© pesona travel

Olahraga

Bekudo Bono 2019

  9      Simpan ke kalender 2019-11-10 08:00:00 2019-11-15 17:00:00 Asia/Jakarta Bekudo Bono 2019 Di sepanjang pegunungan Bukit Barisan sebelah barat pulau Sumatra, membentang sungai yang oleh masyarakat setempat disebut ‘Kampar’. Sungai yang mengalir deras itu berkelok-kelok di seluruh Provinsi Riau hingga ke Selat Malaka. Di sepanjang jalurnya, sungai itu terbelah menajdi dua cabang besar: Kampar Kanan dan Kampar Kiri.

Kemudian, kedua cabang Kampar ini bertemu di Langgar, tepatnya di Kabupaten Pelalawan. Di muara tersebut, kedua cabang Kampar bergabung dengan banyak aliran dari sungai lainnya. Sehingga, Kampar berlayur ke mulut sungai yang lebar.

Saat air laut pasang, ombak tinggi terhempas dan bertemu arus hilir sungai Kampar. Dua energi pun bertemu, dan gelombang pasang surut Kampar yang fenomenal terbentuk hingga mengalir deras di pedalaman dan berguling ke leboh dari 60 km ke hulu sungai. Gelombang pasang ini kemudian disebut oleh masyarakat setempat sebagai “Bono”. Dengan kecepatan 40 km per jam, Bono bisa naik setinggi 4 hingga 6 meter dengan suara gemuruh keras yang khas. Hal ini sekaligus menciptakan barrel yang sangat disukai oleh para peselancar.

Pada puncak Bono, dapat bermunculan 21 gelombang. Sehingga, 21 peselancar dapat berselancar secara bersamaan. Pertama kali ditemukan oleh bore-rider asal Prancis dan Brasil, kini kegiatan berselancar di aliran sungai Kampar tersebut rutin diadakan setiap tahun sebagai ajang festival selancar bertajuk ‘Bekudo Bono’. Sepanjang festival olahraga air ini, telah tercatat rekor dunia berselancar bono terlama sejauh 17,2 km.

Across the Barisan Mountains on the western side of Sumatra, lies a river that is called ‘Kampar’ by the locals. The fast-flowing river meanders throughout Riau Province to the Strait of Malacca. Along its length, the river is split into two large tributaries: Right and Left Kampar.

The two tributaries then meet in Langgar, precisely in Pelalawan Regency. At that estuary, the two Kampar tributaries unite with many other river streams and run into a wide river mouth.

When the tide is high, the high waves crash and meet the downstream current of Kampar River. The energies meet and form the phenomenal tidal wave of Kampar, flowing heavily in the inside and rolling over 60 km to the river mouth. This tidal wave is called “Bono” by locals. With the speed of 40km per hour, Bono can rise as high as 4 to 6 metres with a distinctive loud rumble. It also creates barrels that surfers are very fond of.

At its peak, 21 bonos can appear simultaneously, allowing 21 surfers to surf at the same time. Being first discovered by a Franco-Brazilian bore-rider, this surfing activity in the Kampar River is held every year as a surfing festival named “Bekudo Bono”. Throughout this water sports festival, the longest bono surfing that has ever been recorded is 17,2 km long.

Sungai Kampar Teluk Meranti Dinas Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif Provinsi Riau disparekraf@riau.go.id
     62 views

10 - 15 November 2019 | 08:00 - 17:00

gratis

Pelalawan, RIAU

Sungai Kampar, Teluk Meranti.
Lihat peta

Dikelola Oleh : Dinas Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif Provinsi Riau

Hubungi :  Dinas Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif Provinsi Riau ‑ disparekraf@riau.go.id | 0761-40356

Tautan :               

Di sepanjang pegunungan Bukit Barisan sebelah barat pulau Sumatra, membentang sungai yang oleh masyarakat setempat disebut ‘Kampar’. Sungai yang mengalir deras itu berkelok-kelok di seluruh Provinsi Riau hingga ke Selat Malaka. Di sepanjang jalurnya, sungai itu terbelah menajdi dua cabang besar: Kampar Kanan dan Kampar Kiri.

Kemudian, kedua cabang Kampar ini bertemu di Langgar, tepatnya di Kabupaten Pelalawan. Di muara tersebut, kedua cabang Kampar bergabung dengan banyak aliran dari sungai lainnya. Sehingga, Kampar berlayur ke mulut sungai yang lebar.

Saat air laut pasang, ombak tinggi terhempas dan bertemu arus hilir sungai Kampar. Dua energi pun bertemu, dan gelombang pasang surut Kampar yang fenomenal terbentuk hingga mengalir deras di pedalaman dan berguling ke leboh dari 60 km ke hulu sungai. Gelombang pasang ini kemudian disebut oleh masyarakat setempat sebagai “Bono”. Dengan kecepatan 40 km per jam, Bono bisa naik setinggi 4 hingga 6 meter dengan suara gemuruh keras yang khas. Hal ini sekaligus menciptakan barrel yang sangat disukai oleh para peselancar.

Pada puncak Bono, dapat bermunculan 21 gelombang. Sehingga, 21 peselancar dapat berselancar secara bersamaan. Pertama kali ditemukan oleh bore-rider asal Prancis dan Brasil, kini kegiatan berselancar di aliran sungai Kampar tersebut rutin diadakan setiap tahun sebagai ajang festival selancar bertajuk ‘Bekudo Bono’. Sepanjang festival olahraga air ini, telah tercatat rekor dunia berselancar bono terlama sejauh 17,2 km.

Acara ini diposting oleh: Spektakel

diposting pada 1 Maret 2019



 
Disclaimer: Perubahan tanggal, pembatalan acara dapat terjadi dan bukan tanggung jawab dari Spektakel.id
 

Posting Terkait

 

 

Top