L O A D I N G
Eksplorasi

Gali Halmahera; Berbagi Pengetahuan Dan Kebudayaan

15/03/20

Teks: Nyaman Agung, Suryo Sumarahadi | Foto: Suryo Sumarahadi
Halmahera memiliki sejuta pesona yang bisa digali menjadi sumber pariwisata tanpa melupakan pelestarian budaya dan lingkungan. Kerja bersama adalah kata kuncinya. Sejuta pesona yang lestari dan abadi, sehingga Halmahera dapat kembali tampil ke muka, lalu berjaya.

Masyarakat Togutil atau bisa disebut juga O Hangana Manyawa (manusia yang tinggal di hutan) adalah masyarakat asli Pulau Halmahera. Keaslian masyarakat ini dapat ditelusuri melalui pola hidup dan laku budaya mereka. Prinsip berburu dan meramu masih sangat kuat mereka pegang. Berburu binatang dan meramu berbagai hasil hutan di wilayah tempat mereka tinggal. Produksi sandang asli mereka pun masih terbatas pada kain penutup badan dari kulit kayu, belum sampai memproduksi benang untuk ditenun atau jahit.

Saat ini masyakarat Togutil dapat kita bagi menjadi 4 kelompok besar berdasarkan pilihan tempat tinggal mereka, yaitu orang-orang yang masih bersikukuh tinggal di dalam hutan; orang-orang yang tinggal di dalam hutan tetapi ingin keluar dari hutan; orang-orang yang telah tinggal di kampung Pemerintah, namun ingin kembali ke hutan atau masih sangat bergantung pada hutan; dan terakhir, orang-orang yang telah memeluk gaya hidup modern dan tidak mau lagi kembali ataupun bergantung pada hasil hutan.

Tantangan eksistensi yang dihadapi keempat kelompok masyarakat Togutil ini jelas berbeda-beda. Masing-masing sangat tergantung dari seberapa besar mereka terpapar unsur-unsur dari luar yang umumnya, berupa program pemerintah, organisasi keagamaan, tetangga yang berlainan budaya, penetrasi para tengkulak pengepul hasil-hasil hutan, perusahaan-perusahaan swasta pemanfaat hasil mineral dan hasil hutan, serta lembaga-lembaga swadaya masyarakat.

Namun satu hal yang pasti, paparan-paparan tersebut akan mengakibatkan pergeseran budaya bagi masyarakat O Hangana Manyawa. Salah satu yang tidak bisa dihindari adalah perubahan gaya hidup. Demikian pula penyikapan mereka terhadap berbagai permasalahan yang kelak mereka hadapi. Pilihan yang tersisa hanyalah apakah perubahan tersebut akan membawa berkah atau bencana. Untuk menghadapi pergeseran nilai-nilai tersebut, masyarakat Togutil perlu memahami dan membuat strategi.

Kehidupan masyarakat Togutil

Praktik standar masyarakat Togutil adalah meramu dan berburu dengan tempat tinggal yang berpindah-pindah, mengikuti makanan yang tersedia dan perubahan musim. Meski nomaden, masyarakat yang terbagi dalam banyak klan dan subklan ini paham wilayah mana yang merupakan miliknya dan yang bukan. Mereka berusaha saling tidak melanggar daerah masing-masing. Praktik berburu dan meramu hanya akan dilakukan di daerah sendiri demi menghindari konfrontasi antar klan.

Mereka meramu sagu (metroxilon sagu) dan beberapa tanaman hutan lain sebagai sumber karbohidrat. Kemudian, mereka berburu dan memasang jerat untuk binatang-binatang hutan demi mendapatkan protein. Terlihat sukar bagi masyarakat luar tentunya, namun pola hidup ini telah dilakukan masyarakat Togutil selama ratusan generasi. Mereka telah sampai tingkat mahir dalam melakukannya. Merekalah ahlinya hutan Halmahera. Berbagai tanaman hutan pun masih mereka manfaatkan sebagai obat-obatan tradisional. Pengetahuan itu tersimpan dengan sangat baik, mulai dari obat luka hingga obat malaria.

