L O A D I N G
Sorotan | Ritual Adat

Tembakau dan Tradisi Warga

11/03/20

Teks: Elva Laily | Foto: Darwin Nugraha
Masyarakat Dusun Lamuk Legok merupakan penganut Islam Aboge. Penganut Islam Aboge menjalankan syariat Islam pada umumnya, namun biasanya disertai tradisi-tradisi lokal. Islam Aboge bukanlah suatu aliran keagamaan. Aboge, yang merupakan akronim dari Alip–Rebo–Wage, merupakan jenis perhitungan kalender Jawa yang didasarkan peredaran windu, dan bukan sebuah bentuk ajaran.

Selama musim tembakau, warga jarang berkumpul satu sama lain. Mereka sibuk dengan urusan kebun dan mengolah tembakau mereka. Maka, ketika mereka memiliki jeda di antara panen dan musim tanam baru, di Lamuk Legok sesekali diadakan acara ’ngumpul-ngumpul’, seperti menanggap kuda lumping, menampilkan pentas ketoprak, atau sekadar mengobrol saja. Ajang ini merupakan wadah bagi warga untuk bertemu satu sama lain, mempererat rasa handarbeni (kebersamaan) antarwarga. Rasa ini perlu terus dirawat mengingat selama masa musim tembakau masing-masing warga sibuk dengan urusan tembakau masing-masing.

Rasa kebersamaan dalam warga Lamuk Legok juga terlihat dalam kegiatan gotong-royong, seperti pada saat membangun infrastruktur desa. Misalnya, dalam perbaikan dan perawatan infrastruktur desa. Kebersamaan ini juga terlihat ketika ada warga meninggal. Manakala ada keluarga yang tertimpa musibah kematian, warga satu desa akan menunggu di rumah duka. Warga laki-laki dan perempuan saling berbagi tugas. Kaum perempuan bertugas untuk membantu urusan dapur, sementara para laki-laki bertugas untuk menyambut pelayat yang datang. Sedangkan pembuatan liang lahat dilakukan oleh pemuda satu dusun. Hal ini memang tidak diwajibkan, namun ada rasa tidak enak kalau tidak hadir. Sebelum jenazah dikebumikan, warga belum boleh pulang. Ketika melayat, biasanya warga perempuan membawa beras, kelapa, atau telur. Warga laki-laki biasanya menyumbang uang. Hal ini dilakukan untuk meringankan beban bagi keluarga yang ditinggalkan.

Tidak membantah ketika orangtua sedang berbicara, menghormati kepala desa sebagai pemimpin warga, dan saling menghargai antarwarga, merupakan beberapa contoh perwujudan unggah-ungguh (tata krama) yang masih sangat dipegang oleh masyarakat Lamuk Legok.

Bila bertamu ke rumah warga di Lamuk Legok, saya selalu dipersilakan untuk makan. Perlakuan seperti ini merupakan bentuk keramahan dan penghormatan warga kepada tamu. Hal ini tentu saja menyenangkan, namun acap kali membuat saya kewalahan, apalagi jika dalam satu hari itu saya tidak hanya berkunjung ke satu rumah. Karena itu, sampai-sampai, saya harus mengosongkan perut dahulu jika akan berkunjung ke dusun ini. Jika tidak, saya akan pulang dengan perut kekenyangan.

Masyarakat Dusun Lamuk Legok merupakan penganut Islam Aboge. Seperti para pemeluk Islam di mana pun, penganut Islam Aboge meyakini keesaan Allah SWT serta Nabi Muhammad sebagai junjungan-Nya. Penganut Islam Aboge juga menjalankan syariat Islam sebagaimana penganut Islam pada umumnya, namun biasanya dalam pelaksanaannya seringkali disertai tradisi-tradisi lokal. Islam Aboge bukanlah suatu aliran keagamaan. Aboge, yang merupakan akronim dari Alip–Rebo–Wage, merupakan jenis perhitungan kalender Jawa yang didasarkan peredaran windu, dan bukannya sebuah bentuk ajaran. Menurut Aboge, satu windu terdiri dari tahun Alip, He, Jim Awal, Je, Dal, Be, Wawu, dan Jim Akhir. Dalam satu tahun terdapat 12 bulan, dan satu bulan terdiri atas 29–30 hari, dengan hari Pasaran berdasarkan perhitungan Jawa, yakni Pon, Wage, Kliwon, Manis (Legi) dan Pahing. Dalam hal ini, pasaran pertama pada tahun Alif jatuh pada Rebo Wage.

Penganut Islam Aboge di Lamuk Legok mengikuti penanggalan yang sudah ditentukan pemerintah dalam memperingati hari besar keagamaan, seperti hari raya Idul Fitri, Idul Adha, dan Tahun Baru Islam. Hal ini merupakan bentuk penghormatan warga terhadap Negara Republik Indonesia. Namun, mereka merayakannya berdasarkan penanggalan Aboge. Konsekuensinya, biasanya perayaan hari-hari keagamaan mereka akan terjadi selisih satu atau dua hari dari penanggalan resmi pemerintah. Misalnya, Idul Fitri jatuh pada hari Rabu, warga akan merayakannya pada hari Kamis atau Jumat.

Penanggalan Aboge juga dijadikan patokan untuk menjalankan ritual di Lamuk Legok. Misalnya, menurut penanggalan Aboge, di tahun ini, 1 Sura akan jatuh di hari Jumat Pon. Di hari Jumat Pon tidak boleh diadakan selamatan atau ritual.

