Fadriah Syuaib merupakan seorang perupa perempuan asli Ternate yang telah aktif berkarya sejak awal 2000-an. Selain membuat karya-karya seni rupa, Fadriah juga merambah beberapa medium bercerita, seperti salah satunya tulisan. Beberapa tulisannya tentang Ternate akan dapat ditemui di Spektakel. Untuk berkenalan lebih dekat, Spektakel menyelipkan sebuah obrolan tentang Ternate dan geliat-geliat seni yang ia perjuangkan di sana.
Ternate merupakan salah satu dari sekian banyak cuilan tanah Indonesia yang menjadi bejana penampung berbagai budaya. Pulau di provinsi Maluku Utara ini mungkin berukuran kecil, hanya membutuhkan waktu 45 menit untuk naik sepeda motor mengelilinginya. Namun sejak tahun 1300-an, ia telah menjadi kota pelabuhan yang aktif. Terutama karena perdagangan rempah. Dari rempah tergelar interaksi antara pedagang Arab, Cina, Jawa, dan seantero Maluku.
Bentuknya saat ini menyimpan banyak catatan cerita baik-buruk dan tali relasi yang cukup kompleks. Berbagai relasi antarmanusia, antartanah dan antarbangsa telah tergelar dari waktu ke waktu. Jauh sebelum Indonesia ada, surat Negarakertagama dari zaman kerajaan Majapahit telah mencatat keberadaan pulau di Timur ini sebagai salah satu bagiannya. Pada masa kolonial Belanda, Ternate menjadi salah satu pusat hiruk-pikuk perdagangan rempah cengkehnya. Pada awal masa reformasi, Ternate juga turut menjadi saksi kerusuhan antarumat beragama di Maluku.
Pun kini, Ternate terus menjadi sebuah kota yang hidup. “Dalam 24 jam pasti selalu ada hal yang terjadi di Ternate!” seru Fadriah membuka pertemuan via internet antara Jawa dan Kepulauan Maluku ini. Lebih dari dua dekade, ia telah berkarya mengolah energi yang memancar dari Ternate dan pulau-pulau yang mengelilinginya, juga turut menjaga bara api kesenian bersama teman-temannya di area Maluku.
Fadriah di depan karya-karyanya yang banyak menyuarakan isu ekologis, perempuan, dan dinamika sosial di Ternate dan Indonesia Timur.
Teknisi komputer yang selalu gatal memegang kuas
Fadriah membangun awal karier berkaryanya di Ternate. Sebuah tempat yang cukup jarang diberi embel-embel kota seni bila dibandingkan kota-kota lain di Indonesia. Ketersediaan alat-alat gambar pun tidak begitu lengkap. Namun, ia bertemu celah sana-sini untuk terus mengembangkan laku berkesenian. Saat masih di sekolah dasar, ia ingat betul bahwa ketertarikannya akan menggambar sangat didukung oleh kepala sekolahnya. “Saya diajari menggunakan cat air dan selalu dipilih untuk lomba mewakili sekolah,” kenangnya. Dari sana goresan tangan Fadriah berlanjut, terus diolah. Bahkan ia menjadikan gambar sebagai bagian dari sarana bercerita sehari-hari dalam surat-menyurat bersama teman. “Surat-surat saya seringkali berbentuk komik,” tukasnya.
Walau begitu, pekerjaan pertamanya merupakan teknisi komputer. Pekerjaan tersebut menerapkan pengetahuan dari ijazah S1 jurusan teknik elektro yang ia dapat di Manado. Walau selama kuliah ia pun tetap menggambar. Dibantu teman-teman di jurusan elektro, ia membuat kanvas-kanvas sendiri dari kain polos tebal dan kerangka kayu buatan sendiri. Ia pun menggambar untuk beberapa pesanan teman. Salah satu momen titik balik karier seninya terjadi dari kabar seorang teman. Teman tersebut kebetulan bekerja di PBB. Ia mengabari bahwa istri atasannya sedang tinggal di Ternate. Sang istri adalah Grace Siregar, seniman multimedia berdarah Batak yang sekarang menetap di luar negeri.