Proses mengolah sagu.

Kemudian, karena prinsip nomaden yang mereka anut, rumah yang mereka buat bentuknya sederhana saja. Rumah berukuran kecil yang biasa mereka sebut dego-dego itu berdiri di atas empat tiang kayu, dibuat panggung dengan pelepah kayu atau kelapa sebagai alasnya. Untuk atap, mereka menggunakan daun woka (nibung/oncosperma tigillarium) atau daun sagu. Bila mereka pergi ke tempat lain, dego-dego ini biasanya dibiarkan saja berdiri. Mereka akan membuat dego-dego baru di tempat yang mereka tuju. Hal tersebut karena dego-dego dapat dijadikan simbol identitas bagi masyarakat Togutil. Kita tidak bisa sembarangan masuk ke dalam dego-dego apalagi merusaknya. Simbol kepemilikan pribadi itu diakui bersama.

Parang, panah, dan tombak merupakan alat-alat yang mereka gunakan untuk menunjang hidup. Panah buatan masyarakat Togutil berbeda dengan panah lainnya. Panah mereka sangat mirip dengan penombak ikan yang digunakan masyarakat Bajo di Sulawesi. Cara kerjanya sama dengan busur silang (crossbow). Ada karet yang kuat, gagang penahan mata panah, dan mata panah itu sendiri. Menurut penuturan mereka, masyarakat Togutil telah mampu memproduksi berbagai alat tadi sejak dahulu kala. Mereka memiliki pengetahuan metalurgi. Namun saat ini mereka memperoleh berbagai barang tajam tadi dari Tobelo atau Pulau Binongko di Kepulauan Tukang Besi. Tak ada lagi bengkel pandai besi yang terlihat di pemukiman masyarakat Togutil.

Ramuan obat tradisional masyarakat Togutil.

Tentu masyarakat Togutil yang telah tinggal di pemukiman buatan pemerintah tidak melulu berburu dan meramu lagi. Jelasnya, mereka tidak lagi nomaden. Teknologi pertanian pun perlahan mereka pelajari. Berbagai tanaman produktif mereka tanam di kebun-kebun mereka. Mereka masih meramu sagu diselingi singkong dan ubi. Teknik pengolahan sagu mereka aplikasikan pula ke kedua tanaman tadi. Mereka juga terkadang membeli beras, meski sagu masih menjadi pilihan utama.

Bagi mereka yang telah tinggal di perkampungan, berburu bukan lagi cara utama untuk memperoleh protein. Mereka masih memasang jerat-jerat di dalam hutan, namun tidak pernah lagi berburu hewan hingga berhari-hari lamanya. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja di kebun-kebun mereka, dengan dego-dego yang hanya mereka gunakan sebagai tempat beristirahat. Menjelang petang, mereka kembali pulang ke rumah di perkampungan.

Laku seni dan budaya masyarakat Togutil

Meski masih berada dalam tahap perkembangan sosial berburu dan meramu, masyarakat Togutil sudah banyak menciptakan berbagai laku seni dan budaya. Walaupun tidak terlalu rumit bentuknya, seni yang mereka ciptakan cukup untuk menyalurkan berbagai nilai kearifan mereka. Hal-hal yang mereka rasa patut untuk diwariskan kepada generasi selanjutnya.

Seperti di berbagai tempat di jazirah Maluku, tari Cakalele juga merupakan bagian dari ekspresi masyarakat Togutil. Tari penyemangat sebelum berangkat berperang ini juga mempunyai fungsi yang sama di sini. Diiringi pukulan rancak tifa, bel, dan gong kecil, penari laki-laki menari memakai parang dan salawako (perisai). Sementara itu, para perempuan menarikan tide-tide untuk mengiringi pria penari Cakalele. Suara dari para penonton saling bersahutan untuk memberi tambahan api semangat kepada para penari. Suasana begitu magis dan menghentak.


