Musik

Brebes Reggae Bersatu: Berjamming #7

  41      Simpan ke kalender 2019-03-03 09:00:00 2019-03-03 17:00:00 Asia/Jakarta Brebes Reggae Bersatu: Berjamming #7 Dikembangkan di Jamaika pada akhir era 60-an, aliran musik reggae awalnya merujuk pada gaya musik khusus yang muncul mengikuti perkembangan ska dan rocksteady. Sekitar tahun 1986, aliran yang namanya diambil dari pengucapan dalam logat Afrika yaitu “ragged” ini, mulai masuk dan berkembang di Indonesia. Black Company merupakan salah satu band yang mengawali datangnya musik reggae di Indonesia. Sayangnya, stereotip di Indonesia tentang reggae justru terkesan terpinggirkan.

Namun, di tahun 2009, nama Mbah Surip melalui lagunya yang berjudul ‘Tak Gendong’ kemudian meledak di pasaran dan secara tidak langsung melunturkan stereotip dan stigma negatif terhadap musik reggae di Indonesia. Lagu yang begitu sederhana membuat semua orang hafal dan senang menyanyikan lagu-lagu Mbah Surip. Kala itu, musik reggae sukses meraih popularitas yang sangat massif.

Walau pada kenyataannya selera musik di pasar mainstream terus berubah, tapi musik reggae tetap selalu punya tempat di hati para penikmat dan penggemar beratnya. Berbagai komunitas reggae kemudian lahir dan berkembang di sejumlah daerah di Indonesia hingga kini. Salah satunya di Brebes, Jawa Tengah.

Brebes Reggae Bersatu (BRB) menjadi salah satu wadah pertunjukan bagi seluruh pecinta dan komunitas musik reggae di wilayah yang dikenal dengan produksi bawang merah dan telur asinnya itu. Pada Maret 2019 ini, BRB Berjamming 2019 akan kembali dapat disaksikan di Halaman Stadion Karang Birahi. “I Love you full.. Ha.. Ha.. Ha” – Mbah Surip

Developed in Jamaica in the late 60s, reggae initially referred to a particular music genre that emerged following the development of ska and rocksteady. Around 1986, this music genre whose name was taken from the pronunciation in the African accent, "ragged", began to enter and develop in Indonesia. Black Company is one of the bands that welcomed the arrival of reggae in Indonesia. Unfortunately, the stereotype of reggae in Indonesia seems to be marginalized.

However, in 2009, the name of Mbah Surip through his song entitled ‘Tak Gendong' (I’ll Carry) exploded in the market and indirectly dissolved the stereotype and negative stigma of reggae in Indonesia. A song that is so simple has made everyone memorise and fond of singing Mbah Surip’s songs. At that time, reggae succeeded in gaining massive popularity.

Although in reality the taste of music in the mainstream market continues to change, but reggae still has a place in the hearts of its enthusiasts and big fans. Various reggae communities have been born and developed in a number of regions in Indonesia nowadays. One of them is in Brebes, Central Java.

Brebes Reggae Bersatu (BRB) has become one of the venues for all lovers and reggae communities in the region, known as the production of shallot and salted eggs. In March 2019, BRB Berjaming 2019 will be back on stage at the front yard of Karang Birahi Stradium.

Stadion Karangbirahi Jl. Veteran, Kaumanbaru ASAP Studio Musik
     269 views

3 Maret 2019 | 09:00 - 17:00

berbayar

Brebes, JAWA TENGAH

Stadion Karangbirahi, Jl. Veteran, Kaumanbaru.
Lihat peta

Dikelola Oleh : ASAP Studio Musik

Hubungi :  ASAP Studio Musik | 08983136104

Tautan :   

Dikembangkan di Jamaika pada akhir era 60-an, aliran musik reggae awalnya merujuk pada gaya musik khusus yang muncul mengikuti perkembangan ska dan rocksteady. Sekitar tahun 1986, aliran yang namanya diambil dari pengucapan dalam logat Afrika yaitu “ragged” ini, mulai masuk dan berkembang di Indonesia. Black Company merupakan salah satu band yang mengawali datangnya musik reggae di Indonesia. Sayangnya, stereotip di Indonesia tentang reggae justru terkesan terpinggirkan.

Namun, di tahun 2009, nama Mbah Surip melalui lagunya yang berjudul ‘Tak Gendong’ kemudian meledak di pasaran dan secara tidak langsung melunturkan stereotip dan stigma negatif terhadap musik reggae di Indonesia. Lagu yang begitu sederhana membuat semua orang hafal dan senang menyanyikan lagu-lagu Mbah Surip. Kala itu, musik reggae sukses meraih popularitas yang sangat massif.

Walau pada kenyataannya selera musik di pasar mainstream terus berubah, tapi musik reggae tetap selalu punya tempat di hati para penikmat dan penggemar beratnya. Berbagai komunitas reggae kemudian lahir dan berkembang di sejumlah daerah di Indonesia hingga kini. Salah satunya di Brebes, Jawa Tengah.

Brebes Reggae Bersatu (BRB) menjadi salah satu wadah pertunjukan bagi seluruh pecinta dan komunitas musik reggae di wilayah yang dikenal dengan produksi bawang merah dan telur asinnya itu. Pada Maret 2019 ini, BRB Berjamming 2019 akan kembali dapat disaksikan di Halaman Stadion Karang Birahi. “I Love you full.. Ha.. Ha.. Ha” – Mbah Surip

HTM: Rp20.000 (Presale I, 21 Januari - 9 Februari); Rp25.000 (Presale II, 10 - 24 Februari)

Acara ini diposting oleh: Spektakel

diposting pada 21 Februari 2019



 
Disclaimer: Perubahan tanggal, pembatalan acara dapat terjadi dan bukan tanggung jawab dari Spektakel.id
 

Posting Terkait

Jazz Gunung Bromo 2019

26 - 27 Juli 2019
Probolinggo

Bokor World Music Festival 2019

22 - 23 Nov 2019
Kepulauan Meranti

 

 

Top