L O A D I N G
Folklor

Penyihir Sakti dari Daha

07/04/20

Teks: Ginanjar Seladipura | Foto: Redaksi

Seekor ular piton besar nan panjang sudah mengincar pertapa itu sejak beberapa saat yang lalu. Pertapa itu sedang bersemadi di bawah naungan pohon jati tua, di tengah hutan lebat pinggiran kota Daha. Sekalipun udara pagi buta itu sangat dingin, pertapa itu tidak menggigil sama sekali. Dia berdiam tenang sambil terus merapal mantra.

Ketika ular piton akhirnya menyergap, pertapa itu masih terpejam matanya, tapi tubuhnya gesit melompat, menangkap kepala ular itu dengan tangannya. Ditepuk-tepuknya kepala ular itu dengan lembut.

Betapa bingungnya si ular, karena seketika itu juga dia kehilangan nafsu makannya. Begitu saja dia lupa, bahwa satu detik yang lalu ia masih mengira manusia yang memegangi kepalanya itu adalah mangsa. Dalam benak si ular pertapa itu telah mewujud menjadi pohon besar rindang yang teduh. Ular itu mendesis pelan, menutup matanya, lalu tertidur dengan tenang. Pertapa itu meletakkan ular di sampingnya, lalu kembali pada posisinya bersemadi, duduk bersila sambil merapal mantra.

Penduduk kota Daha mengenal pertapa itu sebagai Bahula. Mpu Bahula. Dia adalah putra sekaligus murid kesayangan dari Mpu Bradah, orang kepercayaan Raja Airlangga yang terkenal di seluruh penjuru negeri.

Usianya memang masih terbilang muda, tapi nasib Kerajaan Daha ada di pundaknya. Tugasnya kali ini cukup berat, dia harus menghentikan teluh celaka yang menyerang Daha. Ratusan nyawa di Daha telah melayang dalam satu malam, disapu oleh teluh berupa asap berwarna ungu.

Hanya ada satu orang yang bisa menerbitkan teluh keji semacam itu, penyihir paling sakti di Daha; Calon Arang.

“Jangan khawatir,” ucap Mpu Bradah waktu mengutusnya, “Semua sihir, sesakti apapun, pasti ada penangkalnya.”

Bahula tahu, ayahnya tidak pernah sembarangan bicara.

***

Satu hari sebelum malam celaka itu tiba di Daha, Calon Arang tengah sibuk menyalakan perapian di belakang rumahnya. Di depan kobaran api ia lalu menari-nari, melompat-lompat mengelilingi si jago merah. Terdengar dari mulutnya keluar suara-suara aneh, bahasa purba yang sudah tidak dikenali lagi oleh umat manusia.

Ratna Manggali menyaksikan itu dari dalam biliknya.

Dia menyaksikan betapa api dari perapian mulai menjilati tubuh Calon Arang menari-nari, yang bukannya kepanasan, malah semakin kegirangan. Api segera menjalar ke sekujur tubuh ibunya itu.

Api yang semula merah, berubah jadi biru. Rambutnya yang hitam berubah jadi putih, makin tebal dan memanjang, menyapu tanah. Demikian pula dengan lidah dan taringnya. Semakin nyaring ibunya menyanyikan mantra purba, semakin panjang pula taring dan lidahnya menjulur ke bawah dengan ludah menetes-netes.

“Terkutuklah Daha, para lelakinya, binatang-binatangnya, dan rajanya!” sesekali Calon Arang berteriak dalam bahasa yang masih bisa dipahami oleh Ratna Manggali.

Ratna Manggali tahu, inilah puncak pembalasan dendam Ibunya atas kejahatan Raja Airlangga. Mereka telah dikucilkan oleh Kerajaan Daha, dibuang ke tengah hutan. Semua orang yang berani datang ke hutan untuk menemui mereka akan dihukum berat. Ibaratnya, mereka hanya diizinkan berkawan dengan pepohonan dan binatang liar.

Bertahun-tahun lamanya, Calon Arang memupuk dendam sambil terus menekuni lontar-lontar kuno yang rumit penuh dengan mantra-mantra mematikan.