Nyaman Agung, salah satu kontributor Spektakel, sedang menjajal tari Cakalele, dipandu oleh seorang maestro.

Bila ingin merasakan nuansa seni yang lebih rileks, ada salumbe. Ejawantah ekspresi seni masyarakat Togutil ini berupa syair-syair berisikan petuah atau riwayat yang dilantunkan dengan iringan pukulan tifa yang sejiwa. Jika senandungnya tentang nasihat dan pelajaran moral, maka tifa dipukul lirih saja. Demikian untuk menambah dalam makna. Sedangkan jika syairnya tentang riwayat masa lalu, pukulan tifa dinaikkan temponya untuk menambah bobot cerita itu. Dalam mengekspresikan salumbe, perempuan dan lelaki tidak ada bedanya. Tidak ada perbedaan perlakuan gender dalam budaya tutur Togutil.

Namun, ada perbedaan dalam penamaan salumbe. Salumbe adalah payung besarnya, syair-syair yang dilagukan. Jika dilantukan oleh perempuan, ia disebut beha-beha. Sedang, jika kamu pria yang melagukannya, ia disebut denge-denge. Kemudian, jika liriknya sendu merayu, ialah bobasu.

Elisabet Patani, salah seorang maestro salumbe.

Selain itu, saat ini di kampung-kampung pemukiman masyarakat Togutil telah terbentuk sebuah grup musik yang mereka namakan Orkes. Grup musik yang hanya bermain di acara-acara keagamaan ini memang berada di bawah naungan gereja. Jelas musik yang mereka mainkan telah terpengaruh budaya luar. Meskipun demikian, lirik-lirik yang dinyanyikan masih menggunakan bahasa asli Togutil.

Grup orkes.

Satu grup orkes terdiri dari gitar bas bersenar dua dan tiga buah gitar kecil yang bernama kuti-kuti. Gitar-gitar kecil ini bersenar tiga, empat, dan lima. Uniknya, gitar bas dan gitar-gitar kecil ini tidak menggunakan senar yang biasa dipakai untuk alat musik petik umumnya, melainkan tali pancing yang ukurannya berbeda-beda, dari ukuran terkecil hingga ukuran besar untuk gitar bas, sesuai kebutuhan suara yang ingin dihasilkan dengan masing-masing gitar tadi.

Potensi alam dan budaya di Masyarakat Togutil

Keadaan alam di sekitar beberapa pemukiman Togutil yang berbatasan dengan Taman Nasional Aketajawe Lolobata masih dapat dibilang terjaga dengan baik. Kondisinya sangat menarik untuk dieksplorasi. Berbagai flora dan fauna khas Halmahera masih mudah dijumpai di dalam hutan. Demikian pula keindahan alamnya. Hutan yang masih rapat, sungai-sungai, air-air terjun menjanjikan hiburan tersendiri bagi para penikmat alam. Jelas pula bahwa masyarakat Togutil sangat menguasai keadaan hutan mereka. Sebab, walau bagaimana pun juga, hutan adalah bagian terbesar dalam hidup mereka. Hutan masih menjadi tempat bergantung yang utama.

Di samping itu, seperti yang telah dikemukakan di atas, ada laku dan nilai budaya yang dapat ditemukan pada masyarakat Togutil, beberapa di antaranya malah cukup unik, sangat berharga untuk dilestarikan dan dipromosikan, dapat pula dikemas menjadi tontonan bermutu, baik bagi masyarakat Togutil sendiri, masyarakat tetangga maupun tamu-tamu lain yang datang. Praktik budaya masyarakat Togutil sangat potensial untuk dijadikan produk-produk hiburan yang didasarkan pada kearifan nilai-nilai lokal.


