L O A D I N G
Sorotan | Kegiatan Budaya

Wayang Serangga dan Pesan Menjaga Alam

12/04/21

Teks: Angga Haksoro Ardhi | Foto: Angga Haksoro Ardhi
Di desa-desa, doa adalah soal niat. Bahkan lewat bait-bait syair, langgam, atau cerita turut mengalir harap dan doa masyarakat memohon kesehatan, keselamatan, dan kemaslahatan. Pun pesan kepada sesama mereka untuk saling menjaga alam yang menjadi penghidupannya.

Matahari merangkak tinggi saat rombongan dalang, Sih Agung Prasetyo bergerak menuju blok sawah Segenggong, di Dusun Sudimoro, Desa Baleagung, Kecamatan Grabag, Magelang. Bertelanjang kaki, para wiyaga tampak cekatan menuruni pematang sawah meski sambil memanggul perangkat gamelan. Lokasi pementasan wayang hari ini tak seperti biasanya, digelar di tengah sawah dengan akses jalan ekstrem.

Sisa hujan tadi malam membuat tanah jemek (lembek) dan lunyu (licin). Menapaki pematang menuju lokasi yang hanya sekitar 200 meter dari bibir jalan kampung itu, jadi terasa cukup melelahkan.

Blok Segenggong berada di cekungan luas yang menjadi ceruk penampung aliran air dari sekitarnya. Tak aneh jika di area sawah ini selalu basah meski musim kemarau panjang sekalipun. Akibatnya sebagian besar petak sawah di blok Segenggong berupa embel lumpur hisap. Kedalaman lumpur bervariasi dari setinggi dada orang dewasa, seleher, atau bahkan lebih dalam lagi.   

Dalang Sih Agung Prasetyo menggelar pementasan wayang serangga di tengah sawah di Desa Baleagung, Grabag, Magelang. Tanpa penonton, pertunjukan "Donga Seko Sawah" ini merupakan perantara doa para petani di sekitar wilayah tersebut.

Belakangan petani di desa ini mengeluh sawahnya diserang hama tikus. Tanpa predator, tikus berada di puncak rantai makanan sehingga populasinya berlebih. Jumlah burung hantu dan ular di sawah berkurang drastis akibat diburu. Tanpa musuh alami, tikus berkembang biak tak terkendali hingga rakus menggasak lahan pertanian.   

“Mereka minta bagaimana kalau kita menggelar doa agar hama di sawah bisa dikendalikan,” kata Sih Agung Prasetyo saat dijumpai di rumahnya di Dusun Sudimoro, Desa Baleagung, awal Februari lalu.  

Sih Agung mengusulkan ritual doa dikemas dalam pertunjukan sederhana wayang. Karakter dan ceritanya diambil dari tema wayang serangga yang cocok dengan pesan menjaga lingkungan. Warga sepakat. Pertunjukan wayang serangga disepakati digelar di salah satu petak sawah habis panen di blok Segenggong. 

Pementasan wayang digelar sederhana tanpa penonton. Sih Agung hanya mengajak lima orang penabuh gender, bende, dan peniup suling anggota grup karawitan Sumanggem.

“Wayang serangga merepresentasikan ekosistem pertanian. Kami mengambil tokoh wayang serangga agar narasi yang dibangun lebih mudah.”

Lanskap sawah di Desa Baleagung. Umumnya areal sawah di Kecamatan Grabag, Bandongan, Windusari, dan Kaliangkrik, berada di areal berbukti-bukit dengan ketinggian berbeda-beda.

Pemahaman kebanyakan orang soal serangga identik dengan hama. Padahal hanya sekitar satu persen dari keseluruhan jenis serangga yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Seperti lalat tsetse pembawa penyakit tidur di Afrika serta pinjal atau kutu busuk yang diyakini sebagai pembawa bibit tifus dan pes.

Jumlah serangga perusak tanaman lebih banyak. Tapi daya rusaknya menjadi tak terkendali sebab campur tangan manusia. Daya rusak serangga pada tanaman di tanah asal, biasanya berskala sangat kecil. Lalat Hessien yang melumat ladang gandum di Amerika sekitar tahun 1836 didatangkan secara tidak sengaja dari tanah Eropa.

Mereka “diangkut” dari Asia, kemudian menjelajah Eropa, hingga mendarat di Amerika Utara. Telur lalat menyelundup di sela serat selimut pasukan Hessian selama Revolusi Amerika tahun 1775-1783.

Baca juga: Wayang Orang Padepokan Tjipta Boedaja, Sepenggal Doa dari Tutup Ngisor

Larva lalat Hessien memakan getah batang gandum yang melemahkan tanaman, sehingga gabuk tidak menghasilkan biji-bijian. Invasi lalat Hessien di Amerika tahun 1836 menyebabkan gagal panen gandum meluas yang memperparah krisis ekonomi setahun setelahnya.  

