L O A D I N G
Sorotan | Komunitas

Putu Pancanaka: Pengrawit Cilik Kebanggaan Pasirpanjang

25/04/21

Teks: Shuliya Ratanavara | Foto: Redaksi
Harimau mati meninggalkan belang. Gajah mati meninggalkan gading. Tapi bagi dalang Ekaryadinata Cakrasuwangsa, manusia mati tidak hanya meninggalkan nama. Melainkan juga warisan yang sepatutnya jadi kebanggaan. Warisan itu kini tengah ia siapkan, dengan memupuk talenta-talenta muda di Desa Pasirpanjang, Kecamatan Ciracap, Sukabumi Selatan.

Belum kami tiba di pelataran rumah Abah Ekaryadinata Cakrasuwangsa, rancak tabuhan gamelan sudah menyapa. Menuntun kami hingga berjumpa sumber suara; kelompok pengrawit yang seluruhnya terdiri dari anak-anak belia. Mereka adalah Putu Pancanaka, kelompok pengrawit cilik dari Sanggar Wayang Golek Pancanaka di bawah naungan Paguyuban Seni Budaya Anak Ciracap Sukabumi (Pasebanrasi.)

Hampir setiap malam mereka berlatih di pelataran rumah yang juga merangkap sanggar sederhana. Setiap kali pula, Abah Eka, dalang sekaligus pimpinan sanggar mendampingi. Tak terkecuali malam itu. Dengan berbalut baju koko putih dan bebat ikat batik di kepala, Abah Eka duduk mengawasi permainan anak didiknya dengan seksama.

Sekitar 45 menit Putu Pancanaka memainkan ranting-ranting lagu. Semakin lama, iramanya semakin rancak, membuat yang mendengar ingin ikut bergoyang. Sepanjang itu pula mata Abah Eka tidak lepas dari para pengrawit ciliknya. Setiap ketukan tak ada yang luput dari perhatiannya. Di puncaknya, penampilan para pengrawit cilik kita juga dilengkapi pentas jaipongan oleh penari-penari sepantaran mereka.

Pelataran rumah Ekaryadinata Cakrasuwangsa merangkap sanggar tempat kelompok wayang goleknya berlatih. Termasuk pula Putu Pancanaka, kelompok pengrawit cilik yang dibinanya selama dua tahun terakhir.

Sudah dua tahun lebih kelompok pengrawit ini berlatih di bawah binaan Abah Eka, dalang senior di Desa Pasirpanjang, Kecamatan Ciracap, Sukabumi Selatan. Nama Putu Pancanaka dipilih mengikuti nama grup Wayang Golek pimpinan sang dalang sejak berpuluh tahun lalu. ‘Putu’ dalam bahasa Sunda berarti ‘cucu’. Secara harfiah, Putu Pancanaka berarti cucu dari Pancanaka alias penerus dari kelompok Wayang Golek ini.

Kelompok ini muncul di saat jumlah pengrawit wayang terus menurun. Sementara mereka yang menekuni kesenian ini semakin hari semakin menua. Termasuk juga Abah Eka sebagai pimpinan kelompok wayang. Sebab itulah yang membuat dia merasa harus mulai mencari penerusnya. “Jadi ketika saya berpulang ke rumah Tuhan itu sudah ada generasi baru. [Karena] sehebat apapun saya, tidak akan ada apa-apanya [kalau tidak diteruskan],” kata Abah Eka selepas pertunjukan anak-anak di malam kunjungan kami.

Baca juga: Sanggar Kuda Lumping Fajar Muda: "Bertahan Belanin Seneng"

Usahanya dimulai dengan mengalihfungsikan pelataran rumahnya menjadi tempat latihan sederhana. Tabungannya hasil mendalang selama puluhan tahun ia jebol untuk membeli satu set gamelan besi dan Wayang Golek kayu. Setelah itu, ia bersama Pasebanrasi mengajak anak-anak di desa-desa sekitar untuk ikut berlatih karawitan Wayang Golek. Keramaian di pelataran rumah Abah Eka lantas menarik perhatian anak-anak di Desa Pasirpanjang sendiri. Satu per satu dari mereka lantas ikut bergabung dan ikut berlatih.

Abah Ekaryadinata Cakrasuwangsa, dalang senior sekaligus pimpinan kelompok Wayang Golek Pancanaka. Selama dua tahun terakhir ia membina generasi baru pengrawit wayang di Desa Pasirpanjang bersama Pasebanrasi.

Dua minggu latihan, anak-anak asli Desa Pasirpanjang sudah mahir memainkan 3-4 tangkai lagu. Sementara anak-anak dari desa sekitar masih kesulitan. Itu jadi semacam penanda untuk anak-anak maupun Abah Eka bahwa memang kesenian tersebut sudah mengalir di darah mereka, anak-anak Pasirpanjang. Setelah dinilai layak tampil, sekelompok pengrawit ini kemudian tampil di Kantor Desa pada 2019 silam. Itulah pentas perdana Putu Pancanaka.

Dari sekadar latihan di pelataran rumah, anak-anak ini kemudian tampil di hadapan publik di Kantor Desa. Antara senang bercampur tegang mereka rasakan di saat-saat jelang pentas perdana. Kesan itu mereka ringkas dalam satu ekspresi sederhana, “Degdegan.” 