Dalam doanya, warga Lamuk Legok menyelipkan istilah “kakang kawah adi ari-ari, kiblat papat limo pancer”(1). Ini menunjukkan bahwa manusia mengakui sebagai bagian dari makhluk yang ada dalam alam semesta.

Sedulur papat itu adalah yang lahir ke dunia ini bersamaan dengan jabang bayi yaitu kawah (ketuban), ari-ari (plasenta), puser (tali pusar), darah dan yang ke limo (kelima) adalah pancer yaitu diri manusia beserta seluruh perangkat yang menyertainya. Semua adalah saudara manusia.

Pemangku adat juga menjelaskan sebelum wujud bayi lahir, darah putih sudah lahir terlebih dahulu, baru kemudian jabang bayi. Lalu ari-ari lahirnya belakangan. Maka kemudian disebut sebagai ‘kakang kawah adi ari-ari’.

Masyarakat Lamuk Legok, saat berdoa diawali dengan membaca basmalah, baru kemudian dilanjutkan dengan doa berikut: “Kakang kawah adi ari ari sederek pitu ingkang nunggil sak garwo putro ingkang kahurmatanku mboten kahurmatan kiblat sekawan gangsal pancer sedoyo tansah tumanjuk wonten ing jiwo kasaleliro ing sak lami laminipun.”

Doa itu dimaksudkan untuk memberi hormat bakti kepada unsur-unsur manusia, bumi, air, angin, api, cipta, logika, pikiran untuk tetap menjadi satu keasatuan utuh untuk menjadi diri pribadi selamanya.

Hampir setiap bulan, warga Lamuk Legok mengadakan acara slametan (syukuran). Acara ini diadakan setiap bulan di atas tanggal 10 atau sebelum tanggal 15 menurut penanggalan Jawa. Slametan bulanan ini bertujuan untuk menghormati para nabi dan para wali.

Ditambahkan oleh pemangku adat, warga Dusun Lamuk Legok yang mengadakan selamatan atau hajatan harus membuat jenang abang pethak (jenang merah putih), seperti pada acara pemberian nama anak yang baru lahir atau selamatan pernikahan. Jenang abang (merah) itu mewujudkan kita sewaktu lahir, yaitu darah merah dan darah putih. Hal ini merupakan wujud harapan. Semoga menyatu jiwa dan raga serta lahir dan batin. Berharap sang penjaga malam kelahiran akan memberi rejeki di hari kelahiran. Jenang abang itu wujud ikrar darah merah. Jenang putih itu mengikrarkan wujud darah putih. (2

Selain acara selamatan bulanan, warga Lamuk Legok memiliki ritual-ritual yang dilakukan sepanjang musim tembakau. Ritual-ritual ini merupakan wujud penghormatan kepada Dewi Sri yang telah memberikan keberka han kepada warga Lamuk Legok sehingga mendapatkan hasil berupa tembakau srinthil dengan mutu terbaik. Macam-macam ritual yang mereka adakan. Misalnya, Nyecel, Lekas Nandur, Miwiti, dll. (lihat di bawah). Ritual-ritual ini dilaksanakan mulai dari sebelum menanam sampai pascapanen. Tak mengherankan apabila masyarakat Lamuk Legok menyatakan bahwa perlakuan mereka terhadap tembakau dianggap sebagai sebentuk laku.

Nyecel/Lekas Macul

Ritual ini diawali dengan membakar kemenyan yang dijepit bilah di atas bara api. Pada saat membakar kemenyan, petani memanjatkan doa dan harapannya. Nyecel dilakukan petani untuk mengawali pencangkulan tanah pada saat akan memulai olah lahan. Ritual ini di adakan di kebun tembakau. Pada ritual ini petani membawa sesaji berupa tumpeng cambah pethek.

Sesaji ini merupakan sesaji wajib pada setiap ritual di Dusun Lamuk Legok. Isinya antara lain nasi yang dibuat tumpeng lalu dibakar. Karena itu, tumpeng ini juga dinamakan tumpeng bakar. Di atas tumpeng ini di beri tusukan cabai merah, bawang putih, dan bawang merah. Selain itu, ada pethek (ikan asin/kering) dan kecambah, terasi, dan telur rebus sebagai pelengkap. Karena isian tersebut, tumpeng ini juga disebut tumpeng cambah pethek. Tusukan cabai merah, bawang putih, dan bawang merah melambangkan tombak yang diyakini dapat menolak bala.

Tumpeng melambangkan keselamatan. Proses pembakaran tumpeng memiliki filosofi jiwa yang dibakar/digembleng agar nantinya bisa tangguh menghadapi tekanan dan keadaan serta bisa menahan hawa nafsu. Cambah (tunas) merupakan simbol rezeki yang terus bertambah, yang diibaratkan seperti biji yang berkecambah dan tumbuh ke atas. Dengan ini diharapkan harga dan kualitas tembakau akan terus naik, sehingga rezeki yang didapat petani akan bertambah.

