L O A D I N G
Sorotan | Komunitas

Sanggar Kuda Lumping Fajar Muda: “Bertahan Belanin Seneng”

25/04/21

Teks: Shuliya Ratanavara | Foto: Redaksi
Di ujung selatan Sukabumi, ada satu kampung tempat permukiman orang Kebumen yang “nyasar”. Bersama mereka, dibawa juga berbagai ragam kesenian asal kampung halaman. Tak ada yang rumit dari alasan mereka berkesenian: semata untuk hiburan dan hobi, lantas menurun sampai berpuluh tahun setelahnya.

Badannya boleh saja mungil, awaknya boleh saja renta, tapi geraknya tetap mantap. Sejak kami tiba, Mbah Sakarta (90), tuan rumah sekaligus salah satu kasepuhan Sanggar Kuda Lumping Fajar Muda tidak bisa diam. Ia sibuk mencari rekan-rekan sejawatnya yang masih sibuk nyawah. Saat musim panen, memang sulit mengumpulkan rekan-rekannya yang kebanyakan petani dan peternak itu.

Sebentar-sebentar dia menengok ke luar. Melihat apakah rekan-rekannya yang ditunggu sudah datang. Sambil menunggu, akhirnya ia putuskan mampir ke warung sebentar. Ia membeli rentengan kopi dan kue-kue untuk disuguhkan kepada kami. Tak berapa lama, barulah rekan-rekannya datang. Mereka adalah Mbah Karyanom (84) dan Pak Lamijan (61). Yang belakangan disebut ini adalah ketua Sanggar Kuda Lumping Fajar Muda saat ini. 

Kami datang masih dalam rangkaian Cecap Ciracap. Ini adalah satu dari tiga sanggar di bawah naungan Paguyuban Seni Budaya Anak Ciracap Sukabumi (Pasebanrasi). Secara notariat sanggar ini dibentuk pada 2012 silam saat Pak Lamijan hendak meminta bantuan dana untuk pengadaan keperluan sanggar. “Waktu itu ditanya, ‘Apa sudah ada sanggarnya?’ Jadi kita buat,” katanya sembari menyeduh kopi susu instan di ruang tengah Mbah Sakarta. 

Kiri ke kanan: Bapak Lamijan, Ketua Sanggar Kuda Lumping Fajar Muda; Mbah Sakarta, Mantan Ketua Sanggar Kuda Lumping Fajar Muda sekaligus ayah dari Pak Lamijan; Mbah Karyanom, sesepuh Sanggar Kuda Lumping Fajar Muda.

Maka dibangunlah sanggar sederhana, terbuat dari bambu dan kayu hasil gotong royong warga sekitar. Letaknya tepat di sebelah rumah Mbah Sakarta, ketua sanggar sebelumnya. Bangunan sanggar utamanya digunakan sebagai tempat penyimpanan alat pertunjukan. Sementara kegiatan latihan digelar di pelataran sanggar. 

Sebelum ada bangunan sanggar, kedua fungsi tersebut menempel pada kediaman ketua yang sedang menjabat. Itu mengapa di ruang tengah Mbah Sakarta pun kini masih ada kendang yang dititipkan di antara karung-karung pupuk, gantungan ikan asin, sayur, dan hasil olahan tempe yang akan dijual.

Baca juga: Konon Katanya Seni Budaya itu Penting

Sejarah sanggar ini memang sudah bergulir sejak berpuluh tahun lampau di Kampung Waluran, Ciracap, Ujung Genteng. Setidaknya, ketika Mbah Karyanom mulai bermukim di sana pada pertengahan 1960-an, kelompok seni tradisi ini sudah ada dan berjalan. Bedanya, dulu kelompok seni mereka juga mempertunjukkan kesenian-kesenian khas Jawa Tengah lainnya—Ludruk, Wayang Wong, dan Wayang Kulit.

Bangunan Sanggar Kuda Lumping Fajar Muda. Pertama kali didirikan pada 2012 secara gotong royong sebagai syarat pengajuan bantuan pendanaan ke dinas pemerintahan.

Mereka adalah orang-orang Kebumen yang “nyasar” di ujung selatan Sukabumi. Musababnya, leluhur mereka dibohongi VOC. Janjinya diboyong ke Borneo, ndilalah malah diturunkan di Ujung Genteng. Di sana, mereka lantas beranak pinak. Kemudian hari, banyak pula sanak saudara serta keturunannya yang menyusul merantau ke Kampung Waluran. 

Begitulah yang terjadi dengan Mbah Karyanom. Sebelum merantau ke Kampung Waluran, bekas penari Cakil ini sempat menjajal kehidupan di Jakarta. “Saya pernah bekerja sebagai tukang bangunan untuk proyek terminal bus kota di dekat Lapangan Banteng,” ujarnya. Saat itu sekitar tahun 1966 dan ekonomi sedang sulit-sulitnya. Maka beliau memutuskan merantau ke kampung ini. Di kampung ini setidaknya ia bisa bertani atau bekerja di kebun kelapa sawit. Kebetulan sudah ada kerabatnya yang lebih dulu bertani di sini.

