L O A D I N G
Sorotan | Kegiatan Budaya

Menunggang Ombak di Sungai Kampar

04/06/20

Teks: Redaksi | Foto: Dari berbagai sumber
Setiap jelang purnama, di Sungai Kampar, Riau terdengar suara ombak dahsyat. Menggelegar macam hantaman tsunami. Tentu bukan tsunami betulan, melainkan fenomena alam yang terjadi akibat medan gravitasi bulan. Masyarakat menyebutnya bono. Kini mereka merayakan fenomena alam yang unik itu lewat Festival Bekudo Bono.

Festival Bekudo Bono atau Bono Surfing adalah ajang lomba selancar di Sungai Kampar di Riau. Lomba ini digelar setiap tahun, biasanya pada bulan November, saat bulan purnama menjelang. Saat lomba berlangsung, suara ombak dahsyat macam tsunami kerap terdengar. Tentu bukan tsunami betulan, melainkan akibat fenomena alam yang terjadi karena medan gravitasi bulan.

Gravitasi bulan purnama serta bulan baru meningkatkan permukaan laut Selat Malaka dan Laut Cina Selatan. Melahirkan gelombang pasang raksasa yang menyapu masuk ke aliran Sungai Kampar. Gelombang ini akan bertahan menyusuri tiga kabupaten di Provinsi Riau sejauh 60 km dan melintasi setidaknya 47 desa. Saat sisi depan gelombang masuk ke muara sungai yang meyempit dan bertemu perairan dangkal Sungai Kampar, maka terciptalah ombak setinggi 2-6 meter yang akan melaju ke hilir sungai selama dua jam lamanya. Fenomena gelombang pasang ini disebut masyarakat lokal sebagai bono.

Dulu masyarakat Riau percaya gelombang bono terdiri dari bono jantan dan betina. Bono di Sungai Kampar diyakini sebagai si jantan, sementara si betina berada di daerah Sungai Rokan, dekat dengan kota Bagansiapi-api. Konon, bono yang datang dari muara Sungai Kampar berjumlah tujuh ekor dan bentuknya serupa kuda yang biasa disebut sebagai induk bono. Pada musimnya pasang, bono ini akan pergi ke Sungai Rokan untuk menemui betinanya dan kemudian mengalir santai menuju Selat Malaka.

Menurut legenda Melayu Kuno berjudul "Sentadu Gunung Laut", setiap pendekar di tanah Melayu harus dapat menaklukkan gelombang bono untuk meningkatkan keahlian bertarung mereka. Unsur ketahanan dan ketangkasan fisik berpadu dengan perkara mistis dalam legenda ini. Oleh karena itu, dulu tak sembarang orang bisa mengendarai bono. Ada ritual yang harus digelar, yaitu upacara "semaha". Upacara ini dilakukan pada pagi atau siang hari dengan dipimpin datuk atau tetua kampung. Maksudnya adalah sebagai permohonan keselamatan bagi pengendara bono dan supaya mereka dijauhkan dari marabahaya.

Kini, gelombang bono telah dikenal dunia dan menjadi tuan rumah dari lomba selancar yang tak biasa dalam Festival Bekudo Bono. Kegiatan menaklukkan gelombang raksasa ini terangkum dalam Festival Bekudo Bono. Ada dua kategori yang dipertandingkan, lokal dan profesional. Pada kategori lokal para peselancar akan beradu tangkas menaklukkan gelombang raksasa di Teluk Rimba Putus yang terpisah 30 km dari Sungai Kampar. Sementara untuk kategori profesional, peselancar akan mulai bertanding di Tanjung Belia mulai sekitar 10.30 waktu setempat.

Pada perhelatan Festival Bekudo Bono 2019 juga diselenggarakan festival musik jaz yang turut mengundang musisi internasional. Semua ini bisa Anda nikmati dengan menempuh menempuh perjalanan darat selama 5 jam dari Kota Pekanbaru menuju Sungai Kampar. 

 
Redaksi

Tim redaksi spektakel.id
instagram.com/spektakel.id/

#Sungai Kampar #Bekudo Bono

Mari bergabung bersama kami, berkontribusi memajukan seni budaya Indonesia.

Klik di sini untuk mendaftar / login

Editor: Redaksi
Baca juga:
Lutfi Dan Batik Tengger Tentang Rumah, Rasa, dan Kegelisahan Imigran Saat Lockdown Darman, Pengrajin Wayang VS Pandemi Menelisik Nilai Seni Budaya