L O A D I N G
Eksplorasi

Mentawai, Guru Kehidupan di Ujung Barat Nusantara

13/02/20

Teks: Kukuh Sukmana | Foto: Kukuh Sukmana
Saya membayangkan akan bertemu orang-orang pinggiran yang nihil kemajuan – tidak berpendidikan, kolot, dan sangat tradisional – ketika menyusuri sungai Siraraget menuju pemukiman suku Mentawai awal Agustus lalu. Saya berangkat dari Jakarta bersama Rengga dan Andrew. Kami semua fotografer lepas.

Pemandu kami, Yen, bilang bahwa suku Mentawai masih menjalankan ritus leluhur. Kepercayaan mereka adalah Arat Bulungan. Arat dalam bahasa Mentawai artinya adat, dan bulungan (berasal dari kata bulu) artinya daun.

Sungai Siraraget adalah satu-satunya jalur yang harus dilalui untuk mencapai Desa Ugai, desa terluar suku Mentawai di Pulau Siberut, Sumatera Barat. Perahu yang kami tumpangi melawan arus sungai yang lebarnya sekitar sepuluh meter. Air sungai berwarna kecoklatan dengan pohon bakau di kanan kirinya. Kami sempat berpapasan dengan perempuan suku Mentawai yang sedang mencari ikan dengan jaring tradisional. Perahu kayunya sangat sederhana: terbuat dari batang kayu yang dilubangi bagian tengahnya. Dadanya yang telanjang dihiasi kalung manik-manik dengan padanan celana pendek menutupi bagian bawah tubuhnya. Setelah menyalami kami, ia lanjut mencari ikan.

Sudah dua jam kami menyusuri sungai. Langit mulai gelap, sedangkan Desa Ugai masih tiga jam perjalanan lagi. Yulius, pengemudi perahu, memasang lampu kepala. Setelah itu, ia selalu mendongak ke atas. “Lihat jalan,” katanya. “Coba tengok ke atas, ada semacam jalur sungai, kan?” sambungnya. Aku tercekat. Ia intim sekali dengan alam, mengenal sifatnya yang paling pribadi.

Sikerei perempuan dari Matotonan sedang berperahu.

Pukul 20.51 perahu kami menepi di Ugai. Yen berteriak dengan bahasa yang asing bagiku. Mesti bahasa Mentawai. Tak lama kemudian, terlihat cahaya-cahaya mendekat ke arah kami dari dalam hutan. Terdengar suara anak-anak tertawa kecil. Mereka mengambil tas-tas kami. “Biar anak-anak ini yang bawa barang-barang kita. Kalo ada tamu, biasanya gitu,” kata Yen. “Siapkan uang saja buat mereka,” terangnya.

Kami berjalan menuju uma Aman Tonem. Uma ialah rumah adat Suku Mentawai, tempat kami bermalam selama di Ugai. Kami melewati jalan setapak berlumpur di tengah hutan. Tidak ada cahaya.

Aloita!” Suara itu muncul tiba-tiba, kencang sekali. Aloita adalah salam selamat datang orang Mentawai. Seorang lelaki tua dengan ikat kepala manik-manik dan bertelanjang dada menghampiri kami. Samar-samar pada dada lelaki itu terlihat bertato garis-garis. Ia julurkan tangan. “Aman Tonem,” katanya memperkenalkan diri.

Yen bilang aman adalah sebutan buat anak pertama orang Mentawai, sedangkan Tonem adalah namanya. Aman Tonem adalah seorang sikerei, semacam dukun atau tabib di sana. Ia biasa mengobati masyarakat secara tradisional.

Kami berkumpul di uma Aman Tonem. Penerangan rumah bermodal satu lampu dari tenaga diesel. Entah sejak kapan mereka menggunakan teknologi itu. Di uma Aman Tonem sudah berkumpul beberapa orang Mentawai.

“Yohanes.” “Riky.” “Petrus.” “Antonius.” “Semangat.” “Roy.” Mereka memperkenalkan diri. Saya penasaran dengan nama-nama itu. Saya rasa itu bukan nama-nama dari bahasa mereka.

Beberapa perempuan membawa makanan untuk kami dari dalam rumah. Kami makan bersama. Nasi hangat, ikan laut, dan sambal langsung kami santap. Sederhana. Nikmat.

Rumah Aman Tonem adalah rumah panggung. Atapnya daun sagu kering. Lantai tidak langsung menyentuh tanah. Kira-kita tinggi dasar rumah satu meter dari tanah. Kami tidur di dasar rumah beralaskan tikar pandan dan dilindungi kelambu. Nyamuk di sana ganas. Tahun 90-an, banyak orang Mentawai terjangkit malaria. Kelambu hadir ke kehidupan orang Mentawai dari program kesehatan Pemerintah.


Aman Tonem, Sikerei dari Ugai.

