selama tiga bulan. Pada masa Kawalu ini kawasan wisata Baduy ditutup. Usainya periode Kawalu ditandai dengan ritual Ngalaksa. Pada saat inilah masyarakat Baduy Dalam maupun Baduy Luar mengadakan syukuran dengan saling berkunjung ke tetangga dan saudara, bersilaturahmi dan mengirimkan makanan sebagai ucapan syukur.

Selain memberikan seserahan berupa hasil tani, dalam ritual ini juga terjadi dialog budaya antara masyarakat Baduy Dalam, Baduy Luar, dan para panggede atau pejabat daerah Banten. Dalam dialog budaya inilah masyarakat adat dari Baduy Dalam dan Baduy Luar menitipkan pesan kepada Pemerintah untuk menjaga kelestarian alam, hutan, dan lingkungan. Sebab, masyarakat Baduy tinggal di kawasan hutan Gunung Kendeng. Kelestarian lingkungan perlu dijaga sebab mereka percaya hal itu dapat menjauhkan bencana.

In the Baduy language, “Seba” means offerings. Seba Baduy then is an offering ritual, as well as a report to Ibu Gede (Big Mom) and Bapak Gede (Big Dad), namely the Regent of Lebak, Iti Octavia Jayabaya and the Governor of Banten, Wahidin Halim. The people of Baduy report various events that have happened in their community for the past one year to the their Regent and Governor. This is their form of gratitude for their agricultural output and of their wish to share with others. This ritual is assumed to have been going on before the Sultanate of Banten era.

When Seba Baduy takes place, thousands of Inner Baduy and Outer Baduy people usually flock to Serang City. Inner Baduy communities wearing white clothes come on foot. Meanwhile the group of Outer Baduy people come by truck.

Prior to this offering ritual and report, the Inner Baduy and Outer Baduy communities have carried out the Ngawalu and Ngalaksa traditional rituals. Ngawalu is a ritual held right after the harvest that lasts for three months. During this period, the Baduy tourist areas are closed, and its completion is marked by the Ngalaksa ritual, when they hold a thanksgiving ritual by visiting their family and neighbours, keeping in touch and delivering foods as their form of gratitude.

In addition to giving offerings in the form of harvest, it is also during this ritual that a cultural dialogue between the people of Inner and Outer Baduy and the leaders of Banten region takes place. In this cultural discussion, the people of Inner and Outer Baduy leave a message to the government to preserve nature, forests, and the environment. Baduy people live in the forest area of Mount Kendeng. Environmental sustainability needs to be maintained as they believe that it can keep disasters away.
Dinas Pariwisata Provinsi Banten ppid.dispbudpar@bantenprov.go.id
     97 views

24 - 31 Maret 2019 | 08:00 - Selesai

gratis

Serang, BANTEN

.
Lihat peta

Dikelola Oleh : Dinas Pariwisata Provinsi Banten

Hubungi :  Dinas Pariwisata Provinsi Banten ‑ ppid.dispbudpar@bantenprov.go.id | 0254-267060

Tautan :       

Dalam bahasa Baduy “Seba” berarti seserahan. Maka, Seba Baduy adalah ritual seserahan hasil bumi serta melaporkan berbagai kejadian yang telah berlangsung setahun terakhir di Suku Baduy kepada Ibu Gede dan Bapak Gede, yakni Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya dan Gubernur Banten Wahidin Halim. Inilah ungkapan rasa syukur masyarakat Baduy atas hasil panen yang telah mereka tuai dan keinginan untuk berbagi dengan sesama. Ritual ini ditengarai sudah berlangsung sejak sebelum zaman Kesultanan Banten.

Saat Seba Baduy berlangsung, biasanya ribuan masyarakat Baduy Dalam dan Baduy Luar berbondong-bondong datang ke Kota Serang. Masyarakat Baduy Dalam yang mengenakan pakaian serba putih datang dengan jalan berjalan kaki. Sementara, rombongan masyarakat Baduy Luar datang menggunakan truk.

Sebelumnya, masyarakat Baduy Dalam dan Baduy Luar sudah terlebih dahulu melakukan ritual adat Ngawalu dan Ngalaksa. Ngawalu ialah ritual yang diadakan tepat pascamusim panen selama tiga bulan. Pada masa Kawalu ini kawasan wisata Baduy ditutup. Usainya periode Kawalu ditandai dengan ritual Ngalaksa. Pada saat inilah masyarakat Baduy Dalam maupun Baduy Luar mengadakan syukuran dengan saling berkunjung ke tetangga dan saudara, bersilaturahmi dan mengirimkan makanan sebagai ucapan syukur.

Selain memberikan seserahan berupa hasil tani, dalam ritual ini juga terjadi dialog budaya antara masyarakat Baduy Dalam, Baduy Luar, dan para panggede atau pejabat daerah Banten. Dalam dialog budaya inilah masyarakat adat dari Baduy Dalam dan Baduy Luar menitipkan pesan kepada Pemerintah untuk menjaga kelestarian alam, hutan, dan lingkungan. Sebab, masyarakat Baduy tinggal di kawasan hutan Gunung Kendeng. Kelestarian lingkungan perlu dijaga sebab mereka percaya hal itu dapat menjauhkan bencana.

Acara ini diposting oleh: Spektakel

diposting pada 15 Januari 2019



 
Disclaimer: Perubahan tanggal, pembatalan acara dapat terjadi dan bukan tanggung jawab dari Spektakel.id
 

Posting Terkait

Yadnya Kasada 2019

17 - 19 Juni 2019
Probolinggo

Bakar Tongkang 2019

28 - 30 Juni 2019
Bagansiapiapi

 

 

Top