Hal serupa juga terjadi dalam kasus serangan masif kumbang Jepang, ngengat gipsi, lalat buah Mediterania, dan rama-rama ekor coklat di perkebunan buah di Amerika Serikat. Di tanah kelahirannya, serangga-serangga ini memiliki pemangsa alami yang tidak ditemui di tanah rantau.

Sistem Pertanian yang Pincang

Sujono pencipta wayang serangga menjelaskan, banyak petani sekarang yang tidak memahami siklus hidup tanaman dan hewan pada ekosistem sawah. Mereka gebyah uyah-pukul rata- bahwa semua jenis serangga merugikan.

“Petani tidak memahami semua itu ada rantai makanannya. Ada simbiosis mutalisme. Serangga langsung dianggap musuh. Jadi semua dibasmi. Padahal di daerah itu saya yakin ada serangga penyeimbang yang menguntungkan.”

Petani sedang memanen. Dalam beberapa kasus, ada ketimpangan pemahaman tentang pestisida dan serangga oleh petani. Bahwa seluruh serangga mesti diberantas semua, tanpa melihat keseimbangan ekosistem sawah yang lebih luas.

Lahir, besar, dan tinggal di lingkungan persawahan, Sujono khatam seluk beluk pertanian. Dia paham betul bagaimana segala produk kimia pemacu hasil panen, mencekik petani pelan-pelan.

Petani ketergantungan pada produk pabrik—begitu Sujono mengistilahkan pupuk kimia dan obat pembasmi serangga—yang diyakini sebagai kunci keberhasilan panen. Sehingga petani kebacut tidak pede jika tidak menghadirkan segala macam obat dan pupuk pada awal masa tanam. Selesai panen, petani biasanya mengistirahatkan lahan. Setelahnya tanah dibajak dan ditebar pupuk urea untuk persiapan tanam.

Sedikitnya tiga sampai empat kali sawah dicekoki pupuk selama satu kali masa tanam. Itu belum termasuk penyemprotan obat kimia untuk membasmi serangga atau tanaman pengganggu.  

Lukisan Sujono, pembuat wayang serangga, menampilkan salah satu karakter ciptaannya.

“Saya membuat wayang, topeng, atau tarian bertema serangga itu bentuk keprihatinan. Petani menanam selalu pakai pestisida. Sudah ketergantungan. Kalau tidak pakai pestisida merasa tidak akan sukses bercocok tanam,” kata Sujono.

Padahal modal untuk membeli pupuk dan obat kimia pembasmi hama tidak murah. Tidak cucuk (seimbang) dengan harga jual hasil tani yang kepastian harganya hanya Tuhan dan tengkulak yang tahu.  

“Sekarang produksi yang dibuat pabrik, terus naik harganya. Tidak ada cerita harga pupuk dan pestisida turun. Tapi [harga] hasil, petani hanya ngikut. Tidak bisa menentukan. Itu kalau dari cara bermain kan selalu kalah. Petani selalu kalah.”

Baca juga: Kesahajaan Tutup Ngisor di Hadapan Corona dan Erupsi Gunung Merapi

Belum lagi jika ada kebijakan impor produk pertanian. “Ada impor hasil pertanian, ya sudah musnah. Kondisi petani kan seperti itu,” ujar Sujono.

Di sisi lain, mendorong petani beralih ke pertanian organik bukan perkara gampang. Pola pikir dan tuntutan hidup petani telanjur berorientasi mengejar jumlah panen, bukan kualitas.

“Pakai pestisida hasilnya misal 5 kilogram, dengan organik hasilnya turun jadi 2 kilogram. Petani kaget. Padahal hasil 2 kilo itu jelas sehat dan yang 5 kilo tidak sehat. Sebenarnya sudah tahu. Tapi karena tuntutan hidup itu yang jadi sulit,” kata Sujono.

Sujono mulai membuat karakter wayang serangga sejak pertengahan 2000-an. Sebelumnya ia memang hobi membuat ukiran topeng-topeng kayu yang masih mengikuti pakem perwayangan.

Bertemu Wayang Serangga

Kembali ke tahun 1995. Setelah sekian lama vakum membuat topeng, Sujono meminjam uang Rp16 juta kepada kakaknya untuk membeli bajak. Hari-hari dihabiskan berpindah petak sawah, bekerja sebagai buruh pembajak sawah.

Di sawah Sujono membawa pahat dan kayu, sehingga waktu istirahat bisa dimanfaatkan untuk menatah topeng. Karakter yang dibuat masih berupa karakter pakem seperti topeng buto, kelono, dan lucon (topeng lucu).

Sekitar tahun 2007 dari sering melihat serangga di sawah seperti capung, orong-orong, dan gangsir, Sujono tebersit ide membuat topeng karakter kepala serangga. “Akhirnya numpuk banyak sekitar 50 karakter jenis serangga. Saya jual di studio Mendut tempatnya Pak Tanto. Laku.”

