© indonesiatrip.id

Tradisi

Festival Pasola 2019

  12      Simpan ke kalender 2019-01-01 08:00:00 2019-03-09 24:00:00 Asia/Jakarta Festival Pasola 2019 Kala ketiga pemimpin tangguh Kampung Waiwuang bernama Umbu Amahu, Ngongo Tau Masusu, dan Bayang Amahu pergi dalam kurun waktu yang cukup lama dan tak kunjung pulang ke kampungnya, warga yang dirundung kerinduan kemudian menyangka jika mereka telah meninggal dunia.

Namun, tanpa disangka, ketiga pemimpin itu rupanya masih hidup dan kembali ke Kampung Waiwuang. Saat itu pula, Umbu Amahu telah mendapat kabar bahwa sang istri, Rabu Kaba, berpaling pada pria dari Kampung Kodi bernama Teda Gaiparona. Amahu yang tak terima, kemudian mencari Kaba. Namun sayang, sang istri menolaknya.

Akhirnya ia pun meminta Gaiparona untuk membayar belis kepadanya berupa kudam sapi, kerbau, serta barang berharga. Gaiparona dan Kaba pun akhirnya melangsungkan upacara perkawinan secara resmi. Di akhir pernikahan, keluarga Umbu Dulla berpesan agar Warga Waiwuang mengadakan pesta adat nyale dalam wujud pasola guna melupakan kesedihan mereka yang telah kehilangan salah satu wanita tercantiknya, Rabu Kaba.

Berawal dari cerita rakyat Sumba tersebut, kini Festival Pasola telah menjadi salah satu festival tahunan di Sumba, Nusa Tenggara Timur. Festival yang namanya diambil dari dua suku kata, yaitu “Sola” yang berarti tombak/lembing kayu dan “Pa”yang berarti permainan ini, hanya diadakan di Sumba Barat dan Sumba Barat Daya dan bergiliran dari desa satu ke satu desa lainnya.

Secara utuh, Festival Pasola ini merupakan sebuah permainan khas Sumba, dimana dua orang yang menunggangi kuda saling melempar tombak atau lembing. Festival ini diawali dengan pelaksanaan adat nyale, yaitu upacara rasa syukur pada saat bulan purnama dan cacing-cacing laut melimpah di pinggir pantai.

When the three tough leaders of Waiwuang Village named Umbu Amahu, Ngongo Tau Masusu, and Bayang Amahu left for a long period of time and did not return to their village, locals who were afflicted with longing then thought that they had died.

However, the three leader were surprisingly still alive and returned to Waiwuang Village. It was at that time, Umbu Amahu heard the news that his wife, Rabu Kaba, had turned to a man from Kodi Village named Teda Gaiparona. Amahu who could not accept the fact, looked for Kaba. Although unfortunately, his wife refused.

In the end he asked Gaiparona to pay him a dowry in the form of cow, buffalo, and valuables. Gaiparona and Kaba finally held their marriage ceremony in an official way. At the end of the marriage, Umbu Dulla's family advised that Waiwuang people held a nyale tradition in the form of a pasola to let go of the sadness of those who had lost one of their most beautiful women, Rabu Kaba.

Starting from that Sumba folklore, the Pasola Festival has now become one of the annual festivals in Sumba, East Nusa Tenggara. Pasola Festival is generally a typical Sumba game, where two people riding horses throw spears or javelins. This festival begins with the implementation of nyale tradition – a gratitude ceremony during the full moon when an abundance of sea worms come on the beach.

Di beberapa desa Dinas Pariwisata Provinsi NTT
     276 views

1 Januari - 9 Maret 2019 | 08:00 - Selesai

gratis

Sumba Barat & Sumba Barat Daya, NUSA TENGGARA TIMUR

Di beberapa desa.
Lihat peta

Dikelola Oleh : Dinas Pariwisata Provinsi NTT

Hubungi :  Dinas Pariwisata Provinsi NTT

Tautan :       

Kala ketiga pemimpin tangguh Kampung Waiwuang bernama Umbu Amahu, Ngongo Tau Masusu, dan Bayang Amahu pergi dalam kurun waktu yang cukup lama dan tak kunjung pulang ke kampungnya, warga yang dirundung kerinduan kemudian menyangka jika mereka telah meninggal dunia.

Namun, tanpa disangka, ketiga pemimpin itu rupanya masih hidup dan kembali ke Kampung Waiwuang. Saat itu pula, Umbu Amahu telah mendapat kabar bahwa sang istri, Rabu Kaba, berpaling pada pria dari Kampung Kodi bernama Teda Gaiparona. Amahu yang tak terima, kemudian mencari Kaba. Namun sayang, sang istri menolaknya.

Akhirnya ia pun meminta Gaiparona untuk membayar belis kepadanya berupa kudam sapi, kerbau, serta barang berharga. Gaiparona dan Kaba pun akhirnya melangsungkan upacara perkawinan secara resmi. Di akhir pernikahan, keluarga Umbu Dulla berpesan agar Warga Waiwuang mengadakan pesta adat nyale dalam wujud pasola guna melupakan kesedihan mereka yang telah kehilangan salah satu wanita tercantiknya, Rabu Kaba.

Berawal dari cerita rakyat Sumba tersebut, kini Festival Pasola telah menjadi salah satu festival tahunan di Sumba, Nusa Tenggara Timur. Festival yang namanya diambil dari dua suku kata, yaitu “Sola” yang berarti tombak/lembing kayu dan “Pa”yang berarti permainan ini, hanya diadakan di Sumba Barat dan Sumba Barat Daya dan bergiliran dari desa satu ke satu desa lainnya.

Secara utuh, Festival Pasola ini merupakan sebuah permainan khas Sumba, dimana dua orang yang menunggangi kuda saling melempar tombak atau lembing. Festival ini diawali dengan pelaksanaan adat nyale, yaitu upacara rasa syukur pada saat bulan purnama dan cacing-cacing laut melimpah di pinggir pantai.

Jadwal Festival Pasola

Kabupaten Sumba Barat Daya
Pasola Homba Kalayo: 30 Januari
Pasola Bondo Kawango: 1 Februari
Pasola Rara Winyo: 2 Februari
Pasola Maliti Bondo Ate: 7 Maret
Pasola Waiha: 8 Maret
Pasola Wainyapu: 9 Maret

Kabupaten Sumba Barat
Pasola Wanokaka:
Pasola Lamboya: 2 Februari

Acara ini diposting oleh: Spektakel

diposting pada 17 Februari 2019



 
Disclaimer: Perubahan tanggal, pembatalan acara dapat terjadi dan bukan tanggung jawab dari Spektakel.id
 

Posting Terkait

Festival Budaya Lembah Baliem 2019

7 - 10 Agust 2019
Jayawijaya

 

 

Top