Pethek (ikan asin) merupakan simbol penyatuan. Simbol ini tidak bisa dilepaskan dari legenda yang diyakini Masyarakat Lamuk Legok tentang bersatunya Dewi Sri dan Joko Bergolo. Alkisah, Joko Bergolo sangat mencintai Dewi Sri. Namun, penyatuan cinta mereka terhalang oleh Patih Haryo Puring karena menganggap mereka berbeda alam. Dewi Sri adalah seorang bidadari sedangkan Joko Bergolo adalah seorang raksasa. Karena begitu mencintai Dewi Sri, Joko Bergolo rela disabda menjadi ikan laut. Setelah berubah menjadi ikan laut, Joko Bergolo bertekad akan selalu mencintai Dewi Sri di mana pun dia berada. Untuk menghormati keduanya, masyarakat Lamuk Legok akan menyajikan pethek setiap awal panen tembakau. Hal ini sudah dipercaya secara turun temurun oleh masyarakat Lamuk Legok.

Terasi merupakan sejenis pasta yang dibuat dari ikan/udang yang menjadi pangejawantahan saripati dari laut dan diyakini bisa menetralkan makhluk-makhluk jahat yang sering mengganggu di tempat-tempat berair yang terdapat di sekitar ladang tembakau.

Telur rebus merupakan simbol dari awal kehidupan. Artinya, petani akan memulai lembaran baru dari mulai tanam ke tahapan panen. Telur yang digunakan adalah telur ayam kampung/ayam jawa. Ritual ini bisa dikatakan sebagai sebuah janji yang mengikat antara petani dengan Dewi Sri.

Pada saat penanaman, ada kebiasaan para petani menutupi benihnya dengan kain jarit. Kebiasaan ini dikarenakan adanya legenda tentang Dewi Sri yang dipercaya sebagai dewi pelindung tanaman. Alkisah, Dewi Sri terlibat perselisihan dengan raja dari Gribik. Ketika akan menanam tanaman, Dewi Sri diserang oleh prajurit Gribik yang bernama Prabu Kala Gumarang. Namun Dewi Sri bisa mengalahkan sang prajurit dengan bersen jatakan jarit bermotif ceplok songo. Memakai jarit untuk membungkus benih tembakau adalah upaya mengikuti jejak Dewi Sri agar tanaman tembakaunya diselamatkan dan dilindunginya.

Lekas Nandur/Nglekasi

Lekas Nandur atau Nglekasi merupakan bentuk ritual yang diadakan di kebun tembakau sebagai pertanda petani akan memulai menanam tembakaunya. Biasanya ritual Lekas Nandur diadakan sebulan sebelum penanaman. Misalnya, jika jadwal untuk mulai menanam tembakau pada Maret, maka ritual ini diadakan sekitar Februari. Doa yang dipanjatkan sama dengan ritual sebelumnya, yaitu mengharap keselamatan dan kelancaran dalam olahtanam tembakau. Sesaji dalam ritual ini sama dengan Nyecel, yaitu tumpeng cambah pethek.

Doa dan harapan yang diungkapkan petani saat Nglekasi kurang lebih seperti di bawah ini:

“Niat ingsun arep titip nandur mbako ono ing tegal kene. Mugo-mugo Gusti Allah maringi pitulungan, mbakone lemu, adoh seko panggodho pengencono, nyuwun berkahe poro nabi, poro wali, nyuwun berkahe Ki Ageng Maku-kuhan, panembahan tegil. Mbesok mbakone payu larang tak upah-upahi juadah pasar ketan salak.”

Yang artinya: “Niat saya hendak menanam tembakau di ladang ini. Semoga Gusti Allah memberi pertolongan, tembakaunya subur, jauh dari gangguan dan ancaman. Mohon berkah (juga) dari para nabi, para wali, dan berkah dari Ki Ageng Makukuhan, sang penjaga ladang. (Jika) nanti tembakau laku dengan harga tinggi, saya akan persembahkan juadah pasar ketan salak”.

Ritual ini bisa dikatakan sebagai sebuah janji yang mengikat antara petani dengan Dewi Sri.

Pada saat penanaman, ada kebiasaan para petani menutupi benihnya dengan kain jarit. Kebiasaan ini di karenakan adanya legenda tentang Dewi Sri yang dipercaya sebagai dewi pelindung tanaman. Alkisah, Dewi Sri terlibat perselisihan dengan raja dari Gribik. Ketika akan menanam, Dewi Sri diserang oleh prajurit Gribik yang bernama Prabu Kala Gumarang. Namun Dewi Sri bisa mengalahkan sang prajurit dengan bersenjatakan jarit bermotif ceplok songo. Memakai jarit untuk membungkus benih tembakau adalah upaya mengikuti jejak Dewi Sri agar tanaman tembakaunya diselamatkan dan dilindunginya.

Miwiti/Lekas Petik

Miwiti atau lekas petik merupakan ritual untuk meng awali pemetikan tembakau. Miwiti dilakukan di kebun tembakau. Pelaksanaannya tidak boleh bertepatan dengan sangar tahun, istilah untuk menyebut hari pertama permulaan tahun Jawa yang jatuh pada hari Rebo Wage berdasarkan penanggalan Aboge. Waktu lain yang Harus dihindari untuk pelaksanaan miwiti adalah hari naas (hari sial), misalnya hari meninggalnya orangtua.

Isi sesaji dalam ritual ini adalah tumpeng cambah pethek, beras kapuroto, gula kelapa, biji-bijian, telur rebus, dan kemenyan. Ritual berlangsung di kebun tembakau dan sifatnya perorangan. Dalam prosesi ini, semua sesaji diletakkan dalam satu tempat. Diawali dengan pembacaan doa, kemudian dilanjutkan dengan pembakaran kemenyan. Isi dari sesaji ini memiliki makna tersendiri.

