L O A D I N G
Sorotan | Kegiatan Budaya

Perayaan Satu Sura Sanggar Kuda Lumping Fajar Muda

17/03/21

Teks: Redaksi | Foto: Pasebanrasi
Setahun sekali, para kasepuhan dan beberapa anggota kelompok Sanggar Kuda Lumping Fajar Muda melakukan perjalanan dari Kampung Waluran, Ciracap, Ujung Genteng, ke Kebumen, kampung halaman mereka. Perjalanan ini mereka tempuh dalam rangka persiapan perayaan satu Sura atau Suraan yang biasa jatuh pada bulan September. 

Dengan mobil pinjaman, mereka berziarah ke Makam Senopati Trunojoyo di Bukit Condong, Kebumen. Waktu keberangkatan diatur sedemikian rupa sehingga rombongan utusan Sanggar Kuda Lumping Fajar Muda ini bisa sampai di atas bukit dan melakukan persembahyangan di makam tepat pada Jumat Kliwon. Setelahnya, mereka langsung turun kembali menuju Ujung Genteng untuk menggelar perayaan pada Sabtu malam. 

Sepanjang perjalanan itu, para utusan yang berangkat melakukan ritual Pati Geni atau puasa makan dan minum sama sekali sampai selesai ritual sembahyang di Makam Senopati Trunojoyo. Termasuk para kasepuhan yang usianya sudah mencapai 80-an tahun.

Aksi salah satu penari Kuda Lumping dari Sanggar Fajar Muda saat perayaan Suraan di Kampung Waluran. Biasanya para penari akan kemasukan indang. Ketika itu terjadi, mereka akan memakan sesajen yang disediakan.

Tidak usah tanya dari mana biaya mereka melakukan perjalanan dan pementasan. Honor-honor penampilan Kuda Lumping yang tak pernah seberapa itu mereka sisihkan sebagian untuk uang kas demi membiayai perayaan serta segala ritualnya tersebut. Untunglah, Kuda Lumping masih menjadi penampilan primadona untuk mengisi hajatan di sekitar Kecamatan Ciracap.

Sebelum menikmati penampilan energik para penari Kuda Lumping dan Cepetan yang biasa digelar pada malam hari, sempatkan diri Anda berkeliling kampung. Nikmati atmosfernya dan berbincang dengan pendudu setempat. Anda pasti akan menangkap suasana yang unik. 

Sanggar Kuda Lumping Fajar Muda merupakan kelompok seni tradisional yang diinisiasi para migran dari Kebumen di Kampung Waluran, Ciracap, Ujung Genteng.

Masyarakatnya yang sebagian besar merupakan keturunan atau pendatang dari Kebumen memang membuat Kampung Waluran ini identitas yang unik. Baik itu dari arsitekturnya yang terlihat berbeda dengan bangunan-bangunan rumah di desa tetangga, atau dari dialek bahasa Sunda yang bercampur dengan logat Jawa Ngapak. Itu mengapa kampung ini juga dikenal sebagai Kampung Jawa. 

Selain menikmati pertunjukan Sanggar Kuda Lumping Fajar Muda, Anda juga bisa mengunjungi konservasi penyu di area pantai Ujung Genteng. Jaraknya hanya sekira 20 menit dari Kampung Waluran. Datanglah saat jelang matahari terbenam dan Anda akan melihat prosesi pelepasan tukik ke laut lepas. Untuk tempat menginap, Anda bisa memilih tinggal di hotel-hotel dengan harga terjangkau di sekitar kawasan pantai. Pun di Kampung Budaya Cikawung yang jaraknya sekitar 30 menit Kampung Waluran.

 

Disclaimer: Perubahan tanggal dan pembatalan acara dapat terjadi dan di luar tanggung jawab Spektakel.
 
Redaksi

Tim redaksi spektakel.id
instagram.com/spektakel.id/

#Ciracap #Kuda Lumping #Ujung Genteng

Mari bergabung bersama kami, berkontribusi memajukan seni budaya Indonesia.

Klik di sini untuk mendaftar / login

Editor: Redaksi
Baca juga:
Rampai Bahasa Indonesia dan Tagalog Berburu Paus di Lamalera Kesahajaan Tutup Ngisor di Hadapan Corona dan Erupsi Gunung Merapi Manene, Tradisi Menyapa Leluhur