Korespondensi Batak-Ternate
“Awalnya nekat saja main ke rumahnya, bertanya ‘apakah benar dengan Mbak Grace Siregar?’” kenangnya. Kala itu ia sekedar ingin berkenalan dan syukur-syukur bisa belajar dari beliau. Sampai sekarang masih berkesan, bagaimana Grace Siregar menyambutnya dengan agak galak, salah satunya dengan menolak sebutan “mbak”. Namun dari pertemuan tersebut terlahir sebuah penawaran barter. Fadriah membukakan pintu Ternate, mengantar Grace Siregar dan temannya berjalan-jalan. Sebagai imbalannya, Grace Siregar berjanji akan melihat dan membedah sketsa-sketsa Fadriah.
Salah satu pameran yang digelar Fadriah dan kawan-kawan seniman di Ternate.
Terbangun sebuah relasi unik dan kuat antara dua perempuan Batak dan Ternate. Fadriah dipersilakan membaca berbagai buku literasi seni yang dimiliki Grace. Ia juga dipantik untuk menggandeng teman-teman seniman Ternate lain untuk membuat pameran. Bersama-sama, mereka menggelar pameran bertajuk “Bicara Bahasaku” pada tahun 2004. Tema itu dipilih sebagai upaya untuk menghimpun memori kolektif dan harapan bersama setelah menghadapi tahun-tahun kerusuhan antarumat beragama di Maluku, sepanjang tahun 1999–2000. Ia menjadi salah satu pameran pertama pascakonflik agama tersebut, menjadikannya ajang bercerita tentang pengalaman kolektif menghadapi kerusuhan dari sudut pandang seniman.
Pameran tersebut merupakan pameran pertama bagi Fadriah dan teman-teman. “Kata Grace biar bareng-bareng, agar mempertajam visi sekalian. Kami juga langsung membuat paguyuban. Namanya Rumah Seni Sabua,” ujarnya. Ia mengenang, sekitar 4 tahun paguyuban tersebut bertahan setelah pameran perdana tersebut berlangsung. Hajat kawan-kawan seniman ini digelar secara sederhana, seadanya, di bangunan aula sebuah SMA. Seniman-seniman yang terkumpul di sana juga memiliki berbagai latar belakang yang unik. Membawa karya-karya seni rupa dan instalasi. Untuk menghimpun para pameris, Fadriah dan Grace melakukan riset “pencarian bakat” di sekitar Ternate melalui tembok-tembok kota. Mereka mencari mural-mural, lalu menelusur para pembuatnya. Saat dicari dan dihubungi, mereka merupakan “warga biasa” yang kebetulan bersuara melalui gambar. Salah satu dari mereka, misalnya, ditemui di bengkel; sehari-hari ia berprofesi sebagai montir.
Seni sebagai rempah hidangan kisah dan resah
Sejak pameran tersebut, Fadriah sendiri lanjut dengan perjalanan berkeseniannya. Pasang-surut, terkadang dengan paguyuban, terkadang juga sendiri. Untungnya, sejak awal ia juga cukup bebas, tidak ditentang orang tua untuk mengeksplorasi dunia tersebut. Karya-karya rupa dan ilustrasinya kerap membawanya ke pameran atau residensi di negara-negara lain. Ia juga membuat proyek-proyek kolaborasi dengan para seniman di sudut-sudut lain Indonesia. Hal tersebut malah membuatnya semakin terpanggil untuk mengolah apa yang ia temui sehari-hari di Ternate. Salah satunya relasi budaya Ternate sebagai tanah rempah.
Lebih luas, melalui karya-karyanya ia mengolah dan menitipkan keresahan serta cerita-ceritanya sebagai perempuan, juga cerita-cerita tentang tata kultur dan ekologi yang ada di Ternate. Ia bercerita, kebetulan saat ini teman-teman di Ternate–dan secara lebih luas, Maluku–juga sedang banyak mengolah masalah ekologis untuk merespons keberadaan tambang nikel.
Fadriah sedang menggarap salah satu lukisan untuk pameran tunggalnya pada 2020.
Ia tergelitik untuk melakukan riset-riset yang mendalam tentang tanah yang menjadi rumahnya. Pergi ke mana-mana, diapresiasi di ruang-ruang kesenian yang lebih luas malah membawa Fadriah untuk mengenal lebih dalam, ruang yang ia tinggali sebagai Ternate. Rempah–terutama cengkeh–yang menjadi salah satu identitas inti pulau tersebut, merupakan salah satu aspek yang sedang ia dalami. Dalam salah satu proyek jangka panjangnya ia merunut dan berkenalan dengan jaringan para petani dan pengepul cengkeh, serta bagaimana praktik pertanian mereka saat ini.