Baca juga: Tutur Cerita Tembakau Srinthil

Beras kapuroto adalah beras yang dicampur dengan kunyit yang diparut. Unsur ini dipercaya dapat menolak bala dan dengan harapan agar nantinya tembakau bisa tumbuh berwarna kuning keemasan. Gulo (gula) dan klopo (kelapa) dalam sesaji melambangkan pengharapan petani agar hasil tanaman tembakaunya berbuah manis (mendapat hasil yang baik), sehingga petani mendapat rezeki yang halal untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Kemenyan merupakan simbol kesucian. Ketika ritual, kemenyan ini dibakar dan mengeluarkan asap yang di yakini suci. Asap ini akan menjadi saksi manusia ketika memohon kepada Allah SWT.

Semua sesaji dikumpulkan pada satu wadah. Kemudian, kemenyan didoakan untuk adalah memohon berkah dan keselamatan kepada Allah SWT, agar dijauhkan dari gangguan negatif. Kemudian meminta izin Ki Ageng Makukuhan, Sunan Kudus, dan Kyai Glidhig (pendiri desa). Masyarakat menganggap mereka adalah pahlawan tembakau. Karena tanpa mereka masyarakat tidak akan menikmati hasil tembakau sampai saat ini. Prosesi selanjutnya adalah pembakaran kemenyan yang dilanjutkan dengan pemetikan daun tembakau sesuai dengan jumlah hari, neptu, dan pasaran saat ritual. Misalnya, apabila Miwiti diadakan pada Minggu Kliwon, maka daun tembakau yang dipetik berjumlah 13, yang merupakan hasil penjumlahan dari angka 5 (hari Minggu) dan angka delapan (Kliwon).

Patokan masyarakat Lamuk Legok dalam menentukan neptu hari dan pasaran, berdasarkan penanggalan Jawa:

Daun tembakau yang sudah dipetik ini disandingkan dengan isi sesaji lainnya untuk didoakan kembali. Selanjutnya telur rebus dibelah menjadi dua bagian. Setelah itu, petani memetik sejumlah daun tembakau sesuai dengan jumlah hari, neptu, dan pasaran saat ritual. 

Daun tembakau yang telah dipetik dalam ritual Miwiti nantinya akan dibawa pulang untuk digantung di atas pintu. Penggantungan daun tembakau di atas pintu memiliki arti bahwa daun tembakau merupakan tanaman yang istimewa dan punya nilai sakral. Tembakau tersebut diharapkan menjadi awalan atau pembuka sehingga mengundang pembeli tembakau.

Tembakau conthong berbentuk seperti corong. Ada yang berukuran besar, ada pula yang kecil. Bentuknya yang melengkung seperti corong memiliki diameter antara 3-4 cm. Kemunculan tembakau ini tidak dapat dipastikan karena tidak selalu muncul dalam tiap musim. Menurut petani setempat, dalam kurun waktu 5–7 tahun, tembakau ini belum tentu muncul. Pak Topo menuturkan, ia bahkan baru sekali menjumpai tembakau conthong dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Jumlah dan tempat tumbuhnya tembakau conthong ini bervariasi. Ia bisa tumbuh di tunas atau tumbuh di tengah batang daun. Jumlah tembakau conthong yang muncul bisa sekitar satu sampai tiga buah dalam satu batang. Namun, tidak semua tanaman tembakau bisa terdapat tembakau conthong. Bahkan, dalam satu ladang tembakau, belum tentu ditumbuhi tembakau conthong. Tembakau conthong juga tidak mesti tumbuh di tanaman yang subur atau besar. Kemunculannya tidak bisa dipastikan pada jenis tanaman tembakau yang seperti apa, dan sebagian besar kemunculannya tidak disadari oleh petani.

Tembakau poleng memiliki ciri daun berwarna keputih-putihan, tetapi hal itu bukan disebabkan karena penyakit atau jamur. Kalau dilihat dari kejauhan, daun ini seperti transparan, mirip daun dari plastik. Jika ditemukan satu saja daun yang seperti ini di ladang, itu sudah dianggap sebagai seuatu yang sangat istimewa bagi petani.

Selain itu, daun tembakau ini menjadi bukti kepada Dewi Sri ketika ngelanglang jagad (mengitari jagad raya) bahwa petani ‘ora sak geleme dhewe’ (tidak sembarangan) memperlakukan daun tembakau. Dengan demikian, petani berharap akan mendapat pulung (keberuntungan) atau ndaru rigen (kemuliaan dan keberkahan) dari Dewi Sri.

Tungguk

Tungguk merupakan ritual yang dilakukan saat pertengahan petik tembakau. Ritual ini bisa dilaksanakan pada saat odeg, tenggok, atau mrothol. Dianjurkan ritual ini dilaksanakan pada hari, pasaran, dan neptu yang baik. Prosesi ritualnya hampir sama dengan Miwiti. Dengan menghadap sesaji, kemenyan dibacakan doa. Kemenyan dibakar sampai meleleh. Saat api masih membakar kemenyan, doa dipanjatkan.

Jika salah satu dari dua tembakau tersebut muncul di lahan, para petani meyakini mereka mendapat pulung mbako/ndaru rigen. Namun, menurut Pak Topo, tembakau conthong memiliki nilai lebih istimewa dibanding tembakau poleng. Bentuk tembakau conthong yang menyerupai kerucut, menurut Pak Topo, mendekati bentuk sarang burung (susuh). Bentuk ini diyakini para petani sebagai penampung (nadahi) keberkahan.