Kami berkeliling ke pemukiman Mentawai di Ugai. Kata aloita sering terlontar lantaran kami sering disapa oleh penduduk yang berpapasan dengan kami. Saya melihat bangunan panggung dari kayu. Atapnya seng. Bangunannya lumayan besar. Ada lambang salib di atas pintu utama. “Orang Mentawai banyak yang beragama katolik,” kata Yen. “Ada pula yang Islam. Masjidnya di Butui, dusun sebelah.”

Saya paham bahwa penamaan orang-orang yang menyambut kami tadi pasti mendapat pengaruh seiring agama masuk ke Mentawai.

Pagi itu kami mengikuti Aman Tonem dan Aman Poli pergi ke hutan. Mereka akan membuat kabit, cawat dari serat kulit kayu yang merupakan pakaian wajib sikerei. Aman Poli menebas sebuah pohon seukuran kaki orang dewasa. Mereka menguliti dengan tipis batang utama pohon. Kulit kayu itu dipukul berkali-kali. Lama-lama kulit kayu yang kasar dan kaku itu jadi lebih lentur dan halus. Kemudian, mereka mencuci kulit kayu itu di sungai.

“Ini sudah jadi, tinggal dijemur di depan uma,” kata Aman Tonem.

Aman Tonem dan Aman Poli sedang membuat Kabit, cawat kulit kayu.

Hari kedua di Mentawai hujan turun siang hari di Desa Butui, sebelah selatan Desa Ugai. Kami berteduh di depan rumah warga. Tiba-tiba menggema adzan dari pengeras suara. Sumbernya dari rumah di seberang kami berteduh. Bangunan itu menyerupai pendopo di Jawa. Pagarnya bilah-bilah bambu dan rotan. Atapnya menyerupai rumah srotong, rumah tradisional masyarakat Jawa Tengah.

Fernando adalah muadzin di masjid itu. Ia menjadi mualaf sejak tahun 2014. Ia salah satu pengurus yayasan muslim di Mentawai. Gaya berpakaiannya laiknya muslim di Indonesia: paduan sarung dan kemeja panjang. Fernando tinggal di rumah sosial program Pemerintah.

Alam, Bukan Uang

Orang Mentawai memosisikan sagu sebagai makanan pokok. Setiap orang Mentawai mempunyai tugas masing-masing dalam proses pembuatannya. Setelah pohon sagu ditebang oleh para laki-laki, para perempuan menyiapkan daun-daun sagu. Daun itu nantinya digunakan untuk membungkus sagu ketika dibakar.

Di lain kesempatan, saya sempat mengikuti bagaimana perempuan Mentawai menangkap ikan. Mereka bertelanjang dada. Rumbai-rumbai daun pisang menutupi bagian pinggang hingga lutut. Mereka menyusuri sungai kecil sambil membawa leggei, sejenis penangkap ikan dari rotan. Ikan yang mereka dapat dimasukkan ke dalam bambu yang diselipkan di pinggang belakang. Waktu itu, mereka hanya dapat sedikit ikan-ikan kecil. Mereka pulang, tidak memaksakan diri.

Untuk berburu binatang yang sulit dijangkau manusia, seperti burung atau binatang yang larinya cepat, orang Mentawai punya cara tersendiri, yaitu dengan panah. Aman Tonem memperlihatkan bagaimana cara membuat bius untuk anak panahnya. Aman Tonem menyerut halus kulit kayu laingik dengan parang. Bentuknya mirip hasil serutan pensil. Serutan kayu itu kemudian dihaluskan bersama doro (cabai rawit) dan baklau (sejenis lengkuas dan ragi); dua jenis tumbuhan khas Mentawai yang mengandung racun. Ramuan dimasukkan ke sela-sela penjepit kayu untuk diperas. Hasil perasan yang berwarna kehijauan ditampung dalam belahan bambu. Aman Tonem mengambil sejumlah anak panah. Hasil perasan dioleskan ke ujung mata anak panah dengan bulu angsa.

Martinus datang ke uma Aman Tonem. Ia adalah sipatiti, seniman tato di Mentawai. Martinus datang untuk menato kaki Andrew. Konon tato suku Mentawai adalah salah satu yang tertua di dunia. Tato bagi suku Mentawai memiliki makna keseimbangan. Oleh karena itu motifnya selalu simetris antara badan kanan dan kiri. Motif tatonya melambangkan bintang, batu, hewan, dan peralatan berburu.

Proses membuat tato tradisi Mentawai.

Pembuatan tato suku Mentawai sangat tradisional. Mereka hanya menggunakan tinta hitam yang berasal dari campuran air tebu dan sisa pembakaran sumbu lampu teplok. Alat tatonya dibuat dari kayu yang diberi jarum. Dulu mereka menggunakan duri tanaman sebagai jarumnya. Setiap jarum hanya digunakan satu kali menato. Ujung jarum dicelupkan ke dalam tinta. Jarum diletakkan di atas kulit. Bagian atas jarum dipukul pelan berulang-ulang dengan kayu. Andrew sesekali meringis menahan sakit.

Martinus adalah seorang mualaf. Ia baru dua bulan jadi pemeluk Islam. Ia tetap mau menato siapa saja yang ingin ditato. Martinus bilang bahwa ia tidak ingin lepas sepenuhnya dari akar tradisi.

