Budaya

Dieng Culture Festival 2019

  7      Simpan ke kalender 2019-08-02 09:00:00 2019-08-04 24:00:00 Asia/Jakarta Dieng Culture Festival 2019 Di sebuah dataran dengan ketinggian 2000 mdpl., beberapa balita dan anak-anak berusia kira-kira 5-8 tahun mengalami demam tinggi. Suhu di wilayah mereka tempati mencapai 0 derajat Celcius. Embun pun membeku, menutupi seluruh rerumputan dan seluruh tanaman pertanian.

Selang beberapa hari, demam itu pun turun. Suhu dingin yang menusuk-nusuk tubuh masih terasa. Rupanya, demam itu bukan disebabkan oleh suhu dan cuaca di sana. Turunnya demam dan suhu tubuh berbarengan dengan tumbuhnya rambut gimbal di kepala anak-anak itu.

Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, menyimpan kisah nyata yang unik. Orang-orang asli Dieng kerap kali lahir dengan rambut gimbal atau dalam bahasa lokal disebut rambut gembel. Biasanya, para orang tua akan mengadakan acara Ruwatan (pemotongan) rambut gimbal untuk anak-anaknya. Bersamaan dengan itu, orang tua juga mengadakan pengajian. Namun, Ruwatan biasanya baru bisa dilakukan saat sang anak sudah meminta diruwat.

Sejak tahun 2002, tradisi yang biasanya dilakukan secara kekeluargaan saja, kini dibuat secara massal. Ritual inilah yang selanjutnya melahirkan Dieng Culture Festival (DCF). Dalam festival tahunan ini, tradisi Ruwatan melalui tahap yang cukup panjang. Sebelum proses pemotongan rambut, para tetua adat akan melakukan ziarah ke 21 tempat yang dianggap suci dan mengambil air dari tujuh sumber mata air di Dataran Tinggi Dieng.

Di tahun ke-10 pelaksanaan DCF ini, Ruwatan tetap menajdi puncak acara. Seperti di tahun-tahun sebelumnya, DCF akan menghadirkan memori-memori indah dari dataran yang diapit Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Mulai dari parade budaya, panggung musik, hingga pelepasan lampion pada malam hari.

Dieng Culture Festival is a typical annual event of Dieng Plateau featuring various arts and cultures with its core event, shaving off of Dieng’s children’s deardlocks. Children with dreadlocks in Dieng were born with normal hair, but at some point at an early age, their hair grows to be dreadlocks.

According to local belief, these children with dreadlocks are cherry picked by the ancestors as a sign of prosperity level in the Dieng community. The more the existence of children with dreadlocks, Dieng people believe that their well-being will improve.

Shaving off of dreadlocks procession in children is called ruwatan. This hair pruning is only done when the child asks for it, otherwise it will regrow despite having been pruned. The ceremony begins with a procession of children with dreadlocks carried around the village, paraded on traditional Javanese horse-drawn carriages,uardby Manggala Yudha or royal troops and followed by various traditional artistic processions. These special children will then be taken to the Temple of Arjuna at the Dieng Temple complex where the dreadlocks pruning ritual will take place. Furthermore, shaved-off dreadlocks will be brought to the lake and submerged here as a symbol of returning the hair back to the ancestors.

Dieng Culture Festival which always attracts tens of thousands of visitors is also enlivened by performances of music on cloud (held in Dieng plateau), lantern party, documentary film festival, and other various arts and culture events.

Candi Arjuna Kompleks Candi Dieng, Dieng Kulon, Batur Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah visitjateng@disporapar.jatengprov.go.id
     103 views

2 - 4 Agustus 2019 | 09:00 - Selesai

berbayar

Banjarnegara, JAWA TENGAH

Candi Arjuna, Kompleks Candi Dieng, Dieng Kulon, Batur.
Lihat peta

Dikelola Oleh : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah

Hubungi :  Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah ‑ visitjateng@disporapar.jatengprov.go.id | 024-3546001

Tautan :           

Di sebuah dataran dengan ketinggian 2000 mdpl., beberapa balita dan anak-anak berusia kira-kira 5-8 tahun mengalami demam tinggi. Suhu di wilayah mereka tempati mencapai 0 derajat Celcius. Embun pun membeku, menutupi seluruh rerumputan dan seluruh tanaman pertanian.

Selang beberapa hari, demam itu pun turun. Suhu dingin yang menusuk-nusuk tubuh masih terasa. Rupanya, demam itu bukan disebabkan oleh suhu dan cuaca di sana. Turunnya demam dan suhu tubuh berbarengan dengan tumbuhnya rambut gimbal di kepala anak-anak itu.

Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, menyimpan kisah nyata yang unik. Orang-orang asli Dieng kerap kali lahir dengan rambut gimbal atau dalam bahasa lokal disebut rambut gembel. Biasanya, para orang tua akan mengadakan acara Ruwatan (pemotongan) rambut gimbal untuk anak-anaknya. Bersamaan dengan itu, orang tua juga mengadakan pengajian. Namun, Ruwatan biasanya baru bisa dilakukan saat sang anak sudah meminta diruwat.

Sejak tahun 2002, tradisi yang biasanya dilakukan secara kekeluargaan saja, kini dibuat secara massal. Ritual inilah yang selanjutnya melahirkan Dieng Culture Festival (DCF). Dalam festival tahunan ini, tradisi Ruwatan melalui tahap yang cukup panjang. Sebelum proses pemotongan rambut, para tetua adat akan melakukan ziarah ke 21 tempat yang dianggap suci dan mengambil air dari tujuh sumber mata air di Dataran Tinggi Dieng.

Di tahun ke-10 pelaksanaan DCF ini, Ruwatan tetap menajdi puncak acara. Seperti di tahun-tahun sebelumnya, DCF akan menghadirkan memori-memori indah dari dataran yang diapit Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Mulai dari parade budaya, panggung musik, hingga pelepasan lampion pada malam hari.

Acara ini diposting oleh: Spektakel

diposting pada 14 Mei 2019



 
Disclaimer: Perubahan tanggal, pembatalan acara dapat terjadi dan bukan tanggung jawab dari Spektakel.id
 

Posting Terkait

Festival Budaya Lembah Baliem 2019

7 - 10 Agust 2019
Jayawijaya

 

 

Top