Apabila petani menjumpai tembakau conthong atau tembakau poleng di ladang, mereka akan memetiknya kemudian dibawa ke rumah lalu dijadikan satu dengan tembakau lain pada saat lekasan. Ada juga petani yang mengambilnya dengan langsung mencabut sekalian dengan seluruh batang tembakau yang ditumbuhi tembakau conthong meskipun pohon tersebut masih memiliki daun yang banyak. Batang tembakau utuh itu kemudian ditaruh di atas pintu rumah atau dijadikan satu saat Miwiti.

Selain dua jenis tembakau tersebut, diyakini masih ada jenis-jenis dan bentuk tembakau lain yang dianggap membawa keberuntungan. Mbah Karmin, misalnya, menyimpan sehelai daun tembakau yang bentuknya menyerupai buah belimbing. Bentuknya yang tidak biasa ini ia percaya memiliki keistimewaan dan membawa keberkahan untuk diri dan keluarganya.

Selesai memanjatkan doa, beras kapuroto disebar ke empat penjuru arah mata angin (sedulur papat lima pancer). Fungsinya untuk menolak bala. Sesaji kemudian dimakan bersama dan dibagikan kepada petani yang ada di kebun kecuali sego bakar cambah pethek yang nantinya akan ditinggalkan di kebun. Setelah itu Daun tembakau dipetik sampai habis karena ritualnya dilakukan saat masa mrotol.

Unsur sesaji dalam tungguk hampir sama dengan miwiti, hanya saja ada beberapa tambahan seperti daging ayam/bebek/kambing, jadah pasar, tembakau, ketan salak, daun sirih, candu, uang (duit) dan bunga wangi. Menurut penuturan pemangku adat, masing-masing se saji memiliki makna tersendiri.

Ingkung bebek atau ayam utuh melambangkan sekujur badan yang dipasrahkan dan orang yang mau melaku kan laku prihatin. Juadah pasar adalah segala sesuatu yang dibeli di pasar. Juadah pasar dibagi dalam dua jenis,yaitu juadah pasar kering (misalnya buah) dan juadah pasar basah (kue). Meskipun tidak komplit dan cuma beberapa saja jenisnya, paling tidak harus tersedia. Macamnya bisa empat atau tiga jenis, namun lebih banyak lebih baik. Juadah pasar menyimbolkan kalau kita mau membuat sesaji harus lah membeli, harus pergi ke pasar, hal itu merupakan sebuah wujud rasa bersyukur dan melebur sukerta-sukerti (penyebab kesialan) yang masih mengikuti rejeki petani. Kesialan diyakini bisa lepas di jalan maupun terbuang di pasar sewaktu kita melakukan jual-beli jajan pasar. Selain itu, juadah pasar dimaknai sebagai kekayaan alam semesta yang dikelola untuk kesejahteraan penghuni alam.

Tembakau merupakan pengejawantahan darma bakti petani tembakau kepada Ki Ageng Makukuhan. Sesaji ini merupakan bentuk pengharapan petani agar hasil panen tembakau ini lebih meningkat dari tahun lalu. Candu adalah unsur sesaji untuk menolak bala dari makhluk-makhluk jahat yang ada di ladang tembakau. Ketan salak terbuat dari beras ketan yang dimasak dengan gula jawa.  Ketan salak menjadi simbol kedekatan warga Lamuk Legoksari dengan Ki Ageng Makukuhan. Selain itu ketan menjadi sesaji yang diharapkan mampu mendekatkan antarwarga.

Daun sirih melambangkan Dewi Sri sebagai seorang perempuan. Bunga wangi merupakan simbol pengharapan semoga tembakau srinthil bisa dikenal harum ke seluruh penjuru dunia seperti semerbaknya wangi bunga. Biasanya bunga wangi yang digunakan dalam sesaji berupa bunga mawar, melati, kanthil dan kenanga.

Kepungan Jenang Candil

Ritual ini dilakukan saat akan memulai proses rajang tembakau. Dimaksudkan sebagai wujud penghormatan kepada Saudagar Dampu Awang yang dipercaya sebagai pembeli pertama tembakau srinthil untuk dijual ke Kudus. Selain itu, ritual ini ditujukan untuk menghormati belas kleas (penjaga/penunggu gobang) dengan harapan agar tembakau yang akan dirajang bisa nyrinthil seperti olahan ketan.

Ritual ini dilakukan malam hari setelah pada pagi harinya petani habis memetik daun tembakau kemudian memeramnya. Sesaji dalam ritual ini adalah jenang candil yang diberi wedang santen (kuah santan). Jenang candil yang digunakan sebagai sesaji minimal ada 7 (pitu) piring, yang menyimbolkan pitulungan (pertolongan). Kemudian wedang santen menyimbolkan pengharapan agar mendapat panen/hasil yang banyak. Setelah ritual selesai, perajangan tembakau baru bisa dilaksanakan. Perlu ditambahkan, ritual ini hanya dilaksanakan pada proses rajang tembakau yang pertama. Untuk perajangan tembakau selanjutnya tidak dilakukan ritual.

