© banyumasku.com

Pertunjukan

Pentas Ebeg Banyumasan

  7      Simpan ke kalender 2019-04-25 01:00:00 2019-04-25 24:00:00 Asia/Jakarta Pentas Ebeg Banyumasan Irama musik bendhe bersenandung indah mengiringi para penari yang menunggangi boneka kuda dari anyaman bambu. Aroma kemenyan semerbak tercium dalam keramaian. Aneka sesajen (sesaji) berupa pecahan kaca, bunga-bunga, kelapa, hingga padi dan dhedek (pakan ternak) pun disediakan di antara para penari.

Semakin larut dalam irama musik, para penari mulai menunjukan gerakan-gerakan yang tak biasa. Mereka pun tak segan untuk memakan aneka sesajen tadi dengan lahap dan beringas. Orang-orang sekitar bilang, para penari sedang mendem, atau dirasuki roh halus. Keadaan ini diyakini sebagai wujud diri bak kesatria yang kuat. Dalam atraksi ini, para penari juga ditemani oleh atraksi dari barongan, penthul dan cepet.

Masyarakat Banyumas menyebut atraksi seni tersebut sebagai Ebeg. Pertunjukan asli dari tanah Jawa Banyumasan ini adalah salah satu kesenian tua yang diyakini sudah ada sejak zaman kepercayaan animisme dan dinamisme.

Berbeda dari kesenian Jawa lainnya, ebeg sama sekali tidak terpengaruh oleh budaya dari kerajaan Hindu atau Islam di tanah Jawa. Pertujukan ini murni merefleksikan kehidupan masyarakat tradisional Banyumas. Dalam setiap pertunjukannya, tak jarang ebeg juga mengajak para penontonnya untuk berpartisipasi. Para penonton akan ikut kesurupan dan mengikuti gerakan-gerakan para penari. Tahap ini biasa disebut sebagai indhanger.

Kini, pertunjukan ebeg telah mengalami beberapa perubahan. Penataan dalam hal gerak tari, iringan, hingga kostum dan properti telah dilakukan. Bahkan, alunan bendhe yang merupakan latar musik ebeg, kini tak jarang mulai tergantikan dengan irama musik calung atau gamelan Banyumasan. Biasanya, pertunjukan ebeg dapat ditonton pada saat awal Sura (tahun baru Jawa) serta di berbagai acara hajatan penduduk, seperti khitanan, pesta perkawinan, dan pesta rakyat Banyumas.

In the crowd, wearing accessories like a leathered horse, the dancers begin to dance sprightly through a "bendhe" music as a back sound. At the same time, the aroma of incense is smelled in all over the place. Many various traditional offerings like flowers, coconuts, broken glass, also rice and "dhedek" (animal feed) are served to the dancers.

Enjoying the music, the dancers show the kind of uncommon choreographies. They also begin to eat the traditional offerings voraciously. The local audiences said that the dancers are beginning to trance which is called "mendem". It is believed as a reflection of a strong knight. During the show, there are also other performances by "barongan", "penthul", and "cepet".

For Banyumas people, these performing art is called Ebeg. Moreover, this performing art is one of the oldest art in Central Java that had been existed since animism and dynamism era.

Being different from other Javanese arts, Ebeg did not affect to any Hinduism or Islamism at all. This performing arts purely reflects Banyumas traditional society. In every show, often, the audiences are also trance and following anything the dancers do. In another way, it is called "indhanger".

Nowadays, the choreographies, dance music, also costume and properties of Ebeg have been changed. Even, bendhe music also changed into clung and gamelan. However, Ebeg still being one of the local favorite performing arts ever in Banyumas. We can find this performance at Sura Festival (Javanese New Year) and any kind of local celebration like khitanan and wedding party.

     79 views

Sepanjang tahun

gratis

Banyumas, JAWA TENGAH

.
Lihat peta

Tautan :       

Irama musik bendhe bersenandung indah mengiringi para penari yang menunggangi boneka kuda dari anyaman bambu. Aroma kemenyan semerbak tercium dalam keramaian. Aneka sesajen (sesaji) berupa pecahan kaca, bunga-bunga, kelapa, hingga padi dan dhedek (pakan ternak) pun disediakan di antara para penari.

Semakin larut dalam irama musik, para penari mulai menunjukan gerakan-gerakan yang tak biasa. Mereka pun tak segan untuk memakan aneka sesajen tadi dengan lahap dan beringas. Orang-orang sekitar bilang, para penari sedang mendem, atau dirasuki roh halus. Keadaan ini diyakini sebagai wujud diri bak kesatria yang kuat. Dalam atraksi ini, para penari juga ditemani oleh atraksi dari barongan, penthul dan cepet.

Masyarakat Banyumas menyebut atraksi seni tersebut sebagai Ebeg. Pertunjukan asli dari tanah Jawa Banyumasan ini adalah salah satu kesenian tua yang diyakini sudah ada sejak zaman kepercayaan animisme dan dinamisme.

Berbeda dari kesenian Jawa lainnya, ebeg sama sekali tidak terpengaruh oleh budaya dari kerajaan Hindu atau Islam di tanah Jawa. Pertujukan ini murni merefleksikan kehidupan masyarakat tradisional Banyumas. Dalam setiap pertunjukannya, tak jarang ebeg juga mengajak para penontonnya untuk berpartisipasi. Para penonton akan ikut kesurupan dan mengikuti gerakan-gerakan para penari. Tahap ini biasa disebut sebagai indhanger.

Kini, pertunjukan ebeg telah mengalami beberapa perubahan. Penataan dalam hal gerak tari, iringan, hingga kostum dan properti telah dilakukan. Bahkan, alunan bendhe yang merupakan latar musik ebeg, kini tak jarang mulai tergantikan dengan irama musik calung atau gamelan Banyumasan. Biasanya, pertunjukan ebeg dapat ditonton pada saat awal Sura (tahun baru Jawa) serta di berbagai acara hajatan penduduk, seperti khitanan, pesta perkawinan, dan pesta rakyat Banyumas.

Lihat jadwal pentas harian Ebeg Banyumasan di link Facebook.

Acara ini diposting oleh: Spektakel

diposting pada 25 April 2019



 
Disclaimer: Perubahan tanggal, pembatalan acara dapat terjadi dan bukan tanggung jawab dari Spektakel.id
 

Posting Terkait

 

 

Top