Baca juga: Sanggar Pencak Silat Garuda Mas: Berbagi dan Beribadah

Selain berjibaku di lahan, tidak banyak yang bisa dilakukan masyarakat di Kampung Waluran. Waktu yang lowong membuat mereka kemudian mencari-cari berbagai kegiatan pengisi waktu. Berkesenian salah satunya, judi kartu salah duanya. “Dulu kan orang dari perkebunan Belanda itu dikasih uang [dipakai] untuk judi,” kata Mbah Karyanom.

Mbah Karyanom (kiri) menceritakan perjalanan hidupnya hingga sampai di Kampung Waluran, Kec. Ciracap, Sukabumi. Bersamanya, Pak Lamijan (kanan) menuturkan sejarah keberadaan Sanggar Fajar Muda dan lika-liku yang dihadapi mereka kini.

Dolanan, tapi Aja Nggo Dolanan

Tidak ada yang rumit dari awal mula kegiatan berkesenian masyarakat Kampung Waluran. Buat mereka hal itu dilakukan untuk bersenang-senang. Sampai pada tahun 1970, kegiatan dilakukan dengan lebih formal oleh Mbah Jowi. Dialah perintis sanggar seni cikal bakal Sanggar Kuda Lumping Fajar Muda. 

Dari sekian banyak kegiatan seni yang ditekuni sanggar pimpinan Mbah Jowi, hanya Kuda Lumping yang bertahan hingga tujuh generasi setelahnya. Pak Lamijan punya dugaan, penggunaan bahasa Jawa jadi alasannya. “Kalau Kuda Lumping kan hanya nari. Jadi orang dari mana saja bisa masuk,” lanjutnya. 

Baca juga: Putu Pancanaka: Pengrawit Cilik Kebanggaan Pasirpanjang

Tak bisa dimungkiri, Kuda Lumping memang memenuhi tiga syarat menjadi pertunjukan hajatan yang populer bagi masyarakat kecamatan daerah: murah, joged, dan klenik. Pamornya bahkan bisa bersaing dengan dangdut, yang biarpun juga punya tiga syarat tersebut, kerap menimbulkan keributan. 

Bentangan sawah mengiringi perjalanan dari Kampung Budaya Cikawung menuju Kampung Waluran. Seiring itu pula perlahan-lahan udara perbukitan berganti udara pesisir.

Pamor pertunjukan Kuda Lumping yang masih terus tinggi membuat para muda-mudi juga tertarik mengikuti kegiatan sanggar. Seperti para senior mereka, yang mereka cari adalah kesenangan. “Kalau dihitung buat ekonomi enggak akan ketemu, sama sekali enggak ketemu. Hanya belanin senang saja, hahaha,” ujar Pak Lamijan. “Tetap saja yang profesinya tani, ya tani. Ternak, ya ternak. Dagang, ya dagang. Ini belanin seneng, Mas. Kita kerjaan juga ditinggal.”

Pernah sekali waktu, karena jadwal hajat sedang padat, Pak Lamijan sampai meninggalkan tahu jualannya selama dua hari. Atau memakai uang belanja kedelai untuk membeli pakaian Bendrong. Semua itu untuk memuaskan kesenangannya. Kesenangan yang juga datang dengan tanggung jawab agar apa yang dilakukannya terus lestari. Baik itu terhadap para anggotanya. Pun terhadap tuan rumah hajatan yang memanggil mereka.

Baca juga: Perjalanan Interstellar Gamelan Jawa dan Penari Bali

Sebagai ketua sanggar, Pak Lamijan tentu sering menjadi tempat para anggota mengadu saat mereka sedang kekurangan ini dan itu. Terhadap tuan rumah, ia bertanggung jawab untuk menjadi contoh disiplin para anggota. “Kalau pas hajat, [kita] ngikutin [anggota] terus jam 12 belum mulai kan malu. Di sini kalau manggung itu jam 10 harus sudah bunyi. Pemanasan,” jelasnya. 

Bangunan sanggar punya fungsi utama sebagai tempat penyimpanan berbagai perlengkapan sanggar. Jejeran kuda lumping, topeng ebegan, dan gamelan semua disimpan di bangunan beratap asbes, berdinding anyaman bambu ini. 

Soal disiplin ini Pak Lamijan memang tak bisa ditawar-tawar. Disiplin, jujur, dan pantang menyerah. Tiga hal itu yang ia pegang dalam mengelola sanggar pimpinannya. Ketiganya adalah bentuk komitmen yang ia buat dan tanamkan kepada rombongannya. “Saya bilang sama rombongan. Kalau sudah senang, jangan dibuat mainan. Harus tanggung jawab,” kata ia mantap. “Mesti diladeni, dilakoni, ditelateni. Biar terus langgeng,” katanya disambut anggukan mantap Mbah Karyanom dan Mbah Sakarta.