Memperjuangkan ruang!
Sembari mencecap potensi ruang-ruang yang menarik dalam dunia kesenian, jalan Fadriah banyak diisi laku-laku memperjuangkan ruang tersebut untuk seniman-seniman lain. Bersama teman-teman seniman ia memberikan inisiatif bagi Pemerintah Ternate untuk menghidupkan kembali sebuah bangunan gudang senjata menjadi sebuah galeri. Bangunan tersebut sudah lama menganggur semenjak tidak diisi senjata oleh Portugis. Bersama-sama, gudang di kompleks Benteng Oranje tersebut bertumbuh menjadi sebuah ruang fisik dan komunitas. Ruang tersebut dinamai Magazin Art Space–Magazin, dari kata magazine/magasin, yang berarti wadah peluru. Beberapa komunitas dan entitas seni dari sudut-sudut lain jadi memiliki tempat mampir untuk menggelar karya di Ternate, salah satunya Raws Syndicate dari Bandung.
Gudang senjata tersebut pertama kali dialihfungsikan sebagai galeri saat pandemi. Ketika itu Fadriah melakukan pameran tugas akhir untuk program S2 di ISI Surakarta. Karena bersambut dengan komunitas di Ternate, maka pengelolaan galeri di mantan gudang senjata tersebut berlanjut sampai sekarang. “Itu pun masih keras-kerasan. Waktu itu sempat ada pihak lain yang mau menggunakan benteng setelah kami beroperasi 2 bulan sebagai galeri. Untung berhasil eyel-eyelan,” ujar Fadriah. “Untuk menggelar pameran, kalau ada dana alhamdulilah, kalau gak ada dana kita urunan,” lanjutnya.
Juru kunci Benteng Oranje
Di tengah kalangan kawan-kawan di Ternate, Fadriah mendapat predikat baru sebagai juru kunci Gudang Senjata Benteng Oranje. “Siap setiap waktu jika akan ada perang,” seloroh Fadriah mengamini. Namun berkat gerilya bersama, tidak terbatas di Benteng Oranje, ia mengamati juga bahwa sekarang “medan pertempuran” mulai melebar. Tempat menggelar dan bertukar peluru-peluru kesenian mulai terbentuk di kantong-kantong publik lain di Ternate. “Sekarang sering juga pada pameran di kafe-kafe, tinggal nanti menyebar pamflet mengabari kalau akan ada pameran,” terangnya.
Bersama kawan-kawannya di ekosistem seni Ternate, ia aktif membuat program-program kegiatan kreatif dan dialog kebudayaan di Benteng Oranje.
Saat ditanya apakah ada harapan setelah ini, harapan-harapan tersebut diceritakan Fadriah sebagai hal-hal kecil yang sedang direncanakan dalam masa depan yang tidak terlalu jauh. Sembari terus mengolah ruang dalam karya-karya dan pamerannya, ia sedang mengumpulkan buku literasi seni untuk Magazin Art Space. “Bagi teman-teman yang punya koleksi dan berkenan mendonasikan, kami juga sangat terbuka,” ujarnya. Fadriah menekankan bahwa ia ingin mengajari ilmu kurasi untuk anak-anak muda. Sebuah hal yang menurutnya penting dipelajari untuk bercerita melalui medium kesenian apa pun, untuk memilih apa yang ingin diceritakan berikut cara-caranya.
Tak terasa, bara-bara hangat yang dibungkus nada antusias dalam cerita-cerita Fadriah telah menjaga obrolan kami berlangsung sangat lama. Durasinya sudah sepenontonan film India, sekitar 2 jam 20 menit. Anehnya, rasa bosan tidak meliputi. Ada saja yang bisa diceritakan, digali, dibagi. Mencerminkan secuil perjalanan Fadriah selama ini, mengolah ruang dalam langkah dan sikap yang terkadang keras, dan dalam wataknya yang berani ngeyel.
Ia dengan mantap mengolah seni beserta beragam turunan jalinan sosial di dalamnya, menjadi corong penyambung suara yang cukup beresonansi. Alat bantu untuk merambah Ternate dalam aspek-aspeknya sebagai ruang yang ia tinggali, juga ruang yang menyimpan banyak potensi. Seperti tanaman cengkeh, Fadriah menanamnya, lalu memanennya sebagai “rempah” yang nikmat dan berkhasiat bagi hidangan pesan-pesan penting yang ingin disampaikan.