Merti Desa / Besaran

Merti desa atau besaran merupakan selamatan dengan rangkaian prosesi ritual yang panjang dan melibat kan seluruh warga Desa Legoksari, tak terkecuali warga Lamuk Legok. Ritual ini diadakan untuk menghormati Kyai Glidhig dan mensyukuri keberkahan dan kesela matan setelah selama satu tahun bertani tembakau. Ritual ini diadakan setahun sekali, tepatnya di bulan Besar (Dzulhijah). Hal itu dikarenakan Besar adalah bulan terakhir sebelum masyarakat menyambut tahun baru Islam, yaitu Suro (Muharram).

Pelaksanaan di bulan besar ini sudah menjadi patokan dan tradisi warga ritual ini dianggap sebagai ekspresi rasa bersyukur masyarakat yang telah diberi keselamatan selama satu tahun musim tembakau. Selain itu, warga berharap agar selalu diberi rezeki yang berlimpah dan barokah dalam menghadapi musim tanam yang baru.

Seluruh anggota masyarakat terlibat dalam persiapan dan pelaksanaannya. Para perangkat desa dan ketua rukun tetangga bergotong-royong membuat nasi tumpeng untuk acara. Sementara, di tempat kepala desa, ibu-ibu bekerja sama untuk membuat hidangan bagi warga yang mengikuti ritual. Beberapa warga ditugaskan merangkai tumpeng robyong untuk acara grebeg (arak-arakan) Kyai Glidhig keesokan harinya.

Sebelum panggung didirikan, terlebih dahulu dilakukan acara selamatan kepungan jenang. Terdapat dua macam jenang, yaitu jenang putih dan jenang abang. Jenang putih adalah bubur beras putih yang diberi kelapa sedangkan jenang abang adalah bubur beras yang diberi gula jawa. Jenang abang putih jumlahnya ganjil.

Jenang putih melambangkan kesucian hati. Artinya, hati tidak boleh mendua. Kesucian hati hanya ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jenang abang melambangkan tekad dan kemauan dari warga masyarakat Lamuk Legok. Sebelum wayangan dimulai, pemangku adat mendoakan sesaji yang terletak di kloso (alas tikar).

Sesaji tersebut berisi tumpeng putih, ayam jawa panggang, juadah pasar (basah dan kering), lanyahan (berisi tempe goreng, pethek, golong agung, lima jenis minuman, lampu senthir, bedak, cermin, benang lawe lanang, telur ayam jawa, minuman kopi, teh, air putih, dan dawet.

Pemangku adat mengawali ritual ini dengan membakar kemenyan dan dupa, untuk kemudian menuang wewangian. Lalu bedak ditaburkan ke dalam mangkuk yang telah berisi air putih dan bunga. Sesaji didoakan kembali. Sesaat kemudian, air, bunga, dan bedak di dalam mangkuk dioleskan ke seluruh alat musik gamelan yang mengiringi wayangan yang akan dipentaskan dan gunungan wayang yang hendak dipakai dalam, dengan harapan semua bisa ‘harum’ semerbak selama-lamanya.

Golong agung merupakan nasi yang berbetuk bulat (dikenong) lalu diberi telur mata sapi di atas nasi. Hal ini melambangkan kesatuan. Benang lawe lanang merupakan tali putih kecil terbuat dari benang kapas yang tidak ada pangkal ujungya. Panjangnya sekitar 25 cm. Melambangkan rotasi tanpa batas (cokro manggilingan).

Sementara itu lima jenis minuman melambangkan kiblat papat limo pancer. Air putih melambangkan warna putih yang mewakili arah wetan (Timur), sementara air teh melambangkan warna merah yang mewakili arah kidul (Utara). Wedang santen melambangkan warna kuning yang mewakili arah kulon (Barat), kopi melambangkan warna hitam yang mewakili arah lor (Utara). Dawet melambangkan aneka warna yang mewakili tengah.

Dalam ritual ini, sesaji ditambahkan dengan tumpeng kalak, yaitu ayam panggang yang di taruh jadi satu dengan tumpeng. Menurut pemangku adat, tumpeng ini sudah jadi satu paket dengan ambeng juadah pasar. Tumpeng kalak berwarna putih (dari beras putih), sedangkan tumpeng hitam (dari beras hitam) disebut sebagai tumpeng lumpang. Tumpeng berbentuk kerucut merupakan wujud syukur kepada Tuhan.

Kedua tumpeng ini merupakan perwujudan dari permohonan warga kepada Allah SWT. Ayam panggang pada tumpeng haruslah ayam jago (jantan). Ayam ini disembelih lalu dipanggang. Hal ini mengibaratkan bahwa rasa lelah dan panas yang dirasakan saat bekerja di kebun merupakan sebuah perwujudan permohonan dan usaha yang sungguh-sungguh untuk mencari rezeki bagi kebutuhan keluarga, selayaknya ayam yang sedang dipanggang (digembleng).

Bunga wangi dan bunga kantil yang ditambah dengan bedak mewujudkan wewangian. Bunga wangi memiliki makna bahwa orang yang sedang memiliki per mohonan itu bisa ikut ‘wangi’. Dengan wewanginya ini diharapkan masyarakat Lamuk Legok bisa harum se merbak ke seluruh penjuru dunia. Sementara itu, bunga kantil menyimbolkan permohonan masyarakat semoga harapannya terkabul, rezeki selalu mengikuti, diberi keberkahan, keselamatan dunia hingga akhirat.

Kloso (tikar) yang baru memiliki makna membuka lembaran baru (kloso gumelar ibarate gumelaning Bumi). Senthir atau lampu minyak sebagai wujud penerang (pelita) hati. Maknanya lebih jauh, obor (semangat) hidup manusia tidak boleh mati. Artinya teruslah bekerja dengan semangat seperti api yang menyala. Karena itu, dari awal pemasangan sesaji sampai akhir acara, lampu minyak ini tidak boleh sampai padam.

