L O A D I N G
Sorotan | Tradisi

Rasi Bintang Dan Perkara Nasib

18/02/20

Teks: Anera Vinaya Vesta | Foto: Dari berbagai sumber
Berdasarkan laporan American Psychological Association generasi milenial menjadi generasi yang paling stres dengan berbagai macam krisis yang dihadapi dunia sekarang. Astrologi menjadi jawaban atas stres mereka, cara mereka mencari afirmasi akan sesuatu yang lebih baik. Bahwa semua krisis akan berlalu dan dunia akan menjadi lebih positif.

Ada beberapa hal yang saya yakini di dunia ini: Bumi itu bulat, matahari terbit di Timur lalu tenggelam di Barat, dan meme astrologi dari akun Instagram Not All Geminis—atau akun astrologi apa pun itu. Saya ingat selalu senang membaca bintang sedari kecil. Salah satu segmen televisi yang paling saya tunggu waktu bocah adalah bagian pembacaan astrologi di acara “Planet Remaja”. Kemudian berlanjut ke kolom-kolom ramalan bintang di majalah-majalah remaja dan fashion. 

Percepat ke hari ini, astrologi yang saya kenal jadi begitu rumit, dan tampak komprehensif. Ramalan bintang bukan lagi cuma soal pembacaan karakter atau peruntungan berdasarkan rasi bintang di waktu kelahiran saya atau sun sign, sekarang ada soal moon sign, venus, mars, dan segala tetek-bengek lainnya.

Saya ingat betul ketika mengetahui bahwa terlepas dari sun sign saya Cancer (senang merawat, keibuan, sabar, dan sensitif), ternyata saya juga adalah seseorang dengan moon Aries (tidak sabaran, energik, dan selalu merasa benar), rasanya seperti mendapat pencerahan dari semesta tentang hal-hal yang tak saya tak pahami sebelumnya.

Tak berhenti pada diri sendiri, saya pun mulai menanyakan konstelasi bintang teman-teman terdekat untuk “dibaca”. Ternyata bukan saya sendiri yang mencoba membaca pertanda semesta lewat perhitungan misterius antara penempatan rasi bintang dan posisi planet. Teman-teman sekitar saya pun melakukannya, bahkan bisa dibilang, lebih intens dari yang saya perkirakan.

Pembacaan bintang kiwari ini melibatkan elemen-elemen yang lebih detail untuk memperkirakan pribadi dan peruntungan seseorang secara utuh.

Sebegitu fasihnya teman-teman saya bicara bahasa bintang, kerap kali terselip kalimat-kalimat, “Scorpio season is real,” ketika salah satu sahabat saya merasa mood-nya tak keru-keruan sepanjang akhir Oktober dan sepanjang November alias musimnya Scorpio. Pun saya merasa sangat mudah frustasi sepanjang Maret hingga April, alias musimnya Aries. Seolah radiasi dari rasi-rasi bintang di semesta punya pengaruh langsung atas keseimbangan energi dan suasana hati kita saat ini.

Ada juga saat-saat yang disebut dengan mercury retrograde, fenomena antariksa yang sepenuhnya bisa dijelaskan dengan ilmu fisika—yang membuat ilusi optik seakan-akan rotasi bulan berbalik sebentar sebelum akhirnya kembali ke jalur semula— tetapi lantas kerap menjadi kambing hitam dari segala sial yang menimpa diri. Mulai dari salah bicara, konflik dengan sahabat, keluarga, atau apalah.

Astrologi: Cocoklogi?

Dari mana ilmu perbintangan ini bermula? Zaman dahulu kala pada suatu masa pada milenia ketiga sebelum masehi, manusia-manusia sudah menemukan rahasia semesta lewat bintang-bintang. Khususnya di kalangan orang Indo-Eropa. Pada mulanya, bintang-bintang menjadi pemandu para leluhur kita untuk memprediksi pergantian musim dengan melihat siklus di langit. Berbagai peradaban besar kuno ditemukan memiliki catatan berdasar ilmu perbintangan ini. Khususnya peradaban-peradaban di zaman Mesopotamia seperti Sumer, Akkad, Assyria, dan Babylonia.