Baca juga: Sanggar Pencak Silat Garuda Mas: Berbagi dan Beribadah

Dua tahun kemudian, kelompok Putu Pancanaka sudah pentas di beberapa panggung. Baik hajatan-hajatan di sekitar desa, hingga yang terjauh tampil di Banten. Para pengrawit cilik ini bahkan sudah tampil di Pendopo Bupati Sukabumi. Bagaimana sang guru tidak bangga. Biarpun tidak selalu hal itu ia perlihatkan ke anak-anak binaannya. 

Duo penabuh kendang cilik kelompok pengrawit Pancanaka. Keduanya bahkan sudah sering pula ikut Abah Eka tampil mendalang dan mementaskan satu pertunjukan penuh semalam suntuk.

“Kadang-kadang anak-anak suka ngambek ke saya karena saya tidak memuji, tidak bilang bagus. Padahal saya juga bangga. Mereka bagus mainnya. Saya mah belajar bertahun-tahun. Sementara anak-anak ini belajar baru dua tahun sudah tampil di mana-mana,” kata Abah Eka tulus. Matanya kembali berbinar, menambah keteduhan di wajahnya yang memang selalu kalem. Kebanggaannya bertambah lagi ketika mengingat bahwa anak-anak ini berproses dengan segala keterbatasan dan kesederhanaan sanggar.

Mewariskan Hidup, Menghidupi Warisan

Abah Eka memang bukan orang yang ekspresif. Malah cenderung pendiam. Lain halnya saat ia tengah memegang wayang. Kata-kata dan cerita akan mengalir begitu ia menyatu dengan wayang yang diperankan. Baginya wayang lebih jujur dibandingkan manusia. “Sejahat apapun Rahwana, ia [benar] tidak pernah menyentuh Shinta,” begitu analogi Abah Eka. 

Pemahaman tersebut tumbuh dari pengalamannya mendalang sedari belia. Perjalanannya belajar mendalang dimulai sejak sekolah dasar. Ia melihat dan mendengar bahwa dalang adalah juga penceramah. Bahwa tugas dalang selain menghibur juga menjadi pengajar serta penerang. Hal yang tidak bisa dilakukan tanpa kejujuran.

Selain kelompok pengrawit Wayang Golek, sanggar ini juga turut melatih para penari jaipongan cilik. Gerakan mereka begitu rancak membuat penonton ingin ikut bergoyang.

Pemahaman tersebut menggerakannya untuk mendalami ilmu pewayangan. Khususnya sebagai dalang. Itu mengapa bagi Abah Eka, kegiatan pewayangan dan menjadi dalang adalah hal yang tak bisa lepas dari dirinya. Ini adalah hal yang tidak saja menghidupinya, tetapi juga telah ia hidupi sepanjang umurnya. 

Maka tidak heran, ketika tiba saatnya ia akan berpulang ke haribaan-Nya, ia ingin sanggar Wayang Golek yang ia rintis selama berpuluh tahun ini terus berlanjut. Ibaratnya, selama tabuhan rancak para pengrawit masih bergaung di Desa Pasirpanjang, maka selama itu pula Abah Eka tetap hidup. 

Baca juga: Konon Katanya Seni Budaya itu Penting

Di luar itu, urusan keberlanjutan Wayang Golek di Pasirpanjang bukan hanya soal kedirian Abah Eka. Melainkan juga soal menghidupi warisan identitas leluhur. Sejarah Wayang Golek di Pasirpanjang bisa dirunut hingga ke Ki Ujang Mungkar, dalang yang turut bergerilya bersama kelompok pengrawitnya dan mementaskan Wayang Golek di tengah hutan demi menghibur Pasukan Bambu Runcing. “Mengingat itu, maka saya ingin di alam merdeka ini ada yang meneruskan,” ujar Abah Eka.

Obrolan bersama anak-anak tentang suguhan impian mereka jika suatu hari tampil di hadapan publik yang lebih luas. Keripik kentang, eskrim, dan biskuit cukup untuk membuat mereka bersemangat membayangkan kegiatan pentas yang seringnya bikin tunduh.

Itu mengapa ia begitu leukeun memupuk angan anak-anak pengrawit ciliknya. Salah satunya dengan terus memoles teknik permainan mereka. Salah duanya dengan mencari peluang-peluang untuk membawa mereka tampil di khalayak yang lebih luas. “Kata anak-anak kalau di sini-sini saja mereka jenuh. Jadi harapan anak-anak sih, sudah belajar begini mereka ingin tampil lebih jauh,” kata Abah Eka.

Misi yang terakhir disebut merupakan pekerjaan rumah yang cukup besar. Apalagi di tengah situasi pandemi, saat kegiatan-kegiatan fisik dibatasi, sementara akses mereka membuat kegiatan virtual pun amat terbatas dari segala aspek. Pekerjaan rumah yang besar, tapi bukannya mustahil. Selama mereka terus bergerak, selama itu pula mereka akan terus tumbuh. Sebagaimana yang mereka lakukan bertahun-tahun selama ini. 

 

Artikel ini adalah salah satu bagian dari seri liputan #JelajahCiracap Tim Spektakel. Baca bagian seri lainnya di sini.
 
Shuliya Ratanavara

Menulis dan memotret dengan tustel.
instagram.com/ratanavara_/

#Ciracap #Wayang Golek #Pasirpanjang

Mari bergabung bersama kami, berkontribusi memajukan seni budaya Indonesia.

Klik di sini untuk mendaftar / login

Editor: Dimas Jayasrana
Baca juga:
Jelajah Surga Togean Arcida Gentayangan Prasmanan Musik di Synchronize Fest Dataran Tinggi Lore: Saya Lihat, Terpikat, Lalu Terjerat! (Bagian II)