KTP Warisan

Keberlangsungan sanggar dan segala kegiatannya sangat penting bagi ketiganya. Lebih dari sekadar kesenangan, ini merupakan identitas mereka. Mbah Sakarta, Mbah Karyanom, dan Pak Lamijan sepakat, kampung mereka akan terasa sepi tanpa tabuhan gendang dan lantunan langgam kuda lumping.

Kutipan kata-kata mereka semata membuatnya terkesan sederhana. Berbeda dengan binar mata dan air muka mereka. Keduanya menunjukkan sesuatu yang lebih dalam. Bukan hanya kampung yang akan sepi, tapi jiwa mereka pun. Ekspresi mereka itu memberi kami gambaran apa yang menggerakkan Mbah Sakarta dan Mbah Karyanom untuk masih menyisihkan waktu dan tenaganya untuk terus terlibat dalam kegiatan-kegiatan sanggar. Terutama dalam hal-hal yang bersifat ritual.

Rumah Mbah Sakarta yang terletak persis di samping bangunan sanggar juga masih dititipkan sebagian peralatan sanggar. 

Entah itu membersihkan gamelan dan benda-benda pusaka lain, hingga menempuh perjalanan ke Bukit Condong di Kebumen setiap tahun jelang malam Satu Sura untuk petilasan ke Makam Senopati Trunojoyo. Perjalanan itu mereka tempuh sekira tiga hari menggunakan mobil pinjaman. Waktu keberangkatan diatur sedemikian rupa hingga mereka tiba di puncak bukit untuk berdoa pada Jumat malam. Keesokan harinya, mereka sudah menempuh perjalanan pulang ke Kampung Waluran untuk menggelar perayaan Suranan. 

Baca juga: Wayang Orang Padepokan Tjipta Boedaja, Sepenggal Doa dari Tutup Ngisor

Jangan tanya dari mana modalnya. Peser demi peser honor mereka mengisi hajatan yang tak pernah seberapa itu selalu disisihkan untuk membiayai gelaran tahunan mereka. Lebih dari tradisi, ritual ini menjadi pegangan identitas mereka. Begitu pula dengan segala kegiatan di sanggar. Itulah pengingat akan asal mereka. KTP yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Topeng karakter perempuan nan sakral, pusaka milik Sanggar Kuda Lumping Fajar Muda. Topeng ini disimpan di rumah Mbah Sakarta. Topeng ini tidak memiliki nama karakter dan tidak digunakan untuk pertunjukan, tetapi ikut dibersihkan bersama pusaka-pusaka sanggar lainnya. 

Dari tutur mereka, bukan panggung-panggung besar yang diimpikan. Untuk itu, sang ketua sanggar pun masih ragu. “Saya sendiri masih minder. Dari tarian misalnya kalau dibandingkan dengan kesenian Jawa lain masih belum halus,” ujar Pak Lamijan. Kesadarannya akan pentingnya keterampilan dan kesempurnaan teknis sebagai seniman tradisional membuat ia lebih jejak saat menakar kemampuan sanggar binaannya.

Itu mengapa yang mereka inginkan tidak muluk-muluk. Asalkan tabuhan gendang masih terdengar rancak, dan pertunjukan mereka masih ditunggu-tunggu di tiap hajatan. Syukur-syukur sanggar mereka bisa dipugar jadi lebih layak. Agar kegiatan latihan bisa berjalan lebih lancar. 

“Kalau untuk saya, kesenian Fajar Muda harus tetap hidup selamanya. Jangan sampai putus. Biarpun kasepuhan [tetua - red] enggak ada, harus ada penerus setelahnya. Diuri-uri, dilestarikan, untuk meneruskan nenek moyang,” tutup Mbah Karyanom lugas disambut amin Mbah Sakarta.

 

Artikel ini adalah salah satu bagian dari seri liputan #JelajahCiracap Tim Spektakel. Baca bagian seri lainnya di sini.
Shuliya Ratanavara

Menulis dan memotret dengan tustel.
instagram.com/ratanavara_/

#Ciracap #Kuda Lumping #Waluran

Mari bergabung bersama kami, berkontribusi memajukan seni budaya Indonesia.

Klik di sini untuk mendaftar / login

Editor: Dimas Jayasrana
Baca juga:
Menikmati Alunan Jazz di Kaki Gunung Bromo Wayang Orang Padepokan Tjipta Boedaja, Sepenggal Doa dari Tutup Ngisor Perjalanan Interstellar Gamelan Jawa dan Penari Bali Ayunan Jodoh Kabuenga