Dari perapian itu, asap ungu tebal mengepul, membumbung tinggi ke langit, terbang perlahan menuju ke arah Kota Daha. Pohon-pohon yang dilewatinya mati, dahannya mengering, daunnya meranggas, seperti terhisap seluruh cairan dan getahnya. Begitu pula dengan binatang yang tak sengaja menghirupnya. Semua yang bernyawa mati seketika.

***

Mpu Bahula telah selesai bersemadi, pikirannya tenang dan jernih. Dia menyusuri jejak-jejak kematian yang ditinggalkan oleh teluh, dan sampailah ia pada sebongkah pohon mati yang terakhir. Dugaannya tepat, tak jauh dari tempatnya berdiri, dia melihat sesosok perempuan tua sedang terbakar api biru, menari-nari. Seluruh kulitnya melepuh, terkelupas, dan dari mulutnya terdengar suara-suara asing yang mirip geraman binatang buas.

Bahula menghunus kerisnya. Dibisikinya keris itu dengan lembut, memberinya mantra. Kemudian dia melemparkan keris itu ke arah perempuan yang terbakar api. Tapi, belum lagi keris itu mengenai tubuh sasarannya, si perempuan tua mengibaskan tangannya. Keris terpental berbalik arah menuju Bahula.

Bahula sigap melompat menangkap kerisnya. Di saat yang sama, perempuan itu menghentikan bacaan mantranya. Dengan satu lambaian tangan ia menarik tubuh Bahula yang masih melompat di udara. Tubuh Bahula terpelanting seperti daun kering ditiup badai. Bahula jatuh berguling-guling, tersungkur di hadapan penyihir paling sakti di Daha.

“Anak muda, apakah kau yang diutus Raja untuk membunuhku?” Tanya Calon Arang sambil tertawa, “Apakah Raja sudah putus asa?!”

“Aku… Bahula… anak Mpu Bradah..,” sahut Bahula. Dia mencoba berdiri, tapi kaki Calon Arang sudah lebih dulu menginjak kepalanya.

“Bradah?! Apakah dia sudah mati?” Calon Arang menyeringai lebar. “Kenapa bukan dia yang datang ke sini melainkan anaknya yang lemah sepertimu. Aku bahkan tak perlu menggerakkan tanganku untuk mengalahkanmu. Berkelahi melawan Bradah akan jauh lebih menyenangkan!”

Tangan Bahula gemetar mendengar Calon Arang berbicara. Dadanya terasa sesak dan nyeri. Bukan karena ejekannya, atau kepalanya yang diinjak, dan bukan pula karena suaranya. Ini pastilah sihirnya yang lain lagi, ketika ucapan-ucapan yang terlontar betul-betul menusuk hati, menusuk dalam artian yang sesungguh-sungguhnya, seperti belati.

Dengan satu tarikan nafas panjang, Bahula mencoba menguasai dirinya. Dia merapal mantra untuk mengusir rasa sakit dari dadanya. Bahula merasakan kaki yang menginjak kepalanya itu tidak terbakar api.

Barangkali aku bisa membuatnya pincang. Bahula membatin.

Digenggamnya keris erat-erat, diam-diam ia memusatkan seluruh tenaganya di pucuk keris. Dalam satu gerakan yang sangat cepat, Bahula coba menebas tungkai kaki Calon Arang.

Tapi, secepat itu pula Calon Arang berkelit. Dengan satu jentikan jari, tubuh Bahula melayang-layang di udara. Dua tangan Bahula gemetar memegangi kerisnya. Keris itu seperti punya kemauan sendiri, hendak menikam sang empunya.

Bahula mencoba menahan sekuat tenaga, tapi keris itu terlalu kuat dorongannya. Bahula kalah. Perlahan-lahan, keris itu mendekat ke dadanya, siap menghujam jantungnya. Jika saja tadi ia tidak memantrai dadanya sendiri, saat ini dia pasti sudah mati tertikam oleh tangannya sendiri.

***

Dari dalam biliknya, Ratna Manggali melihat Bahula seperti orang yang hendak bunuh diri, menikam-nikam dadanya sendiri dengan sebilah keris.

Sesungguhnya Ratna Manggali tidak terlalu peduli apabila Ibunya mengirimkan teluh yang membunuh ratusan jiwa nun jauh di luar hutan sana. Tapi melihat manusia hampir mati dengan mata kepala sendiri, itu perkara lain.