Saloi, tas keranjang tradisional Pulau Halmahera. Tas ini berbentuk keranjang yang dapat digendong di punggung yang biasanya digunakan oleh perempuan untuk membawa beraneka ragam kebutuhan dan hasil bumi.

Masyarakat Togutil juga memiliki keterampilan kriya, praktik kebudayaan yang mereka kuasai setelah tinggal di dalam hutan selama ratusan generasi. Berbagai tanaman mereka gunakan. Daun woka (nibung) mereka gunakan untuk membuat piring, mangkuk atau gelas. Pelepah aren bisa untuk tarupa ‘alas kaki’. Belum lagi pelepah sagu yang mereka pakai untuk membuat saloi ‘tas untuk membawa hasil hutan atau buruan’. Mereka juga sanggup membuat anyaman untuk alas duduk dari sejenis daun palem. Jangan lupa pula sabeba ‘kain pakaian yang terbuat dari kulit kayu’. Masyarakat Togutil adalah pengrajin-pengrajin terampil hasil-hasil hutan Halmahera.

Semua komoditas, potensi alam dan budaya di atas tentu menarik untuk diketahui orang luar, serta dapat dijadikan satu dan dikelola oleh masyarakat Togutil sendiri agar dapat menjadi kebanggaan seni budaya dan identitas mereka.

Pola sederhana pemberdayaan identitas masyarakat Togutil

Sesuai alinea terakhir di atas, pola pemberdayan masyarakat Toutil tidak melulu harus melalui program pertanian atau pemanfaatan hasil hutan. Ada hal-hal lain yang dapat mereka kembangkan tanpa harus menanggalkan identitas mereka sebagai O Hangana Manyawa.

Pola pariwisata sekarang ini banyak memadukan wisata alam dengan wisata budaya. Para pelancong mengunjungi obyek-obyek wisata yang memanjakan mata sambil mencari tahu tentang kebudayaan masyarakat lokal. Air terjun cantik, sungai-sungai yang mengalir jernih, serta naungan hutan yang teduh sudah barang tentu akan menarik orang untuk datang. Memadukannya dengan suguhan kearifan budaya lokal akan menjadi nilai plus tersendiri. Suguhan khas Togutil tidak akan didapat di tempat lain dan dapat menjadi pemuasan rasa ingin tahu yang kemudian juga menjelma jadi pengalaman batin yang sangat berharga.

Belajar langsung dari pengalaman dapat dijadikan tawaran menarik bagi para pelancong. Bagaimana sagu diramu hingga cara memasaknya secara tradisional adalah salah satu tawaran menarik; atau cara menangkap ikan dan udang di sungai. Belum lagi teknik-teknik berburu atau menjerat binatang di dalam hutan.

Berbagai kriya lokal dapat dimajukan sebagai tawaran cendera mata untuk tamu yang berkunjung, dapat pula dijadikan kelas cara membuatnya. Seni-seni tradisi dan kontemporer Togutil pun dapat ditampilkan demi menambah bobot kesan suatu kunjungan. Semua itu tentu akan menjanjikan pendapatan tambahan bagi masyarakat Togutil, selama hal-hal itu dijalankan dengan pendekatan yang memperhitungkan kelestarian lingkungan, tentunya.

Memasak dengan bambu.

Pembentukan kelompok-kelompok di antara masyarakat Togutil juga diperlukan. Bukan untuk memisahkan mereka secara sosial kemasyarakatan, namun kelompok-kelompok kecil akan lebih mudah diberdayakan. Kemudian, pengetahuan yang mereka dapatkan lebih mudah pula untuk diteruskan ke masyarakat umum. Ada dua kelompok yang perlu dibentuk saat ini, yaitu kelompok pengelola wisata dan kelompok seni budaya.