Baca juga: Darman, Pengrajin Wayang VS Pandemi

Topeng serangga kemudian dikembangkan menjadi tarian Topeng Saujana yang menggambarkan aktivitas segala serangga. Baru 3 tahun kemudian Sujono mendapat ide menciptakan karakter wayang serangga.

Kali pertama membuat wayang serangga, Sujono memanfaatkan bahan bekas karpet talang air. Berbekal 50 karakter wayang serangga, Sujono menerima tawaran menggelar pameran di Bentara Budaya Jakarta.

“Tahun 2011 sampai tiga kali saya pameran di Jakarta dengan karakter serangga yang berbeda-beda. Pameran sampai 3 kali, laku semua. Pembelinya waktu itu orang-orang Amerika. Indonesia malah belum.”

Dua karakter wayang serangga yang dibuat Sujono. Dalam satu set wayang serangga bikinannya biasa terdapat 50 karakter berdasarkan peran mereka di ekosistem alami sawah.

Seingatnya, sudah 5 set wayang berhasil dibuat yang masing-masing terdiri dari 50 karakter serangga. Tiga set wayang dikoleksi warga negara Amerika Serikat, pemilik museum wayang di Kemang, Jakarta Selatan.

Dua set wayang lainnya diboyong kolektor Vietnam dan Belanda. “Saya kalau bikin wayang nggak pakai mal. Kemarin saya jual wayang, sekarang saya bikin lagi nggak ada malnya. Pasti hasilnya nanti berbeda. Satu karakter tidak ada yang persis sama.”

Sujono menciptakan seluruh karakter wayang serangga berdasarkan pengamatan langsung. Dia telah mengumpulkan sekitar 50 karakter aneka jenis serangga.

Masing-masing karakter mewakili perannya di dunia serangga. Kecuali kepala, Sujono menambahkan aksesoris pada tubuh serangga untuk menegaskan perannya sebagai antagonis atau protagonis.       

Aksesoris dikreasikan mengikuti karakter serangga. Misal nyamuk yang mewakili hewan rakus, ditambah properti agar nyamuk kelihatan lebih kreng (sangar). “Ada sayap-sayap tambahan, kemudian mahkota. Ditambah jalu-jalu. Kebutuhan karya pentas itu sebenarnya.”

Karakter-karakter itu yang kemudian diolah dalang Sih Agung menjadi jalan cerita untuk dipentaskan. “Misalnya yang dianggap hama itu wereng. Padahal wereng itu dimakan oleh capung. Jadi ada rantai makananya sendiri,” ujar Sih Agung.

Banyak pula banyak serangga menjadi indikator kualitas lingkungan. Keberadaan capung dan kunang-kunang menandakan lingkungan sekitar belum banyak tercemar. Jagkrik dan gangsir menjadi indikator bahwa tanah di suatu wilayah masih subur.

Baca juga: Tabuhan Rancak Pengrawit Wayang Golek Pancanaka

Serangga berubah menjadi hama jika terjadi over populasi akibat penggunaan pestisida kimia secara berlebihan. Rantai makanan yang secara alami mengendalikan populasi serangga, menjadi tidak jalan. “Seperti sekarang tikus. Tikus itu tidak ada predatornya dan jadi puncak [rantai makanan]. Ular dan pemangsa lainya sudah berkurang termasuk karena banyak perburuan,” kata Sih Agung.

Wayang serangga kata Sih Agung membawa pesan supaya terjadi hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam dan ekosistem di sekitarnya. Sih Agung memasukkan wayang serangga dalam rangkaian seri pertunjukan wayang yang digelar pada masa pandemi Covid-19. Bulan Januari kemarin, Sih Agung menggelar pementasan wayang bertema “Donga Seko Gunung”.

“Sebetulnya berseri menurut angen-angen saya. Kemarin sudah ada pergelaran ‘Donga Seko Gunung’, sekarang ‘Donga Seko Sawah’. Dan dilanjutkan dengan ‘Donga Seko Kali’.

Setiap pementasan diadakan secara sederhana dengan durasi singkat. “Supaya kami [seniman] tidak ngelangut. Jadi perspektif kami tentang pentas itu tidak terlalu yang muluk-muluk,” kata Sih Agung Prasetyo.

 
Angga Haksoro Ardhi

Memiliki ketertarikan pada tulis menulis. Merupakan wartawan lepas di area Magelang.
instagram.com/angga.haksoro/

#Magelang #Wayang Serangga #Festival 5 Gunung #Kabupaten Magelang

Mari bergabung bersama kami, berkontribusi memajukan seni budaya Indonesia.

Klik di sini untuk mendaftar / login

Editor: Shuliya Ratanavara
Baca juga:
Upacara Adat Yadnya Kasada Saya Belum Jadi Guru yang Baik Bai Telpon dan Tato Mentawai: "Pakaian" yang Berangsur Punah Jalan Berliku Nita, Biduan Dangdut dari Cilacap