L O A D I N G
Opini

Menelisik Nilai Seni Budaya

13/02/20

Teks: Dimas Jayasrana | Foto: Sanggar Rojolele
Kita bahkan tidak hanya bisa mengaitkan seni budaya dengan ekonomi pariwisata. Seni budaya bisa berperan di banyak lini bisnis lainnya: kesejahteraan sosial, pendidikan, produk budaya popular, bahkan kesehatan sekalipun.

Mari bayangkan Indonesia tanpa pertunjukan wayang kulit, ritual bakar tongkang, koser music punk, sesaji laut, pameran seni rupa kontemporer, museum, sanggar tari, kelompok teater, kampus, dan masih banyak lagi kegiatan dalam bentuk pertunjukan maupun wacana terkait seni budaya.

Mari bayangkan kita vakum dari semua hal itu; hidup tanpa sumber daya kolektif dari perpustakaan, museum, teater, dan galeri, atau tanpa ekspresi sastra, musik, dan seni. Hidup kita akan statis dan steril. Segala argumen kreatif tentang masa lalu akan hilang dan tidak akan ada perdebatan tentang masa kini yang beragam dan merangsang, juga mimpi akan masa depan akan hilang.

Perdebatan mengenai nilai dan fungsi budaya telah berlangsung sejak lama. Asumsi tentang nilai umum seni budaya sudah ada dalam masyarakat dan perdebatan secara spesifik mengenai daya gunanya terus bergulir. Mulai dari perkara identitas bangsa, tonggak peradaban hingga fungsi pragmatis seni budaya sebagai pendorong sektor pariwisata adalah isu-isu yang biasa dibicarakan dalam forum-forum diskusi formal maupun informal.

Presiden Jokowi dalam sambutannya pada acara Forum Rektor Indonesia di JCC Senayan tahun 2017 menyatakan bahwa ia terpikir untuk menjadikan seni budaya sebagai business core yang nantinya dikaitkan dengan ekonomi pariwisata.

Pernyataan ini sangat relevan mengingat keragaman yang Indonesia miliki amatlah luar biasa, tanpa ada tendensi untuk melebih-lebihkannya. Sejak Spektakel meluncurkan mengumpulkan data-data kegiatan seni budaya di Indonesia, kami terpukau dengan ragam kegiatan yang berlangsung sepanjang tahun di Indonesia; mulai dari ritual, seni tradisi, seni kontemporer hingga persilangan di antara semuanya.

Kita bahkan tidak hanya bisa mengaitkan seni budaya dengan ekonomi pariwisata. Seni budaya bisa berperan di banyak lini bisnis lainnya: kesejahteraan sosial, pendidikan, produk budaya popular, bahkan kesehatan sekalipun.

Namun bagaimana cara menerjemah ide tersebut hingga ke tingkatan aplikatif?

Ketika kita berbicara tentang nilai seni dan budaya, kita harus mulai secara intrinsik: bagaimana seni dan budaya menerangi kehidupan batin serta memperkaya dunia emosional. Kita harus mampu menunjukkan manfaat seni budaya bagi kesejahteraan sosial, kesehatan fisik dan mental, sistem pendidikan, status nasional dan ekonomi.

Pembuktian manfaat seni budaya perlu dilakukan pada beberapa skala yang berbeda: pada tingkat individu, komunal, dan nasional, sehingga kita dapat memunculkan kesadaran di masyarakat, lintas sektor budaya, pendidikan, serta politik, yang memengaruhi investasi di sektor publik dan swasta.

Untuk itu, kita membutuhkan data informasi ini untuk membantu berpikir tentang seni dan budaya sebagai sumber daya nasional yang strategis. Sumber informasi inilah yang akan membantu kita berpikir bagaimana dapat melakukan yang lebih baik sehingga seni budaya dapat benar-benar dinikmati oleh semua orang dari berbagai lapisan.

Artikulasi Baru Seni Budaya

Kita perlu melihat secara kritis kondisi ekosistem seni budaya di Indonesia. Persoalan utama seni budaya di Indonesia adalah jarak. Celah antara kegiatan serta pelaku seni budaya dengan masyarakat sangat lebar dan hal ini disebabkan oleh tiga persoalan dominan: Infrastruktur: minimnya infrastruktur produksi dan ekshibisi seni, serta mahalnya infrastruktur pendukung seperti transportasi. Informasi: tidak terkelola dan distribusi yang tidak maksimal. Literatur: materi pendidikan yang konvensional dan tidak memanfaatkan perkembangan teknologi.

Akibatnya, masyarakat kurang memiliki kesempatan untuk mengalami seni budaya dalam keseharian mereka. Seni budaya seolah menjadi barang mewah yang hanya bisa disentuh dan dialami oleh segelintir orang dari kelas sosial tertentu.