Setelah diusap oleh mewangian, gong dipukul tiga kali. Diharapkan gaung dan gema yang merdu dari gong menyebarkan kedamaian. Pukulan tiga kali diartikan sebagai tiga kehidupan manusia, yaitu kehidupan di alam kandungan, alam dunia, dan alam keabadian (akhirat). Bunga kantil kemudian dituang ke dalam air putih. Air putih ini diharapkan memutihkan jiwa, raga, pikiran, dan tenaga warga masyarakat Dusun Lamuk Legok.

Pada pukul 21.00 WIB, warga akan berkumpul di rumah kepala desa untuk mengikuti ritual Ningkah Bumi (sedekah Bumi) sebagai rasa syukur warga. Rasa syukur warga ini diwujudkan dalam tumpeng sewelas (tumpeng berjumlah sebelas) beserta ubo rampenya (kelengkapannya). Tumpeng sewelas berbahan nasi putih. Maksud dari tumpeng ini adalah nyuwun kawelas an (memohon belas kasih) dari Allah SWT. Ubo rampe sebelas tumpeng adalah tumpeng putih, jenang abang-putih, kacang kapri, telur ayam kampung, dan ingkung ayam. Tumpeng sewelas juga merupakan wujud kese tiaan warga masyarakat kepada bumi Lamuk Legok, kepada adat, kepada orangtua dan nenek moyang, serta pemerintahan sebagai pengayom warga Dusun Lamuk Legok.

Tumpeng yang sudah dibuat oleh perangkat desa dan ketua RT tersebut nantinya akan dibagikan kepada seluruh warga yang datang. Setiap warga yang datang di acara Ningkah Bumi, membawa satu jenis makanan yang jumlahnya bervariasi, antara 7 sampai 13 biji. Dari bertukar makanan ini, warga akan mendapat bermacam jenis makanan. Karena menurut pemangku adat, sebaiknnya juadah pasar itu terdiri dari tiga atau empat jenis. Lebih banyak macam nya lebih baik. Jajanan warga yang sudah bercampur inilah kemudian disebut weton jajan pasar. Kegiatan ini memiliki makna kebersamaan, saling menikmati dan saling menghargai hasil orang lain.

Kemudian warga akan saling tukar-menukar makanan (kepungan weton). Di dalam acara ini, nantinya juga dibagikan jenang blohok yang dikemas di dalam takir (wadah makanan dari daun pisang). Jenang blohok bertekstur lembut, terbuat dari tepung beras. Jika sudah dingin, jenang diberi gula jawa yang di tanam di dalam jenang putih tersebut. Jenang blohok diibaratkan seperti aliran air yang tidak ada hentinya sekaligus merupakan wujud syukur kepada Gusti (Tuhan Yang Maha Esa), bahwa mata air tetap mengalir. Jenang ini biasanya disajikan oleh warga yang memiliki sumber mata air pribadi. Sebab, jenang blohok merupakan sesaji wajib pada ritual nyukuri kali (mensyukuri mata air sebagai sumber kehidupan).

Pagi menjelang siang, sekitar pukul 10.00 WIB keesokan harinya, Grebeg Kyai Glidhig atau Kirab Tumpeng Robyong dimulai. Tumpeng robyong diarak keliling desa dan diakhiri di Sungai Ringin, yaitu mata air utama yang menjadi sumber penghidupan masyarakat Dusun Lamuk Legok.

Tumpeng Robyong merupakan perwujudan dari gunung yang bermacam-macam isinya. Dalam tumpeng ini terdapat berbagai macam tanaman dan buah. Jumlah tumpeng ini ada tiga, masingmasing mewakili laki laki, perempuan, dan daratan. Tumpeng darat merupakan lambang tempat warga berpijak (Ibu Pertiwi). Grebeg merupakan wujud berbakti dan ungkapan rasa syukur warga Lamuk Legok. Pertama, menghaturkan terima kasih kepada allah SWT. kedua, mewujudkan rasa syukur dan bakti kepada Bapak Angkasa dan Ibu Pertiwi. Selain itu, penyelenggaraan grebeg ini dilakukan untuk memberi contoh kepada generasi berikutnya mengenai ritual ini. 

Ketika grebeg diarak mengelilingi desa, irama gamelan bertalu meramaikan acara. kepala Desa, para sesepuh, perangkat desa, dan warga masyarakat berbaur dalam satu barisan. Grup kesenian kuda lumping dan topeng ireng turut menyemarakkan acara ini. kesenian kuda lumping menggambarkan bahwa Ki Ageng Makukuhan suka naik kuda. Arak-arakan grebeg mengikuti rute yang sudah ditentukan, dengan tujuan akhir adalah Sungai Ringin, sumber mata air utama masyarakat Dusun Lamuk Legok.

Sesampai di Sungai Ringin, tumpeng didoakan oleh pemangku adat dan kaum (kepala urusan agama tingkat desa) diikuti oleh kepala desa, sesepuh, dan beberapa perangkat desa berkumpul mengitari sesaji. Setelah upacara selesai, tumpeng akan dimakan bersama-sama. Siapa saja boleh makan tumpeng tersebut, seperti sanak saudara, atau orang dari tetangga desa yang datang pada saat grebeg tersebut.