Sampai abad ke-17 masehi, astrologi masih dianggap sebagai salah satu tradisi ilmiah dan punya peran dalam hal pengembangan ilmu astronomi. Astrologi baru mulai kehilangan posisinya sebagai tradisi ilmiah di akhir abad ke-17 ketika ilmu astronomi telah semakin matang. Sejak saat itulah astrologi dan horoskop dianggap sebagai pseudoscience.

Astrologi menjadi permulaan tradisi ilmu astronomi di peradaban-peradaban besar kuno. Salah satunya di Babilonia yang telah menyadari bahwa bumi dan planet-planet lain berbentuk bulat serta bergerak mengelilingi matahari. Bahkan beberapa ribu tahun sebelum Copernicus.

Meski demikian, astrologi tidak kehilangan daya tariknya. Di era modern ramalan bintang menjadi produk kebudayaan dalam sistem kapital. Setelah sempat booming pada tahun 1960-1980an di era “New Age”, popularitas astrologi kembali meningkat beberapa tahun belakangan. Seperti dilansir The Atlantic, laju akses situs The Cut untuk konten-konten horoskop bisa mencapai hingga 150% dari laju akses normal.

Ia hadir dalam bentuk ramalan, pembacaan zodiak dari karakter-karakter dalam serial dan film populer, atau afirmasi positif harian. Sebagaimana hal lainnya di internet, meme menjadi salah satu konten zodiak yang populer dijumpai. Konten yang mudah dicerna dan mudah dibagikan. Bagaikan medan gravitasi lubang hitam, meme zodiak pun bisa menarik khalayak mendalami ilmu nujum dalam spiral pencarian Google tentang segala penanda.

Bagi sebagian praktisinya, aksi ramal-meramal bintang ini bahkan bisa menjadi profesi penuh waktu yang cukup menghasilkan. Ambil contoh Courtney Perkins, admin akun Instagram meme astrologi populer @notallgeminis yang menarik lebih dari 500.000 pengikut dan memiliki kolom mingguan sendiri di Garage Magazine bertajuk “Zodiac Signs as…”.

Primbon; Mestinya Jadi Tren

“Dasar kalian anak muda pemuja budaya Barat,” kata para senior-senior mungkin. Eits, nanti dulu. Kalau dibilang ramal-meramal bintang ini budaya Barat, sebetulnya Indonesia juga punya budaya pembacaan alam semesta yang tak kalah canggih. Salah satunya adalah Primbon yang biasa digunakan untuk membaca karakter hingga memperhitungkan hubungan asmara.

Orang Jawa memegang ajaran leluhurnya untuk memperhitungkan waktu khusus karena didasari kepercayaan terhadap takdir. Takdir mereka adalah hal yang sudah ditetapkan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Namun, bukan berarti manusia mesti berpasrah. Sebab takdir dibagi menjadi dua, yakni Takdir Mubram dan Takdir Muallaq.

Yang pertama adalah takdir yang tidak dapat diubah atau dipilih manusia. Misalnya adalah bagaimana tata surya bekerja dengan pergerakan planet dan benda-benda langit. Sementara takdir Muallaq adalah takdir yang diyakini masih bisa diusahakan oleh manusia dengan usaha dan doa.

Ilmu nujum lain yang juga dianut oleh orang Jawa adalah Pranata Wangsa yang memperhitungkan peruntungan berdasarkan kalender khusus.

Dalam melakukan usaha itu, manusia lantas membuat rambu-rambu atau pemandu, yaitu Primbon. Perhitungan dalam primbon menggunakan kalender Jawa di mana setiap hari, hari pasaran, bulan, dan tahun memiliki maknanya sendiri-sendiri untuk memprediksi baik-buruknya satu hal.

Baru-baru ini saya menemukan weton kelahiran saya dan mencoba mencari pembacaannya secara instan di internet. Dan ternyata pembacaannya tak kalah tepat. Bahkan lebih spesifik. “Suka marah dengan keluarga,” begitu deskripsi pembacaan karakter saya di situs primbon.net. Seketika itu juga saya lantas memasukkan data tangga lahir pacar dan juga teman-teman sejawat untuk menguji keakuratannya. Ternyata cukup lumayan.

Ilmu membaca alam semesta ala Indonesia sendiri cukup lengkap untuk menjelaskan berbagai peristiwa. Pertama, ada Pranata Mangsa yang banyak digunakan oleh masyarakat tani untuk memperhitungkan musim tanam hingga hari baik untuk pernikahan. Lalu ada Primbon atau Pawukon yang menilik hari lahir seseorang. Ada juga Wirid yang berupa pesan-pesan atau larangan-larangan yang dianggap perlu untuk menjaga keharmonisan alam—mirip dengan anjuran-anjuran yang diberikan penganut horoskop saat menjelang “mercury retrogade”.