Gedung-gedung kesenian yang ada di kota atau kabupaten belum menjadi pusat produksi dan ekshibisi kesenian, juga banyak terbengkalai. Untuk itu, revitalisasi fisik, fungsi, serta pola pengelolaan harus dilakukan.

Kita juga harus mengubah cara kita dalam mengartikulasikan seni budaya. Seni budaya bukan benda statis yang tidak bisa direproduksi dalam bentuk-bentuk baru. Begitu juga dengan distribusi informasi serta materi pendidikan. Materi pengajaran yang konvensional mesti diadaptasi dengan memanfaatkan teknologi informasi.

Kita kekurangan data-data ekosistem seni budaya yang komprehensif. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini seperti mencari setitik cahaya ditebalnya kabut;

  • Berapa jumlah individu yang bekerja secara profesional di bidang seni budaya?
  • Apakah ada standar kompetensi profesinya?
  • Berapa estimasi valuasi ekonomi dari kegiatan seni budaya dalam rentang beberapa tahun terakhir?
  • Bagaimana relasinya dengan struktur bisnis yang lain, seperti penyewaan alat, jasa keamanan, katering, lembaga pendidikan, hingga penonton?

Data di sektor seni budaya biasanya dipersepsikan sebatas penjualan tiket, jumlah penonton/pengunjung, serta dokumentasi kegiatan. Kita perlu berpikir tentang data secara berbeda berikut dampak positifnya.

Data seni budaya menghadirkan peluang untuk membuat narasi berbasis bukti yang dapat menyoroti skala dan dampak organisasi seni, menjadikannya sumber daya strategis yang berguna. Menggabungkan data dari berbagai sumber dapat membantu memecahkan masalah dengan cara baru.

Data juga dapat digunakan dalam konteks yang lebih akrab, seperti metrik media sosial. Data ini dapat menawarkan wawasan unik dalam proses menciptakan cara dan bentuk baru lembaga budaya dalam mengembangkan model partisipasi publik secara daring.

Industri Budaya dan Kreatif

Industri kreatif dan budaya bertindak sebagai sumber input kreatif yang menambah nilai atau mendukung industri lain. Ada banyak argumen yang dibuat tentang industri kreatif sebagai bentuk keterkaitan antara sektor seni dan budaya komersial, serta bagaimana hal tersebut memberikan kontribusi ekonomi pada skala lokal dan nasional. Namun di Indonesia, bukti-bukti di bidang ini masih terbatas pada beberapa studi skala kecil.

Kita perlu menyelidiki apa kiranya kebutuhan fundamental masyarakat akan seni budaya. Masyarakat sebagai pengguna terakhir (end user) merupakan pemangku kepentingan yang harus direspon. Bagaimana dinamika serta pemikiran khalayak umum tentang seni budaya bisa menstimulasi inovasi-inovasi produk seni budaya yang kelak menjadi identitas nasional.

Melibatkan masyarakat dalam proses ini sangatlah krusial. Peran individu serta kelompok sipil, baik sebagai pelaku seni budaya maupun bukan, akan memberikan stimulan bagi seluruh entitas untuk bergerak dan terhubung satu sama lain dalam mengembangkan seni budaya sebagai bagian dari industri budaya dan kreatif.

Untuk menggapainya, disyaratkan untuk menggunakan paradigma yang sangat berbeda dari sebelumnya, dalam melihat dan menilai seni budaya. Kita tidak bisa lagi hanya bergantung pada cara pandang charity, bahwa seni budaya hanya bisa berjalan dengan modus donasi atau bantuan pemerintah. Seni budaya bukan hanya apa yang kita lihat di masa lalu, tetapi apa yang kita lakukan hari ini dan apa yang kita siapkan untuk masa depan.

Disarikan dari sumber:

The Value of Arts & Culture to People and Society – www.artscouncil.org.uk
The Art of Analytics: Using bigger data to create value in the arts and cultural sectorhttp://lab.cccb.org
The arts and culture sector must think about data … but differently – www.theguardian.com
UU No. 5 Tahun 2017 Tentang Pemajuan Kebudayaan

Dimas Jayasrana

Pendiri dan CEO Spektakel.
instagram.com/anarkibumi/

#Uu Pemajuan Kebudayaan

Mari bergabung bersama kami, berkontribusi memajukan seni budaya Indonesia.

Klik di sini untuk mendaftar / login

Editor: Citra Megasari
Baca juga:
Pergeseran Nilai Tradisi Wairaki Di Ende Cintaku Jauh di Komodo* Prasmanan Musik di Synchronize Fest Tembakau dan Tradisi Warga Lamuk Legok