Benak Ratna Manggali makin tersiksa sewaktu Bahula mulai berteriak menahan sakit, sepercik darah mulai menetes dari dadanya. Dia berlari menuju ke Ibunya. Bersujud di hadapannya, memohon-mohon agar lelaki itu diampuni nyawanya. Tiap kali Bahula menjerit makin keras, makin dalam pula Ratna Manggali sujud menyembah ibunya.

“Ibunda, ampun, Ibunda…” tangis Ratna Manggali, “sudah cukup…”

Sekeji-kejinya Calon Arang, dia tidak akan pernah sampai hati melihat Ratna Manggali menangis. Anak yang sangat disayanginya. Putrinya yang cantik jelita. Hatinya luluh. Diturunkannya Bahula dari udara, terbaring lemah di samping Ratnamangali, tangannya terkulai lemas, genggaman kerisnya lepas.

“Oh, anakku, kenapakah kau peduli pada laki-laki lemah ini? Tak tahukah kau, dia adalah orang suruhan Raja yang hendak menghabisi kita… Raja yang sama, yang mengucilkan kita, yang membunuh ayahmu lantas merebut tanahnya,” Calon Arang memeluk tubuh Ratna Manggali, mengangkatnya. Api dari tubuhnya reda. Pun dengan lidahnya, taringnya, rambutnya serta pakaiannya. Semuanya pulih seperti sediakala.

“Aku pun tidak mengerti, Ibunda,” jawab Ratna Manggali. “Namun aku ikut merasa sakit tiap kali aku mendengarnya menjerit. Jantungku ikut nyeri tiap kali melihat ia menikam-nikam dadanya sendiri…”

Mata Calon Arang berkaca-kaca mendengar ucapan putrinya. Selain cantik rupawan, putrinya ini sungguh lembut hatinya. Barangkali itu jugalah satu-satunya penangkal untuk segala sihir mematikan yang ia punya. Dia lalu memeluk putrinya erat sekali. Sementara dari belakang mereka, tampak asap ungu dari perapian perlahan mulai memudar.

Sungguh celaka para lelaki di Daha, aku telah melahirkan putri tercantik yang pernah ada, namun tak ada satupun yang berani datang meminangnya. Apabila aku mati nanti, alangkah sepi hidupnya... Batin Calon Arang.

Bahula mengerang pelan, ia mulai siuman. Di depan matanya ia menyaksikan perempuan tua memeluk seorang gadis yang menangis. Dia segera menyadari bahwa perempuan tua itu adalah Calon Arang, penyihir sakti yang harus ia habisi nyawanya.

Dengan sisa-sisa tenaganya, dia mengangkat kerisnya, memantrainya. Namun ketika dia hendak melemparnya, Ratna Manggali membalikkan badannya. Dengan lembut, ia tepis keris dari tangan Bahula.

Bahula tercekat, Ratna Manggali adalah gadis tercantik yang pernah ia lihat di seluruh Kerajaan Daha.

“Sudah cukup,” kata Ratna Manggali.

Bahula menghela napas panjang, memperhatikan sekitarnya. Saat menengadah, ia melihat asap ungu telah menghilang dari langit. Perapian sumber bencana pun telah padam, hanya menyisakan bara. Dia tersenyum, ada perasaan lega menyeruak dari rongga dadanya. Tugasnya telah usai.

Bahula teringat ucapan ayahnya. Dalam hati ia bersumpah, betapa tidak ada orang lain yang perlu tahu mengenai bagaimana cara dia memadamkan sumber bencana. Dia semakin yakin, betapa ayahnya tidak pernah sembarangan berbicara.

 

Ginanjar Seladipura

Web developer in Jakarta. Co-founder and product manager of @spektakel.id
instagram.com/ginseladipura/

#Dongeng #Hikayat

Mari bergabung bersama kami, berkontribusi memajukan seni budaya Indonesia.

Klik di sini untuk mendaftar / login

Editor: Redaksi
Baca juga:
Lagu Rindu, Pasar Minggu Kenthus Dataran Tinggi Lore: Saya Lihat, Terpikat, Lalu Terjerat! (Bagian II) Perjalanan Interstellar Gamelan Jawa dan Penari Bali