Kelompok pengelola wisata dibentuk untuk menjawab kebutuhan wisatawan yang datang. Mereka tentu telah tahu apa yang tersedia di dalam kawasan tempat tinggal mereka. Tinggal cara pengemasan dan pembuatan aturan saja yang harus tertib dikemukakan. Kelompok ini musti diinformasikan soal pengelolaan pariwisata, tentang bisnis keramah-tamahan. Tentu dibutuhkan masukan dan tenaga dari luar masyarakat Togutil untuk mendampingi program ini. Pula sebaiknya program pemberdayaan masyarakat lewat pariwisata dilakukan secara berkelanjutan, bukan dalam rupa program penyuluhan yang sifatnya sporadis. Sebab, ketertinggalan pengetahuan harus dikejar dan penyesuaian harus terus dilakukan. Program ini sebaiknya berkelanjutan dan melibatkan banyak pihak, baik pemerintah maupun swasta.

Sementara itu, kelompok seni budaya bisa berekspresi dalam suatu sanggar seni. Sanggar-sanggar ini dapat dibentuk di setiap kampung masyarakat Togutil sebagai wadah pelestarian budaya dan penguatan nilai-nilai lokal. Berbagai warisan seni budaya sebaiknya digali kembali. Lalu, generasi muda didorong untuk mempelajarinya demi menguatkan identitas dan membentuk karakter mereka sebagai pewaris budaya Togutil selanjutnya. Kesempatan tampil bagi sanggar-sanggar ini juga perlu dipikrkan. Sekali lagi, kerja sama dengan banyak pihak diperlukan untuk hal ini semata-mata untuk menjaga beragam warna yang ada di Nusantara.

Kerja bersama adalah kata kuncinya. Keberadaan Taman Nasional Aketajawe Lolobata, pemerintah-pemerintah kabupaten, pelbagai perusahaan, serta bermacam lembaga sosial yang beroperasi di Halmahera harus dengan rendah hati bekerja sama demi memberdayakan masyarakat Togutil si pemilik bumi Halmahera, untuk melestarikan adat istiadat sekaligus melahirkan pembaharuan yang membuat mereka tidak tercerabut dari akar tradisinya, serta tidak membuat mereka menjadi orang-orang yang kalah.

Menginisiasi dan memfasilitasi pemberdayaan pariwisata serta kegiatan seni budaya dapat menjadi titik mula kerja bersama tadi. Menemani masyarakat Togutil dalam mengunyah informasi-informasi baru sembari menggali pengetahuan mereka agar dapat dipromosikan dan dilestarikan dalam bungkus pariwisata. Pendukungan seni budaya dapat dilakukan dengan memberikan mereka ruang untuk tampil. Acara-acara resmi pemerintahan dapat dijadikan panggung ekspresi mereka. Program muhibah kebudayaan dapat pula menjadi kanal promosi seni budaya Togutil yang tentu akan meningkatkan daya saing lokal dan membuka berbagai kesempatan untuk mencapai kesejahteraan; hal yang didambakan semua pihak.

Tujuan utama semua ini nantinya adalah pariwisata dan seni budaya dapat menjadi satu napas. Napas yang menghembuskan sejuta pesona Halmahera. Sejuta pesona yang sebaiknya bisa lestari dan abadi, sehingga Halmahera dapat kembali tampil ke muka, lalu berjaya.

Nyaman Agung
Suryo Sumarahadi

People and places of Indonesia, in living colours random pictures.
facebook.com/suryo.sumarahadi

#Budaya #Togutil #Halmahera #Maluku #Pariwisata

Mari bergabung bersama kami, berkontribusi memajukan seni budaya Indonesia.

Klik di sini untuk mendaftar / login

Editor: Citra Megasari
Baca juga:
Alkisah Sal Mencari Kang Mad Antonius Taula, Pelestari Kain Kulit Kayu dari Sulawesi Tengah Ritual Seba Baduy Baur Rasa di Tanah Ramah, Kampung Adat Rende, Sumba Timur