L O A D I N G
Sorotan | Tradisi

Kesahajaan Tutup Ngisor di Hadapan Corona dan Erupsi Gunung Merapi

03/04/20

Teks: Eka Pradhaning | Foto: Eka Pradhaning
Bagi warga Dusun Tutup Ngisor, tembang macam macapat Dhandhanggula adalah napas kehidupan mereka sehari-hari. Tembang, gamelan, tarian, dan laku spiritual memang bagian yang tak terpisahkan. Apalagi sudah sedari dulu biasa hidup berdampingan dengan dua hal: bahaya dan budaya.

Ana kidung rumeksa ing wengi / Teguh ayu luputa ing lara
Luputa bilahi kabeh / Jim setan datan purun
Paneluhan tan ana wani / Miwah panggawe ala
Gunane wong luput / Geni atemahan tirta
Maling adoh tan ana ngarah ing mami / Guna duduk pan sirna


(Ada tembang yang menjaga malam / kuat sentosa terhindar dari rasa sakit / segala sial menepis / jin setan tak mau mengganggu / teluh dan santet tidak mempan / serta perbuatan jahat / ancaman orang jahat meleset / api menjelma air / maling menjauh tak bisa mengarah padaku / segala goda rencana menjadi sirna).



Begitulah sebait tembang macapat Dhandhanggula yang juga dipercaya sebagai mantra atau doa tolak bala. Larik tembang yang konon diciptakan oleh Sunan Kalijaga ini diyakini oleh sebagian besar masyarakat Jawa khususnya Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta sebagai nyanyian sakral yang bisa dilantunkan saat situasi alam sekitar sedang gawat. Termasuk warga Dusun Tutup Ngisor.

Bagi warga Dusun Tutup Ngisor, tembang macam macapat Dhandhanggula itu adalah napas kehidupan mereka sehari-hari. Tembang, gamelan, tarian, dan laku spiritual memang bagian yang tak terpisahkan dari geliat kehidupan masyarakat di lereng Gunung Merapi ini.  Begitulah beberapa cara mereka menyikapi segala perkara dalam kehidupan. Apalagi sudah sedari dulu biasa hidup berdampingan dengan dua hal, bahaya dan budaya.



Dusun Tutup Ngisor secara administratif adalah bagian dari Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang. Letaknya 400 meter di atas permukaan laut di kaki Gunung Merapi sebelah Barat. Inilah dusun pertama yang menjadi saksi pertama dari tiap dentuman dapur magma Gunung Merapi. Pula yang pertama kali tersiram hujan pasir dan tersapu banjir lahar dingin. Maka di dusun ini pula tanda siaga satu selalu pertama kali ditetapkan tiap kali Gunung Merapi erupsi.

Di saat yang bersamaan, sejak 1937 dusun ini mempunyai Padepokan Seni Tjipta Boedaja yang masih aktif hingga hari ini. Setiap tahunnya, padepokan ini menggelar Suran, suatu acara yang menghadirkan pertunjukan Wayang Orang dan berbagai kesenian tradisional lainnya. Dalam setahun, hajatan ini digelar sebanyak empat kali, yaitu pada pertengahan bulan Muharam pada Kalender Jawa, lalu pada peringatan Maulid Nabi Muhammad, pada perayaan Idul Fitri, serta pada peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia setiap 17 Agustus.



Selain berkesenian, di padepokan ini pula masyarakat berkumpul dan bermusyawarah untuk mengurai berbagai persoalan. Entah itu persoalan keluarga, masyarakat, maupun persoalan global seperti yang kita alami bersama saat ini: COVID-19.

Riak dampak COVID-19 ternyata sampai pula hingga ke Dusun Tutup Ngisor dan mengimpit keseharian masyarakat di sini. Warga yang sehari-harinya bekerja mengolah sawah turut mengikuti anjuran pemerintah untuk melakukan jaga jarak alias physical distancing. Dusun pun sepi. Padahal di hari-hari biasa banyak tamu yang berdatangan ke dusun ini untuk berbagai keperluan. Tapi kini dusun nampak lengang. Salah satu petani sekaligus pelaku seni Padepokan Tjipta Boedaja, Widyo Sumpeno bercerita, meskipun ia dan warga mencoba tetap tenang, toh dampak virus tak kasat mata itu terhadap perekonomian mereka tak dapat disangkal. “Harga cabai keriting yang saya tanam panen awal tahun harganya Rp40.000 per kg, buan Februari Rp20.000 per kg, sampai kini di awal Maret hanya Rp6.000 per kg,” ujarnya.



Kegiatan kesenian di padepokan yang biasanya jadi pemasukan tambahan mereka juga berangsur macet. Bagaimana lagi, panggung sepi sebab banyak panggilan yang ditunda atau dibatalkan karena situasi sekarang. 

Seperti belum cukup bahan pikiran bagi warga dusun Tutup Ngisor, Gunung Merapi turut menunjukkan geliatnya dengan beberapa kali semburan awan panas. Menandakan erupsi di akhir Maret. Tak ayal panik melanda seluruh warga. Sebab kepulan asap itu nyata terlihat di depan mata dengan suara dentuman yang terdengar jelas.

“Merapi bersin. Walau cemas hati kami tetap yakin bahwa semuan itu Tuhanlah yang mengatur” kata Sitras Anjilin, ketua Padepokan Seni Tjipta Boedaja. Ia adalah anak ke-6 dari Romo Yoso Sudarmo, pendiri padepokan seni tersebut. Menurut Sitras ada dua cara yang ditempuh dalam menyikapi pagebluk yang bernama virus Corona dan geliat Gunung Merapi yang seakan merespon kemelut sehingga kalau dalam jagad pewayangan telah memasuki adegan Goro-goro.



Cara pertama dilakukan dari sisi lahiriah dengan tetap mengikukti anjuran pemerintah untuk menjaga jarak dan karantina. Tak apa aktivitas kesenian ditunda dulu. Cara kedua dilakukan dengan laku spiritual kita, alias mendekatkan diri dan memohon kepada Tuhan Sang Penguasa agar keadaan kembali tenteram seperti sedia kala. Kita saat ini sedang diingatkan oleh Tuhan untuk laku cegah, yaitu cegah dahar (puasa), cegah guling (tirakat), cegah kekarepan (menahan hawa nafsu), lan cegah kumpul (tidak berkumpul). “Itulah sikap kami. Harus tetap tenang berada ditengah-tengah situasi saat ini, menjalaninya dengan kesahajaan dan selalu mendekatkan diri kepada Tuhan,” tutup Sitras.

Eka Pradhaning

Lahir di Magelang 10 Mei 1971. Pengajar Seni Budaya di SMA Islamic Boarding Shool Syubbanul Wathon Magelang. Anggota Padepokan Seni Tjipta Boedaja Merapi sebagai anak wayang dan aktif menulis di Sanggar Seni Tapak Liman Jogowisan Magelang.
instagram.com/pradhaning/

#Budaya #Pandemi Covid-19 #Tradisi #Tutup Ngisor

Mari bergabung bersama kami, berkontribusi memajukan seni budaya Indonesia.

Klik di sini untuk mendaftar / login

Editor: Anera Vinaya Vesta
Baca juga:
Mentawai, Guru Kehidupan di Ujung Barat Nusantara Jalan Jauh ke Tidore (Bagian I) Semasa di Wong Fu Kie Jalur Kurima, Kehangatan di Dinginnya Sisi Selatan Lembah Baliem