Paham VS. Waham

Pertanyaan kemudian, apakah ilmu membaca semesta ini terbukti secara ilmiah? Jawabannya tentu tidak. Saya sendiri tidak menafikan bahwa keakuratan ramalan horoskop, Primbon dan sebagainya terdiri dari 50% kepercayaan dan 50% kebetulan. Begitu pula sebagian besar teman-teman saya yang juga menekuni horoskop. Mereka tidak senaif itu untuk lantas mempercayakan kehidupannya kepada bintang-bintang di entah-berantah.

Lantas apa yang membuatnya tetap menarik bagi banyak orang? Horoskop dan primbon punya logika mereka sendiri yang logis. Dalam horoskop, makna semesta bisa dibaca dengan memperhatikan penempatan matahari, bulan, dan planet-planet lainnya di 12 bagian langit. Itulah mengapa horoskop bukan lagi sekadar soal Sun Sign atau zodiak kelahiran dilihat dari posisi matahari di hari kelahiran kita.

Namun, apa makna dari kian populernya ilmu nujum sekarang, terutama di kalangan anak muda? Apakah ini adalah paham atau waham? Dilansir The Atlantic, sebuah studi pada 1982 menunjukkan biasanya orang berkonsultasi kepada astrologer adalah mereka yang sedang mengalami stres. Berdasarkan laporan American Psychological Association generasi milenial menjadi generasi yang paling stres dengan berbagai macam krisis yang dihadapi dunia sekarang.

Pranata Wangsa membantu masyarakat tani di Jawa untuk memperhitungkan musim tanam hingga hari baik untuk pernikahan. Tak ketinggalan larangan-larangan yang dianggap perlu.

Astrologi lalu menjadi jawaban atas stres mereka, cara mereka mencari afirmasi akan sesuatu yang lebih baik. Bahwa semua krisis akan berlalu dan dunia akan menjadi lebih positif.

Yang membuatnya semakin terasa istimewa adalah horoskop, Primbon, dan ramalan-ramalan lain tetap memiliki aspek “mitos” dan magisnya. Seolah jawaban-jawaban itu sudah tersimpan di alam semesta dan kita bisa membacanya dengan seperangkat alat perhitungan. Ini jelas cara yang lebih instan dibandingkan ilmu agama yang dogmatis dan banyak tuntutan, sembari tetap membawa unsur-unsur ilahi yang absen dari pembacaan kepribadian dengan metode “saintifik” seperti Myer-Briggs.

Seperti dilansir The New Yorker, salah satu penulis mereka Christine Smallwood mengutip Thedor Adorno dalam artikel “Astrology in the Age of Uncertainty”. Kata Christine, Adorno dalam bukunya The Stars Down to Earth mengatakan hal-hal semacam astrologi menarik bagi “orang-orang yang merasa tak memiliki kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri.”

Cukup masuk akal. Jika memang kepercayaan akan hal yang magis lahir sebagai respon manusia untuk mencari kepastian di alam semesta, tak heran masyarakat Indonesia yang selama berabad-abad dikolonisasi serta terombang-ambing dalam berbagai perseteruan politik domestik dan dunia lalu menemukan satu set alat ramalan yang bisa mereka jadikan pegangan.

Pun jika kita melihat di masa sekarang, horoskop seperti berada di masa pencerahannya beberapa tahun terakhir saat sekali lagi kita situasi sekitar kita terasa begitu rumit dan serba tak pasti. Dan untuk mengatasi kegelisahan sendiri, kita pun mencari pegangan kepada hal yang magis, misterius, sekaligus cukup mudah dicerna untuk kita mendapatkan jawaban secara instan. Jadi bagaimana ramalan bintangmu?    


#Astrologi

Mari bergabung bersama kami, berkontribusi memajukan seni budaya Indonesia.

Klik di sini untuk mendaftar / login

Editor: Dimas Jayasrana
Baca juga:
Berkuda Di Sumba Timur Arcida Gentayangan Ujung Surga Ada Di Wakatobi Gali Halmahera; Berbagi Pengetahuan Dan Kebudayaan