Upacara Perpisahan

Ini hari terakhir kami di Mentawai. Aman Tonem menyiapkan babi di depan uma. Selembar daun dijampi-jampi olehnya kemudian diletakkan di tubuh babi. Tiba-tiba seorang sikerei menusuk babi dengan pedang. Setelah tidak bernyawa, jantung babi diambil. Aman Tonem melihat dengan seksama jantung babi itu. Matanya seperti menerawang. “Jantungnya bagus. Pertanda bagus,” katanya. “Nanti di antara kalian akan ada yang kemari lagi,” sambungnya sambil tersenyum. Kemudian Babi dicacah kecil-kecil dan direbus di kuali di atas bara api.

Malam harinya orang-orang berkumpul di uma Aman Tonem. Kami diberi tempat duduk di samping sikerei. Gajeuma, gendang Mentawai, dipukul seperti tidak beraturan. Namun sesunguhnya jika didengar dengan teliti, pukulannya memiliki pola. Hentakan kaki tiga penari mengisi kekosongan ketukan gajeuma.

Para Sikerei sedang 'maturuk', bahasa Mentawai untuk "menari".

Para penari adalah sikerei. Mereka menggunakan semacam rok pendek dari daun-daun panjang yang menutup sampai ke atas lutut. Daun itu dianyam menggunakan akar pohon atau rotan. Tarian mereka disebut Turuk. Gerakannya kadang menyerupai burung, ular atau monyet. Gerak tari Turuk menyimpan filosofi tersendiri. Yen bilang gerakan turuk melambangkan cinta kasih. Gerakan burung elang dan monyet melambangkan perdamaian antarsuku. Meski berbeda jenis, mereka bisa hidup berdampingan di alam. Turuk biasa dilaksanakan saat hajatan, untuk menyambut tamu atau sebagai tarian perpisahan.

Pertunjukan selesai. Babi dibagikan dan dimakan bersama. Mereka mengerti, peserta yang tidak makan babi, tidak ditawari. Orang Mentawai yang muslim tidak ditawari makan babi.

Kita yang Kolot, Orang Mentawai Tidak

Berkunjung ke Mentawai membuat saya bertanya-tanya. Seperti apakah masyarakat yang tidak kolot itu? Apakah kita yang berpendidikan dan dekat dengan teknologi canggih bisa disebut masyarakat yang berpikiran maju? Mentawai membuat saya malu. Saya ditampar oleh laku hidup mereka. Mereka tidak memecat secara adat orang-orang yang tidak lagi memeluk Arat Bulungan. Mereka hidup berdampingan. Mereka menjalani perdamaian sebagai laku. Harta mereka adalah alam, bukan uang. Kita ingin mendapatkan uang banyak. Mereka ingin mengambil apa yang ada di alam secukupnya, kemudian merawatnya.

Orang Mentawai tidak pergi ke mana-mana. Kita mengunjunginya. Semakin hari semakin banyak yang ke sana. Tidak bisa ditahan. Orang berpendidikan ingin ke sana. Orang Mentawai tidak ingin ke kota, tempat orang berpendidikan mudah ditemui. Kita, orang terpelajar, datang ke Mentawai untuk belajar kehidupan.

Pemerintah membuat akses jalan modern yang membelah hutan Mentawai.

Saat ini, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat tengah membuat proyek Jalan Trans Mentawai. Pohon sudah ditumbangkan sejauh mata memandang di dekat rumah Aman Tonem. “Ini nanti bakal diaspal,” katanya. Pariwisata mengubah wajah “rumah” orang Mentawai.

Saya teringat ketika ikut Aman Tonem berburu. Saya lihat sikerei itu berjalan di atas tanah merah yang akan dijadikan jalan aspal. Orang-orang kota ingin memberi sentuhan “kemajuan” pada Suku Mentawai. Padahal, kemajuan bagi mereka adalah berlaku adil terhadap alam. Berpikir maju bagi Suku Mentawai ialah menghargai hak memilih kepercayaan. Mereka tidak mengerti hak asasi. Mereka menjalaninya sebagai sebuah laku hidup. Sedangkan banyak dari kita sibuk mempermasalahkan warna kulit, cara ibadah, dan hal-hal konyol lain yang tidak perlu, sembari merusak alam secara perlahan.

Kukuh Sukmana

Kukuh Sukmana Hasan Surya
instagram.com/kukuhsukmana/

#Mentawai

Mari bergabung bersama kami, berkontribusi memajukan seni budaya Indonesia.

Klik di sini untuk mendaftar / login

Editor: Citra Megasari
Baca juga:
Ciu Later! Kisah Sommelier Ciu Banyumas Kesahajaan Tutup Ngisor di Hadapan Corona dan Erupsi Gunung Merapi Bai Telpon dan Tato Mentawai: "Pakaian" yang Berangsur Punah Merayakan Ruwat Gimbal di Dieng Culture Festival