Kepala desa membagikan tumpeng kepada masyara kat yang ikut serta dalam acara tersebut. Hal itu dilakukan agar suasana lebih tertib, warga tidak saling berebut. Berebut tumpeng memang menjadi hal lumrah, sebab mereka menganggap mendapatkan sebagaian dari tumpeng robyong adalah usaha untuk ngalap berkah (mencari berkah). Sebab, sebagaimana dikatakan seorang warga, sayur atau buah dari tumpeng robyong diyakini membawa keberkahan.

Dalam suasana ritual seperti itu, mata air Sungai Ringin juga dikerumuni warga yang ingin mendapatkan berkah. Mereka mengusap tangan, kepala, dan kaki me reka dengan air sungai. Bahkan ada yang sengaja membawa botol bekas air mineral untuk sekadar membawa pulang air tersebut.

Selesai acara grebeg, semua warga berkumpul di rumah kepala desa. Warga yang datang dan terlibat secara langsung dalam acara kirab disuguhi hiburan campursari dan organ tunggal, yang akan dilanjutkan dengan wayangan kembali. Tak lupa disediakan hidangan makan siang bagi para warga. Mereka tumpah ruah dalam kebersamaan dan kegembiraan. Hiburan yang disuguhkan cukup untuk menghilangkan rasa lelah sehabis mengi kuti kirab.

Nyukuri Kali

Ritual ini dilaksanakan setelah panen tembakau oleh warga yang secara berkelompok mencari mata air (pribadi). Selain mempersembahkan sesaji, ritual nyukuri kali biasanya didahului oleh pembersihan dan perawatan sumber air oleh para warga yang memanfaatkan airnya. Sumber air atau sungai akan dibersihkan dari rerumputan. Kotoran dan sampah di sekitar mata air beliau dan warga lainnya membersihkan rerumputan dan kotoran di sekitar mata air disingkirkan. Batu dan tumbuhan di sekitar sumber akan dirapikan. Setelah sumber air atau sungai telah bersih, ritual nyukuri kali siap dilakukan.

Nyukuri kali merupakan serangkaian ritual dengan urutan-urutan yang diawali dengan, pembacaan doa dan pembakaran kemenyan di depan sesaji yang terdiri dari tumpeng cambah pethek, jajanan pasar, ingkung ayam, tumpeng, kacang kapri, telur ayam kampung, dan jenang blohok. Kemudian setelah acara berakhir, tumpeng dan sesaji dibagikan kepada orang-orang yang datang.

Kacang kapri merupakan tumbuhan biji-bijian yang merambat, disimbolkan sebagai permohonan atas kelimpahan rezeki yang selalu merambat ke atas (bertambah banyak).

Numbali Desa

Di antara semua ritual dan tradisi yang hidup dan melekat dalam keseharian para petani tembakau di Lamuk Legok, Numbali Desa adalah ritual yang paling jarang dilaksanakan. Tentu bukan karena ia kurang penting, tapi karena pelaksanaannya yang dilakukan hanya sewindu (siklus 8 tahun) sekali. Waktu pelaksanannya ada di awal atau di tengah windu. Hari pelaksanaan ditentukan jatuh di Malam Jumat Kliwon.

Ritual ini diharapkan warga Dusun Lamuk Legok menghindarkan mereka dari pagebluk (bencana), semisal wabah penyakit mematikan, atau mencegah mereka dari gangguan pencurian atau perampokan (duratmaka). Warga berharap, ritual ini dapat menolak bala, sehingga desa aman, warga tentram dan hasil pertanian bermanfaat, dan setiap niat jelek (sejakala) yang akan datang ke Lamuk Legok tidak bisa masuk.

Sesaji utama dalam prosesi ini adalah wedhus kendhit, sebuah istilah untuk menyebut kambing putih yang memiliki lingkar hitam seperti ikat pinggang di tengah badan atau kambing hitam yang memiliki lingkar putih di badannya.

 

(1) Kiblat papat lima pancer sebagai falsafah Jawa yang berkaitan dengan kesadaran manusia akan hubungan yang tidak terpisahkan antara dirinya dengan alam semesta. Konsep ini menyatakan bahwa pada dasarnya ma-nusia terlahir dengan membawa hawa nafsu yang bersumber dari dirinya sendiri.

(2) Wawancara pemangku adat 07 Oktober 2014

 

Tulisan ini adalah cukilan dari buku berujudul Srinthil; Pusaka Saujana Lereng Sumbing karya Elva Laily yang diterbitkan oleh Pustaka Indonesia (ISBN: 978-602-1318-28-7). Bila Anda berminat untuk membeli buku ini, silahkan email kami di kontak@spektakel.id.

Elva Laily

Lahir di Wonosobo tahun 1984, Elva terlibat aktif riset untuk pembuatan film dokumenter sejak tahun 2004. Elva kini aktif di Kelompok Studi Film Dokumenter Narasi Indonesia.
instagram.com/elvalaily/

#Srinthil #Temanggung #Tembakau #Tradisi #Ritual

Mari bergabung bersama kami, berkontribusi memajukan seni budaya Indonesia.

Klik di sini untuk mendaftar / login

Editor: Redaksi
Baca juga:
Pacu Jawi; Balap Sapi Masyarakat Minang Ciu Later! Kisah Sommelier Ciu Banyumas Bai Telpon dan Tato Mentawai: "Pakaian" yang Berangsur Punah Baur Umat di Waisaka Puja Borobudur